Site Meter
Versi Rapi
People come and go. Some you'll miss, some you'll forget, and sometimes you'll suddenly miss one you've forgotten.

I met someone on a job interview years ago. She came from a city hundreds miles far to the west. I was too, but on the opposite direction. On that small town we found the chemistry at no time at all. But then time happened. We had to go back to each other's city.

Time passed, we both got the job. I took it, but suprisingly she didn't. She got better job on Bandung, a city she'd always dreamt of for living. Well, we kept on contact, but after that time and distance naturally stopped it. Back to each other's life. From stranger back to stranger. But at the very end of our last talk she made me promise on one thing. That i will meet her anytime I travel to Bandung.

Anyway, that promise only stay as promise. I went to Bandung like million times after that, and not a single call done. I didnt even remember about her, until tonight.

Nowadays its hard to resist having your name and identity being shown on google. I'm not a stalker type, nor put "search people on google" on my hobby lists, but i admit i done it to her once, back years ago. Got everything, blog, tumblr, facebook, twitter, instagram, everything.

And now, sitting bored on a small coffeeshop on the corner of her beloved city, i put her name again on the searchbar. Just to know how her life going, what she wrote on her blog, has she finally married, with whom. Just to kill boredom. And you know what, i get nothing. Empty blog, deleted tumblr, no social media. She has a unique name so it supposed to be easy to find it on google. But no result except from her college site. Then i tried to reach her number, just to convince myself. Not working. Tried on all messenger apps too, just to found out she's not on my contact list anymore. But how can one vanish like a vapor? Changed her number, deleted all social medias and blog, dissapeared from messengers. I'm just curious if she's still living in this city. I stay just 1 km away from her office, but it seems that we will never meet again.

Well let it be. Some people are meant to come in our life for just one time. Some leave good memories. Some we just forget. Some leave marks we cant forget. Some just leave before we had a chance to say thank you or sorry. All we can do is  living the moment, feel the emotions, and wish the best for their life.


Sunday, February 19, 2017
Reading younger person's mind is easy. One advantage of being older is you have more experience on many things than them. History repeats, they do what you did, go where you went, say what you said, lie like you lied, you know it all too well. What's not easy is how would you act when you know they're doing mistakes you did. Especially when mistakes they do make impact to your very own life. Telling them your point of view is useless, they have their own. Best thing you do is to let them make mistakes. Let them learn the same way you did. And accept the karma. And maybe if you're lucky, they will let you say "what did i told you".

Okay ignore this post, keep scrolling :|



Saturday, October 15, 2016
Hi, sorry for discontinued post about that old flores overland trip. Yeah, I wasnt even post about the best parts of the trip yet, but believe me Komodo Islands' Live on Boat is gonna be one of your best trip experience in your life ;)

Anyway, have you ever starred at notepad for hours trying to write something but you have no clue of what you should write? I did, almost every single day in these past weeks. Or months, maybe. Being quiet in my room, stoned, staring the laptop's screen, freezing.

Bocah-bocah bolak-balik keluar masuk kamar bilang, Hello? Are you nut? Been 2 hours and you type nothing, your body is here but your mind is lost somewhere bla bla bla.

Writer's block, people call it. A state when a writer's brain presumably f*cked up too much that they cant reprhrase ideas or topics into writings. Tinggal dua setengah bulan sebelum ganti tahun dan gue masih punya selusin topik paper, makalah, dan kawan-kawannya yang harus ditulis. And this is it, writer's block perfectly pick the 'best' time to strike. Well, let me post some tulisan gak jelas di blog ini so this d*mn block would break. Hopefully.

By the way, people say starting is the hardest part, the rest will follow. But have you ever think if the start would be this hard, then the rest must be harder than this? Its not about writing anyway. Its about waiting. Waiting for the only thing you wait for the whole day but it never come. I hate the feeling when you start something that you know will not work. This just wont work and I knew that but I still stubbornly start it. Ah sepertinya saya butuh long solo travelling trip lagi..
     


Monday, October 10, 2016



Kelimutu, danau legendaris yang punya tiga warna. Merah, Biru, Hijau. Gitu sih yang dulu gue pelajari waktu SD. But my whole life is a lie, karena sesampainya kami di sana kenyataannya nggak seperti itu -_-

Pukul 4 pagi kami berangkat dari Desa Moni memasuki Taman Nasional Gunung Kelimutu. Menggunakan mobil si Om tentunya. Bisa sih ngojek, tapi mumpung ada supir gratisan kenapa enggak, hehe. Jalan yang kami lalui masih sama, gelap, curam, dan berliku. Jarak 15 km antara Moni dengan Kelimutu kami lalui selama sekitar 40 menit dalam gelap, sebelum akhirnya tiba-tiba muncul sebuah bangunan yang merupakan pos masuk daerah wisata Gunung Kelimutu. Nggak terlalu banyak mobil yang kami temui di area parkir. Entah kami kepagian atau memang sedang sepi pelancong. Dan walaupun termasuk dataran tinggi anehnya udaranya nggak terlalu dingin, nggak sedingin udara di Ruteng pada malam sebelumnya.

Sampai di sana Friska segera membeli tiket dan mengisi buku tamu. Name : Friska. Nationality : INA. From : Semarang. Diisinya kolom-kolom di buku tamu itu dengan bangga, haha. Iyalah, hampir 2000 km jauhnya dari rumah dan ditempuh dengan perjalanan darat itu lumayan bisa dibanggakan.  Cuman yang bikin rada canggung itu harga tiket masuknya. Tiket masuk ke kawasan Danau Kelimutu harganya cuma lima ribu perak. Jauh-jauh ke sini, habis budget segini banyak untuk sampai, hanya untuk beli tiket seharga Rp.5000! Semacam ironi gitu.

Kemudian dengan bergegas kami menuju anak tangga di tempat awal memulai pendakian. Hari masih gelap dan jalan menuju ke puncak nggak terlalu jelas. Dengan bantuan senter kami mulai naik pelan-pelan. Nggak terlalu jauh memang untuk naik ke puncak, namun jarak 200 meter tanjakan pertama cukup membuat napas gue tersengal dan ketinggalan di belakang. Tapi nggak masalah, toh pada akhirnya tetep gue yang pertama kali sampai di atas. Malu dong kalo sampai kalah sama yang muda :D

Langit mulai terang ketika kami menapaki anak-anak tangga terakhir menuju tempat pandang utama. Sedikit bergegas kami menaiki tangga terakhir untuk mengejar sunrise. Membuat timelapse sunrise di kelimutu itu wajib hukumnya.Dan tepat beberapa saat setelah kami sampai, sunrise yang kami kejar akhirnya muncul juga. Segera kami menyiapkan kamera-kamera kami. Time to timelapse!




Nggak banyak sih hal yang bisa dilakukan di sana selepas sunrise. Ngopi, selfie, ngerekam video, dan mungkin sekedar ngobrol dengan pengunjung lain.



By the way konon sejak 100 tahun yang lalu, salah satu danau di sana sudah pernah berubah warna sebanyak 44 kali. Sementara dua danau lainnya sudah berubah warna sebanyak 25 dan 15 kali. Namun sayangnya ketika kami ke sana ketiga danau tersebut berwana hijau, meski dengan intensitas yang berbeda-beda. Ada yang hijau muda, hijau kebiruan, dan satu lagi hijau gelap.

Dan ketika langit mulai terang kami pun turun untuk kembali ke Moni, mengepak barang, dan menempuh 50 kilometer berliku lagi untuk balik ke Kota Ende. Rencananya malam ini kami akan menginap di Ende, sekedar untuk menikmati nyamannya kasur, membuang waktu dan bermalas-malasan melewati sisa hari ini.

Sampai di Ende kami segera mancari penginapan. Kami susuri jalan di sekitar Bandara Ende sampai akhirnya kami temukan salah satu penginapan yang murah meriah, cuma 100 ribu per kamar. Sengaja kami mencari penginapan dekat bandara, karena besok pagi-pagi sekali kami sudah harus flight kembali ke Bajo. Iya, akhirnya kami putuskan untuk kembali ke Labuan Bajo menggunakan pesawat. Selain untuk menghemat waktu - ini sudah hari kelima dari 11 hari yang kami punya - alasan utamanya karena kami enggan dikocok lagi di jalanan berkelok-kelok antara Ende-Bajo seperti kemarin -_-

Siang itu kami habiskan dengan tiduran di kamar penginapan yang serasa sauna. Ende panas banget! Sepanas siang bolong di Surabaya, bahkan mungkin lebih. Jadi kami sepakat siang itu kami habiskan dengan tepar di kamar masing-masing. Bukannya kami manja, tapi dengan cuaca sepanas itu backpacker paling tangguh pun bakal neduh, percaya deh.

Sore hari kami akhirnya keluar juga dari penginapan untuk menikmati suasana Kota Ende. Kotanya lumayan menyenangkan. Jarang-jarang ada sebuah kota yang punya pemandangan gunung dan pantai sekaligus. Di utara terlihat gunung dan bukit berjejer-jejer seolah kota itu tepat berada di kaki gunung. Namun ketika kita melihat ke selatan, pantai biru nan luas terbentang.

Sore itu akhirnya kami bisa menikmati sunset properly, nggak dikejar-kejar waktu, nggak perlu kepikiran hal-hal lain. Kami berpencar berjalan sendiri-sendiri menikmati penghujung hari dengan cara kami masing-masing. Tika dan Friska berjalan-jalan ke ujung dermaga, rezky sibuk dengan kamera dan timelapsenya, si om entah kemana, sementara gue duduk di dermaga sambil memasang headset dan mendengarkan lagu. Sekilas melintas perasaan yang aneh. Di daerah yang sama sekali asing, bersama orang-orang yang baru gue kenal 5 hari. Sendiri, tapi nggak sendirian. Matahari hampir tenggelam membuat langit begitu jingga, suara ombak mengalun merdu melengkapi, penduduk lokal bermain-main di tepi pantai. Ingatan tentang hari-hari biasanya, rutinitas-rutinitas biasanya, pikiran-pikiran tentang kerjaan, hilang entah kemana.

Di luar pelabuhan ada sebuah pasar tradisional yang sudah mulai tutup. Setelah sunset buru-buru kami ke pasar itu untuk mencari kain tenun khas Ende. Di pinggir jalan terlihat pedagang kain yang berjualan menggunakan sebuah mobil Avanza sebagai "toko"nya. Si bapak pedagang sedang membereskan dagangannya bersiap-siap menutup "toko"nya. Buru-buru kami datangi si bapak, memilih-milih kain yang belum sempat dipacking kembali ke dalam mobil. Akhirnya si bapak mengalah dan mau melayani kami sejenak. Tapi yang namanya cewe kalo belanja emang nggak bisa sebentar. Hari sudah gelap, Friska dan Tika masih belum selesai milih-milih, tapi si bapak sudah harus pulang. Akhirnya, you know what, mereka berdua ikut pulang sama si bapak pedagang kain dong! Nebeng "toko berjalan" si bapak -_-

Kami sisanya mau nggak mau musti menyusul ke tempat si bapak pedagang kain tenun dengan mobil si Om. Sepanjang perjalanan si Om ngoceh, gimana kalo diculik, ini tempat asing, hati-hati, bla bla bla. Gue sih cuek. Maklum si om bukan backpacker, jadi nggak terbiasa dengan spontanitas macam itu. Dengan berbekal location yang dikirim, akhirnya kami sampai juga di tempat si bapak pedagang kain. Ternyata si bapak punya toko beneran di dekat bandara. Dan yang pasti, mereka berdua selamat sentosa, nggak jadi korban penculikan, haha.

Hampir satu jam kami menunggu ibu-ibu belanja. Mereka berdua akhirnya keluar dari toko dengan beberapa kantong belanja besar, sambil senyum-senyum. "Eh, kita semua mau dianterin makan malem sama si bapak loh, nyari ikan bakar!" Seriusan, si bapak dagang kain tenun beneran mau nganterin kami makan ikan bakar di pantai, dengan "toko berjalan"nya yang sudah kembali jadi mobil biasa. Tentu saja dengan senang hati kami menerima tawaran itu.

Dan begitulah, kami balik lagi ke pantai nggak jauh dari pelabuhan sore tadi untuk makan ikan bakar. Dengan mobil si bapak. Diantar oleh anaknya yang masih SMA. Si bapak sendiri nggak ikut karena masih sibuk mengurusi toko benerannya. Well, biasanya kita emang musti waspada sama orang yang belum di kenal, apalagi di daerah yang sama sekali baru. Tapi terkadang nggak ada salahnya kok mempercayai orang lain.

Kami makan malam ikan bakar dan teman-temannya di semacam foodcourt di Pantai Ria, sebelahan sama pelabuhan. Makan enak (lagi), sekedar merayakan malam terakhir di Ende. Malam terakhir bersama si Om juga. Mulai besok kami sudah harus berpisah jalan. Si Om bakal balik ke Pelabuhan Aimere, menunggu ferry yang akan menyeberang ke Kupang hari Sabtu nanti. Sementara kami balik ke Bajo untuk melanjutkan itinerary kami. Dan yang namanya merayakan perpisahan itu selalu terasa aneh. Perpisahan kenapa harus dirayakan? Entahlah. Yang pasti setelah ini kecil kemungkinan kami akan bertemu lagi dengan si Om, seumur hidup, karena meskipun dalam 5 hari terakhir selalu bersama, kami sama sekali nggak saling tukar nomor kontak. After all, hitchhiker is hitchhiker. Cuman numpang sampai tujuan, kemudian ciao. Haha. Begitu juga dengan kota Ende. Setelah beberapa lama nama Ende terngiang-ngiang di pikiran kami sebagai tujuan utama yang sangat kami dambakan untuk cepat-cepat sampai waktu overland dari Denpasar kemarin, akhirnya dengan segara harus kami tinggalkan kembali.

Well, saat itu, waktu main-main air di Pantai Ria sembari menunggu makan malam disajikan, gue mikir, apakah gue bakal bisa balik lagi ke sini? Kalaupun iya, apakah rasanya masih akan sama seperti saat ini? Kalaupun bener suatu saat gue bakal balik lagi, pastinya bukan bareng Friska, Tika,Rezky, dan si Om. Pastinya rasanya bakal berbeda. So this is the only moment of our time, lets just relive it forever. Moments fades, but memories lasts.

Bersambung.

Monday, February 8, 2016
Ruteng. Gue rada familiar dengan nama ini, gara-gara dulu beberapa tahun yang lalu temen kantor (mantan kantor sih tepatnya) dapat jackpot penempatan di cabang Ruteng. Kalo dulu, kesan yang gue dapat sih Ruteng itu kotanya panas, berdebu, terbelakang, lengkap dengan savana dan padang rumput kecoklatan sejauh mata memandang. Dan joke klasik itupun samar-samar masih gue inget: "Nanti kita main-main ke sana deh, nengokin elu kalo udah jadi kepala cabang di sana". Well siapa sangka ternyata malam ini gue bener-bener berada di sana memandangi si kantor cabang dari dalam mobil, sembari googling mencari info tentang penginapan di kota itu.

Ruteng ternyata 180' terbalik dari apa yg gue bayangkan. Ruteng itu dataran tinggi, berbukit-bukit, hijau, dan dingin banget. Baru setengah 10 malam tapi kota kecil itu sudah begitu sepi. Setelah mondar-mandir dan menelepon semua nomor penginapan di Ruteng yang kami temukan di Google, dan sempat hampir menyerah dan berniat nekat melanjutkan perjalanan, akhirnya kami menemukan sebuah penginapan bernama Hotel Rima. Nggak terlalu bagus, bergaya etnik dengan dinding dan lantai yang terbuat dari kayu, tapi well penginapan murah macam apa sih yang bisa diharapkan ada di kota kecil begini. Setidaknya kami bisa sekedar rileks setelah 2 hari perjalanan non stop. Penginapannya sendiri nggak jelek-jelek amat, bernuansa backpacker dengan kamar bertempat tidur bertingkat,  sofa lebar dan meja untuk duduk-duduk, bar, informasi wisata, walaupun semua fasilitasnya ya sederhana sesuai harganya yang cuma 200rb per kamar. Pengunjungnya pun rata-rata pelancong dan backpacker, termasuk beberapa wisatawan asing, jadi bukan penginapan semacam hotel melati yang.....you know lah.

Hari berikutnya kami melanjutkan perjalanan ke Ende. Yak, tinggal setengah hari perjalanan lagi sebelum sampai di tujuan pertama kami. Namun walaupun cuma setengah hari, bukan berarti perjalanan di depan bakal mulus-mulus aja. Dari Google Maps kami sudah bisa bayangkan bakalan seperti apa nanti di jalan. Ruteng dan Ende dipisahkan oleh jalur yang bakal mengocok kami lebih dari sebelumnya lihat saja di peta, jalanan panjang yang berliku-liku, berputar-putar, dan naik turun, yang belum pernah gue lihat di peta manapun sebelumnya.




 Ini jalan raya apa mie kriting? -_-

Walaupun begitu, ada beberapa saat dimana pemandangan sepanjang jalan begitu indah. Dari atas bukit kami dapat melihat hamparan laut biru yang cantik. Memang nggak ada yang lebih keren dibanding view tebing-tebing tinggi, bukit menghijau, dipadu dengan birunya lautan sebagai latarnya.
Singkat cerita, diselingi beberapa kali mampir di pantai tak bernama yang belum terjamah, pukul 3 sore kami sampai juga di Ende. Setelah 3 hari perjalanan panjang dari Denpasar, melewati berbagai macam jalur darat dan laut, tak terbayangkan begitu lega rasanya ketika melihat tulisan Selamat Datang di Ende. Finally, there we are!

Hal pertama yang kami lakukan di Ende adalah mencari pelabuhan untuk si Om menyeberang ke Kupang. Rencananya kami akan berpisah di pelabuhan. Si Om melanjutkan perjalanan ke Kupang, sementara kami naik angkot ke Desa Moni, tujuan kami selanjutnya.

Setelah beberapa kali bertanya pada penduduk sekitar, akhirnya kami sampai juga di pelabuhannya. Sampai di sana gue rada ngerasa aneh, pelabuhannya sepi banget. Hampir nggak ada aktivitas seperti di pelabuhan-pelabuhan utama lainnya. Nggak ada loket, nggak ada keramaian sama sekali. Akhirnya kami pergi ke kantor pelni di sana dan bertanya. Dan, yak, terjawab sudah kenapa pelabuhannya begitu sepi. Pelabuhan itu bukan pelabuhan utama, semua aktivitas sudah dipindah ke pelabuhan aimere, berpuluh-puluh (atau bahkan seratusan? Entahlah) kilometer dari sana. Lucunya, daerah aimere sudah kami lewati tadi. Itu artinya si Om harus balik lagi, melewati jalanan ekstrem berjam-jam lagi. Dan yang bikin kaget lagi, ternyata kapal ferry ke Kupang nggak jalan setiap hari! Jadwal kapal berikutnya adalah hari Sabtu. Padahal haribini masih Selasa. Itu artinya si Om masih harus menunggu 4 hari lagi. Gubrak. Entahlah siapa yang salah. Kami, yang yakin banget kalau kapal ferry ke Kupang menyeberang dari Pelabuhan Ende, atau si Om, yang asal berangkat aja tanpa planning jadwal yang matang. Yang pasti kami jadi makin sadar kalo perencanaan itin yang matang itu wajib kalau kamu pergi ke daerah yang sama sekali asing.

Well, akhirnya dengan sedikit rayuan, kami berhasil mengajak si Om untuk ikut bareng kami ke Moni sambil menghabiskan waktu. Okay, kami setengah nakal juga sih memanfaatkan situasi, sehingga kami nggak perlu repot-repot cari angkutan umum ke Moni dan Kelimutu esok harinya. Cukup mengajak si Om yang lagi galau untuk mengantar kami dengan sepik-sepik daripada nungguin 4 hari sendirian. Dan voila, akhirnya kami benar-benar diantar sampai ke Moni yang jaraknya 50 km dari Ende. Haha.

Sekitar pukul 5 sore kami berangkat ke Moni. Sekitar 2 jam perjalanan yang kembali meliuk-liuk antara bukit dan tebing, kami sampai di Moni. Desa Moni adalah desa terdekat dari kawasan Taman Nasional Gunung Kelimutu (TNGK). Di sinilah biasanya para pelancong bermalam sebelum esok paginya naik ke Kelimutu. Kami menginap di homestay bernama Daniel Lodge. Fasilitasnya lumayan oke dibanding penginapan-penginapan murah lain di sekitar sana. Kamarnya lumayan bersih, lega, bangunan baru, ada parkirannya, ada air panas, sarapan roti bakar dan selai, pisang, minuman hangat. Tarif aslinya 320rb per kamar, tapi berhubung kami datang malam-malam, daripada kosong akhirnya kami dapat harga 200rb. Lumayaan.


Setelah keluar sebentar untuk sarapan, kami langsung balik ke penginapan dan tewas karena besok pagi-pagi sekali kami harus bangun dan naik ke Kelimutu.

Bersambung.



Sunday, January 24, 2016
Selasa, 29 Desember 2015

Pernah bayangin gimana rasanya mengemudi pada pukul 2 dini hari kemudian berhenti mendadak karena ada segerombolan kuda liar yang 'parkir' di tengah jalan? Dan 1 kilometer kemudian mengerem mendadak lagi gara-gara ada gerombolan sapi juga parkir di tengah jalan. Dan setelahnya ada gerombolan kerbau, gerombolan anjing, gerombolan kambing semuanya bergantian tidur cantik atau melintas seenaknya di tengah jalan. Kedengerannya nggak biasa, tapi kalau kamu mengemudi 1500 kilometer di timur Jakarta, tepatnya di jalan raya lintas pulau Sumbawa, pemandangan seperti itu bukan lagi hal yang aneh. Nggak terhitung lagi berapa kali kami mengerem mendadak saking seringnya gerombolan hewan melintas ketika kami melintasi setengah Pulau Sumbawa.

Setelah menerobos lintasan dengan parade hewan macam safari tengah malam itu selanjutnya kami harus berkendara di jalan penuh tikungan, gelap tanpa lampu jalan, menanjak dan menurun melintasi bukit dan jurang. Gue sama sekali belum dan nggak bisa tidur gara-gara cara mengemudi si Om yang shitty, 130km/jam di jalanan macam itu, menggeber mobil dengan kecepatan tinggi tanpa aba-aba dan kemudian secara tiba-tiba menginjak dalam-dalam pedal rem  seenak jidat. Kalo berkendara sendiri sih oke-oke aja, tapi kalau kamu punya penumpang bisa dipastikan penumpang kamu bakal mual-mual nggak keruan. Tapi mau apa lagi, kami nggak bisa protes. Kami cuma hitchhiker yang nggak mau diturunin ditengah jalan karena protes cara mengemudi si empunya mobil -_-

Dan ketika saatnya giliran gue mengemudi kondisi jalanan nggak bertambah baik. Setelah melintasi padang savana yang gelap, jalanan kembali melintasi bukit. Kalau kamu tau ekstremnya mengemudi di Gunung Gumitir, antara Banyuwangi-Jember di malam hari, kondisi jalan yang kami lalui nggak jauh-jauh dari itu. Sama ekstremnya. Bedanya, perjalanan naik turun bukit disini jauh lebih panjang dan lama dari waktu tempuh di Gunung Gumitir. Plus gue yang belum memejamkan mata sedikitpun sejak kemarin mulai kehilangan setengah nyawa. Nekat? Iya, sedikit. Manusia-manusia lain sudah tidur nyenyak di jok masing-masing, jadi gue merem dikit juga nggak akan ada yang protes. Untungnya Tika yang duduk di jok depan sesekali bangun dan menemani ngobrol. Kalo enggak, bisa-bisa gue juga ikutan tidur deh.

Sekitar 7 jam kemudian kami sampai di Pelabuhan Sape. Labelnya sih "Pelabuhan", tapi jangan bayangin pelabuhan semacam Merak atau Gilimanuk. Di sini, yang namanya pelabuhan itu cuma sekedar tanah lapang yang penuh dengan truk-truk logistik parkir menunggu giliran menyeberang, beberapa kios dan warung, dan sebuah dermaga. Dengan genangan-genangan air dan tanah becek, sampah dimana-mana, burung-burung merpati liar, kambing-kambing bebas berjalan-jalan dan memakan sampah dan kertas, tempat ini lebih mirip pasar tradisional daripada pelabuhan. Well, kamu tinggal di Jakarta dan masih sering mengeluhkan fasilitas publik yang kurang-begini kurang-begitu? Sesekali main-main deh ke timur, seketika kamu akan bersyukur tinggal di Jakarta. Bayangin, satu-satunya pelabuhan yang membawa truk-truk muatan logistik dari Sumbawa ke Flores, fasilitasnya minim, cuma punya satu dermaga, satu keberangkatan kapal dalam sehari. Belum lagi antrean masuk ke kapal yang enggak banget, suka-suka petugas pelabuhannya. Ditambah dengan biaya menyeberang yang nggak murah. Kami berlima plus mobil kena 1,35 juta. Contoh yang sangat-sangat nyata tentang terjadinya kesenjangan sosial akibat pembangunan infrastruktur yang nggak merata di negeri ini.

Oke skip. Penyeberangan dari Sape Sumbawa ke Labuan Bajo Flores yang memakan waktu sekitar 6 jam lagi-lagi kami habiskan dengan tidur menggelar sleeping bag di atas dek kapal. Setelah beberapa jam berlayar, kapal mulai melintasi pinggiran gugusan Pulau Komodo dan kawan-kawan. Terlihat bukit-bukit gersang Pulau Komodo dan Rinca berdiri gagah di bawah langit biru cerah. Ssetelah 2 hari perjalanan akhirnya aroma liburan mulai terasa, yay. Sekedar bocoran indahnya gugusan Pulau Komodo untuk kami sebelum benar-benar ke sana. Saat ini kami cuma lewat, karena setelah kapal bersandar kami akan kembali melanjutkan perjalanan ke Ende yang masih jauh di timur. Iya, tujuan pertama kami adalah Kelimutu, sang danau legendaris 50 km dari Ende.

Kapal merapat di Labuan Bajo sekitar pukul 4 sore. Kemudian ketika melanjutkan perjalanan, kami temukan bahwa ternyata jalanan di Flores lebih ekstrem dari Sumbawa. Jalanan utama lintas pulau Flores nggak sebagus yang kami bayangkan. Jalannya sangat sempit untuk ukuran jalan utama. Sempit, menanjak, dan berkelok-kelok nggak keruan. Setelah lima jam kami serasa dikocok dalam mobil, sekitar pukul 9 malam akhirnya kami sampai di Ruteng, kota kecil di tengah-tengah pulau Flores. Satu-satunya kota yang kami temui setelah menerobos jalanan berbukit-bukit dan hutan selepas dari Bajo. Sempat kami berpikir untuk nekat melanjutkan perjalanan, namun sayangnya kondisi si mobil matic yang overheat gara-gara dipaksa ngebut di tanjakan selama berjam-jam akhirnya memaksa kami berubah pikiran dan bermalam di Ruteng. Well, esoknya kami bersyukur mengambil keputusan untuk menginap di Ruteng, karena ternyata jalanan paling ekstrem sudah menunggu di Timur Ruteng.

Saturday, January 16, 2016
23:24 WITA. Kami sedang berada di atas kapal ferry Lombok-Sumbawa. Ini kapal ferry ketiga yang kami naiki hari ini, setelah ferry Jawa-Bali dan kemudian Bali-Lombok. Masih ada satu jam lagi sebelum kapal berlabuh di Pelabuhan Pototano, Sumbawa. Tika dan Friska menggelar sleeping bag di atas dek kapal dan kemudian tewas di bawah bintang-bintang dan bulan purnama. Rezky dan Om Candra sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Mereka partner jalan gue kali ini, manusia-manusia yang baru saling bertatap muka untuk pertama kalinya pagi tadi.

Meet-up di Terminal Ubung tadi pagi, kami berempat, gue, Friska, Tika, dan Rezky, berencana overland jauh ke timur hingga Pulau Flores. Rencana awalnya kami berniat bus jumping dengan rute Denpasar-Mataram-Bima-Sape-Labuan Bajo-Ende. Tapi entah gimana ceritanya ternyata Tika dan Friska dapat tebengan dari Om Candra, manusia yang nggak sengaja kami temukan di Terminal Ubung. Si Om berencana mengantarkan mobil milik bosnya ke Kupang sendirian. Buta peta, buta arah, dan butuh teman di perjalanan, butuh gantian nyetir. Akhirnya berkat sepik-sepik mereka, jadilah kami berempat hitchhiking nebeng si Om. Nggak tanggung-tanggung, setelah sedikit rembukan akhirnya kami putuskan untuk nebeng sampai Ende. Menurut Google Maps jarak dari Denpasar ke Ende di Flores itu 1093 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 3 hari! Gue pernah beberapa kali hitchhiking nyetop truk, mobil barang, bahkan motor, tapi baru kali ini ngerasain hitchhiking sampai sejauh itu, haha.

Dan, well, satu hari sudah terlewati dari perkiraan 3 hari overland ke Ende, dan sejauh ini masih fine-fine aja. Entah bagaimana nanti kedepannya. Masih ada 10 hari lagi kami harus bersama dan siapa bisa jamin kami bakal cocok dengan karakter masing-masing. Manusia memang makhluk sosial, tapi kalau bareng terus setiap saat dari bangun pagi sampai mau tidur lagi, pasti bakal muncul juga rasa jenuh. Well we'll see.

By the way sore tadi temen-temen kost gue ngevideo call, nanyain gue ngilang kemana. Gue memang pergi nggak pamit sama mereka, kabur begitu saja. Faktanya emang gue lagi males pamer-pamer mau jalan, dan nggak ada yang tau gue mau pergi kemana. Mereka tanya kapan balik, lagi pada pesta rambutan, nyuruh gue cepet-cepet pulang. Ngebayangin masih 11 hari lagi nggak ketemu mereka, seketika setengah hati gue pengen balik pulang, haha. Walaupun seringnya nyebelin gimanapun juga gue akui they DO care. Belum 24 jam gue ngilang mereka udah nyariin. Well, sometimes some people just love to pretend to care but in fact youre not worth even for 1 minute of their precious time. Some people just love to tell you they care but failed to understand that caring is about what they do, not what they say. If you're not worth a minute of their time, then they're not worth to stick around on your life time. That's the basic rule.

Okay skip that. Anyway sebenernya gue nyadar posting ini rada gaje, almost pointless. Tapi gara-gara seseorang sukses bikin gue janji buat nulis next trip gue di blog ini akhirnya mau nggak mau gue bakal sering posting tulisan gaje selama trip kali ini. Well, a promise is a promise. So see ya.
Sunday, December 27, 2015


It seems i'm on a strange yet familiar situation right now. Late night at a small bus station, people is gazing curiously. Should be in hurry to catch time to meet some people 193kms away from here, but still, i'm sitting here blogging.

Tahun 2015 tinggal 5 hari, dan dalam 365 hari terakhir gue baru posting 3 kali di blog ini. Krik.. Ketika kerjaan kamu sehari2 menulis menulis dan menulis laporan, makalah, slideshow, dan kawan-kawannya, bisa dipastikan selera ngeblog kamu bakal menguap.

And it takes night like this for my bloging mood to come.

By the way, sometimes a tought slip pass through my mind. I wonder how can people live in this dull bored world. Crap TV shows, joke political news, showing-off lifestyle, people just love being smart-ass even on things they dont really know. Some say "anyone who judges you by the kind of car you drive or the shoes you wear isn't someone worth impressing", but hey, what can you do if you live on that kind of society? After all, dull is dull. Bank loan to effort your brand new car is silly, especially when there's only Rp 4 millions are written on your payroll. But that's the kind of society i live on. The silly one.

And then, word " friend" in dull world means break promise easily, pretend to care but not care enough, being nice in front of you but talks about you behind the door, etc etc etc.

Ah sudahlah. Sebenernya gue cuman mau posting tentang betapa ngaconya perjalanan gue kali ini. Selama ini, tiap ngetrip gue selalu main cantik. All out nyusun itinerary yang high precision, koleksi puluhan kontak penginapan dan transportasi, menghitung budget sedetail mungkin, dan yang pasti paling anti ngetrip di musim hujan karena pemandangan dengan langit mendung atau berawan tanpa warna biru nggak sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Tapi kali ini gue bener-bener skip itu semua. Overland sampai 11 hari kedepan tanpa rencana, tanpa bayangan gimana-gimananya nanti, tanpa kebayang budget berapa, bener-bener tanpa persiapan apa-apa.

And the crazy thing is the idea just came out last night, with some strangers i just know last night, and now here i am, waiting for next bus to start the journey.

My domestic friends would call it crazy but fortunately i've had enough listen them talking for now. Believe it or not, sometimes strangers are better than friends on understanding, keeping promises, and accept you the way you are.

Well then, the bus is waiting. See ya.
Saturday, December 26, 2015

Dari sekian banyak blog yang gue baca tentang Gili Labak, nggak ada satupun yang bilang tempat ini jelek. Well, apa bagusnya sih Gili Labak? Okay, pasirnya putih dan halus, lautnya punya gradasi turquoise dan biru, dan pantainya cukup landai untuk bermain air. Tapi nggak ada yang "wow". Disana gue lihat tumpukan sampah dimana-mana, semak-semak yang rusak karena dijadikan camping ground, populasi terumbu yang rusak. Belum lagi dua puluh (iya, dua puluh!)  kapal  berjejer-jejer melempar jangkar yang merusak terumbu dan memenuhi pulau sekecil itu dengan pengunjung sebanyak mungkin. Itu belum termasuk "snorkel set" yang hanya life vest dan masker, kapal penangkap ikan tua yang tanpa tangga, tanpa layar, tanpa atap, dan diisi penumpang sepenuh mungkin sampai overload. Semacam masyarakatnya belum siap untuk menjadi tuan rumah dari sebuah tempat wisata.  

Seinget gue, jaman-jamannya travelling belum seramai sekarang, gili labak itu destinasinya orang-orang setengah gila yang nggak puas dengan destinasi-destinasi mainstream yang gampang dicapai. Seinget gue dulu nyari kapal sewaan untuk menyeberang ke sana rada susah dan mahal. Well, thanks to facebook, instagram, path, dan sosial media lainnya yang bikin trend upload profile picture pas lagi travelling itu jadi wajib. Jadi makin banyak orang yang tetiba jadi "backpacker", yang membuat obyek-objek wisata alternatif jadi makin terekspose. Alhasil makin banyak yang tau, dan ujung-ujungnya akses transportasi lebih gampang dan budget jadi lebih ramah di kantong.

By the way, Gili Labak itu sebuah pulau kecil di selatan Madura. Saking kecilnya, dijamin kalian bakal kesulitan menemukannya di Google Maps.

Tuesday, August 4, 2015
rei@2015
My Photo
Anywhere walker.
Small town minds.

Blog Archives