Site Meter
Versi Rapi
Rammang-Rammang, Potensi Heritage Dunia yang Terlupakan
Siapa yang pernah dengar Rammang-Rammang? Bahkan supir angkot daerah sana pun nggak tahu. Apa itu taman batu karst? Apa itu potensi heritage dunia? Itu cuma tumpukan kapur yang sebentar lagi hilang, dieksploitasi menjadi bahan baku oleh pabrik semen.
Welcome to Indonesia!

Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah Bugis. Maklum newbie, hehe. Sebenarnya tujuan utama saya jelas, mengintip daerah bawah laut kepulauan di sekitar Kota Makassar. Dan kalau bisa sampai ke Tanjung Bira. Denger-denger sih lumayan banyak spot yang worthed untuk dipakai mandi-mandi. Snorkling gear sudah standby di dalam ransel, tinggal menunggu aba-aba untuk nyebur :D

11 April 2013, saya berangkat ke Makassar via Surabaya, sendirian. Nantinya sih bakal keliling-keliling berdua sama Kiki, teman yang berangkat dari Jakarta. Rencananya kami bertemu di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Dan kami cuma modal nekat, karena sama-sama baru pertama kali ke Makassar. Cuma berbekal itinerary kemarin, budget yang sangat-sangat mepet, dan sedikit kegilaan akan turquoise-nya lautan dangkal, putihnya pasir pantai, dan warna-warni terumbu bawah laut.

Bahkan sesaat sebelum landing saja, pemandangan laut lepas dan kepulauan kecilnya sudah memanggil-manggil. Indahnyaa..






Hehehe, stop. Sebenernya di sini saya bukan mau bercerita tentang laut. Tapi tentang Rammang-Rammang, sebuah dusun di perbatasan Maros - Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Sekitar 40 km di utara Kota Makassar. Lantas ada apa dengan dusun ini? Di dusun ini terdapat "taman" batu karst yang sangat luas. Tebing-tebing karst (kapur) berjejer membentang membentuk sebuah landscape unik yang jarang ditemui di tempat lain. Tebing-tebing karst ini diperkirakan terbentuk beberapa juta tahun yang lalu oleh aktivitas lempeng bumi yang bergeser.

Dan yang bikin spesial, konon katanya daerah ini adalah kawasan karst terbesar ketiga di dunia, setelah Kawasan Karst China Selatan dan Ha Long Bay Vietnam. Bedanya, kalau dua yang di luar negeri itu sudah jadi National Park dan jadi UNESCO World Heritage, kawasan karst Rammang-Rammang ini malah teronggok di tengah sawah, terlupakan oleh tuan rumahnya sendiri. Masa iya terlupakan? Baca deh FR saya, nanti kalian bakal ngerti.

Sekitar pukul setengah 11 pagi, kami ketemuan di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Tujuan pertama kami adalah Rammang-Rammang, karena memang letaknya berlawanan arah dengan Kota Makassar. Posisi bandara ada di tengah-tengah antara Kota Makassar dengan Rammang-Rammang. Kalau dari bandara ke kota kira-kira 20 km ke selatan, sementara dari bandara ke Rammang-Rammang sekitar 20 km ke utara. Jadi daripada bolak-balik ke kota dulu, lebih praktis kalau dari bandara langsung ke Rammang-Rammang.

Keluar bandara kami diantar ojek sampai jalan poros. Sebenarnya ada damri atau shuttle bus gratis dari bandara ke jalan poros/jalan besar, tapi karena nggak ingin membuang waktu menunggu bus kami pilih naik ojek saja. Sampai di jalan besar, kami naik pete-pete (angkot) jurusan Kota-Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Dari jalan besar ke Rammang-Rammang cukup naik pete-pete sekali saja, sekitar 30 menit sampai 1 jam. Dan jangan bilang ke sopir pete-pete, mau turun di Rammang-Rammang! Kenapa? Karena supirnya kadang nggak ngerti Rammang-Rammang itu di mana. Jadi?

Sekitar setengah jam dari bandara, pete-pete kami melewati daerah Maros. Di situ saya bilang pada supir pete-pete, "Turun di Rammang-Rammang ya pak".
Dan tau jawabnya? Si supir malah balik bertanya, "Rammang-Rammang itu dimana ya?".
Hah. Saya dan Kiki saling berpandangan. Nah loh, turun di mana dong?

Untungnya saya ingat pernah baca blog orang, turunnya di pertigaan pabrik semen Bosowa. Akhirnya saya bilang, "pertigaan semen Bosowa pak".
Dan si supir pete-pete langsung tau. "Ooh, iya mas", jawabnya.

Dari sini saya sudah rada heran, masa iya supir angkot di sini aja nggak tau Rammang-Rammang, karst terbesar ketiga di dunia?   

Sekitar pukul 11 lewat kami sampai juga di pertigaan pabrik semen Bosowa. Dari kejauhan sudah terlihat tebing-tebing karst yang berdiri megah. Berjajar rapi dari kiri ke kanan, menampilkan pemandangan yang nggak biasa.



Dari pertigaan ke dusun Rammang-Rammang masih berjarak 1,5 km lagi. Nggak jauh sih sebenernya kalau ditempuh dengan jalan kaki. Tapi lagi-lagi kami pilih ojek untuk menghemat waktu. Maklum, judulnya kan flashpacking, hehe. Kami putuskan untuk naik ojek langsung ke pinggir sungai, melewati taman batu yang membentang di sisi jalan. Iya, rencananya kami akan langsung menyusuri sungai dengan perahu dulu, baru nanti pulangnya mampir ke taman batu. Di pinggir sungai kami menyewa perahu unttuk mengantarkan kami menyusuri sungai.

Sebenarnya siang itu nggak ada warga yang mangkal menyewakan perahu. Semua warga sibuk bertanam di sawah. Tapi kami nggak menyerah begitu saja. Di saat-saat seperti inilah gunanya bergaul sama tukang ojek :p akhirnya tukang ojek yang mengantar kami jadi kesana-kemari keliling nyariin warga yang punya perahu untuk kami :D

Jadi kalo kalian-kalian ada rencana mau ke Rammang-Rammang, nggak ada salahnya untuk kontak ojek yang saya pakai, buat transport atau sewa perahu. Ini kontaknya 0853-9923-9516. Tarif perahunya standar Rp 100ribu.

Sambil nunggu perahu datang, kami ketemuan sama Ancha, momod forum sebelah, Backpacker Indonesia, yang biasa ngehost para backpacker di Rammang-Rammang. Sebenernya saya bukan anggota BPI sih, tapi siapa sih yang nggak mau dihostin, wkwk.

Bertiga kami naik perahu yang datang menjemput. Perahu kami pun berjalan perlahan menyusuri sungai. Menembus pelosok daerah itu, bersampan di antara tebing-tebing karst, dengan semak-semak nipah dan bakau berjejer menutupi pinggiran sungai, rasanya menyenangkan!

 

Akhirnya sampai juga kami di ujung sungai, di spot yang bagus untuk menikmati pemandangan. Spot ini tersembunyi  di antara tebing-tebing karst yang tinggi. Di sana kami berfoto-foto, menikmati suasana sunyi yang nyaman. dengan udara yang sejuk, pepohonan yang menghijau dan hampir nggak ada manusia selain kami, rasanya damai bangett.

Sekitar setengah jam kami berkeliling tempat itu, melintasi setapak-setapak rumput, melompati genangan-genangan air. Sayangnya langitnya nggak cukup bagus untuk foto-foto. Jadi kami foto seadanya aja. Puas berkeliling, kami kembali ke perahu untuk selanjutnya mengunjungi taman karst yang tadi kami lewati.



Lokasi taman karstnya sendiri nggak begitu jauh dari sungai. Taman karst ini terletak di antara sawah-sawah penduduk sekitar, jadi untuk mencapai taman karst itu kami harus melintasi pematang-pematang, melompati becek-becek genangan air dan tumpukan jerami.



 



Sayangnya sebelum sempat menjelajah lebih jauh, kami sudah harus kembali ke Kota Makassar. Jam sudah menunjukkan pukul 14:30, dan menurut itin sudah saatnya kami kembali. Sebelum meninggalkan dusun Rammang-Rammang, kami sempatkan mampir di sebuah warung makan di pertigaan pabrik semen. Di sana kami nyicip-nyicip salah satu masakan khas Makassar, yaitu Pallubasa. Oya, di depan warung itu kami juga bertemu Mba Ade, seorang solo traveler yang kebetulan juga pulang dari Rammang-Rammang. Berempat kami makan di warung itu sambil ngobrol panjang lebar. Nantinya sih Mba Ade bakal gabung jadi rombongan ke Pulau Samalona, tapi itu cerita nanti :D

Pukul 15:30 kami bubaran. Saya dan Kiki menuju Kota Makassar untuk langsung mengejar mobil ke Tanjung Bira, Ancha pulang ke rumah, dan Mba Ade mengejar bus ke Toraja. Iya, akhirnya kami putuskan untuk menggunakan itin versi Tanjung Bira saja. Sembari memandangi bukit-bukit karst yang menjauh, saya janji pada diri sendiri. Suatu saat saya bakal balik lagi, pasti.

Anyway, beginilah negara kita, potensi seperti Rammang-Rammang ini sama sekali nggak dingat. Siapa yang pernah dengar Rammang-Rammang? Bahkan supir angkot daerah sendiri pun nggak tau. Apa itu karst? Apa itu potensi heritage dunia? Itu cuma tumpukan kapur yang sebentar lagi hilang diolah menjadi bahan baku semen. Mungkin untuk negara kita, Rammang-Rammang cuma tumpukan batu kapur biasa, yang berpotensi jadi bahan dasar semen di pabrik semen Bosowa. Tempat ini memang bukan (atau tepatnya belum) menjadi tempat wisata resmi. Cuma dari mulut ke mulut saja. Dan saat ini memang justru anak-anak BPI yang gencar-gencarnya mempromosikan tempat ini melalui forum-forum domestik maupun mancanegara. Dengan harapan semoga saja suatu hari UNESCO atau siapapun, melirik potensi tempat ini. Bukannya durhaka atau gimana, tapi mau berharap sama pemerintah sendiri rasanya pesimis. Bahkan gosipnya pemerintah daerah sana sendiri sudah memberi lampu hijau pada pabrik semen untuk mengeksploitasi kapur di daerah sana sebagai bahan baku semen.

Fyuhh. Rada nyesek rasanya kalau suatu hari beli semen, yang ternyata dibuat dengan cara menghancurkan daerah karst terbesar ketiga di dunia yang penuh potensi berharga.
Saturday, April 20, 2013
Reactions:  ==>[ 0 reaction means 'awesome' ]
5 comments :
  1. Minggu kemarin baru dari sana..its really wonderfull, sunyi, magic,indah bangets..sekedar tips: jgn keseorean ke ramang2, pengalaman kesana kita kesorean hampir ga bs balik ke jln raya krn air sungai surut skitar jam 5 sore...huaaaa deg2an bengong lait air sungai yg surut dan hampir nangis krn ga kebayang gelap2an diramang2...alhamdulilah jam 6 sore air naik dan perahu bs jalan lagii...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya seru sis tripnya.
      Thanks tipsnya, semoga bisa membantu traveler yg lain..

      Delete
  2. Potensi situs warisan dunia yg terlupakan itu kini telah rusak

    ReplyDelete
  3. artikel yang keren, bahkan saya saja orang asli bosowa blum tahu keindahan kampung rammang rammang dan tukang ojeknya yang kreatif .. hehehe

    ReplyDelete

My Photo
Anywhere walker.
Small town minds.

Blog Archives