Site Meter
Versi Rapi
The Overland part 4: Kelimutu, Ende, dan Rabu Sore yang Nggak Biasa



Kelimutu, danau legendaris yang punya tiga warna. Merah, Biru, Hijau. Gitu sih yang dulu gue pelajari waktu SD. But my whole life is a lie, karena sesampainya kami di sana kenyataannya nggak seperti itu -_-

Pukul 4 pagi kami berangkat dari Desa Moni memasuki Taman Nasional Gunung Kelimutu. Menggunakan mobil si Om tentunya. Bisa sih ngojek, tapi mumpung ada supir gratisan kenapa enggak, hehe. Jalan yang kami lalui masih sama, gelap, curam, dan berliku. Jarak 15 km antara Moni dengan Kelimutu kami lalui selama sekitar 40 menit dalam gelap, sebelum akhirnya tiba-tiba muncul sebuah bangunan yang merupakan pos masuk daerah wisata Gunung Kelimutu. Nggak terlalu banyak mobil yang kami temui di area parkir. Entah kami kepagian atau memang sedang sepi pelancong. Dan walaupun termasuk dataran tinggi anehnya udaranya nggak terlalu dingin, nggak sedingin udara di Ruteng pada malam sebelumnya.

Sampai di sana Friska segera membeli tiket dan mengisi buku tamu. Name : Friska. Nationality : INA. From : Semarang. Diisinya kolom-kolom di buku tamu itu dengan bangga, haha. Iyalah, hampir 2000 km jauhnya dari rumah dan ditempuh dengan perjalanan darat itu lumayan bisa dibanggakan.  Cuman yang bikin rada canggung itu harga tiket masuknya. Tiket masuk ke kawasan Danau Kelimutu harganya cuma lima ribu perak. Jauh-jauh ke sini, habis budget segini banyak untuk sampai, hanya untuk beli tiket seharga Rp.5000! Semacam ironi gitu.

Kemudian dengan bergegas kami menuju anak tangga di tempat awal memulai pendakian. Hari masih gelap dan jalan menuju ke puncak nggak terlalu jelas. Dengan bantuan senter kami mulai naik pelan-pelan. Nggak terlalu jauh memang untuk naik ke puncak, namun jarak 200 meter tanjakan pertama cukup membuat napas gue tersengal dan ketinggalan di belakang. Tapi nggak masalah, toh pada akhirnya tetep gue yang pertama kali sampai di atas. Malu dong kalo sampai kalah sama yang muda :D

Langit mulai terang ketika kami menapaki anak-anak tangga terakhir menuju tempat pandang utama. Sedikit bergegas kami menaiki tangga terakhir untuk mengejar sunrise. Membuat timelapse sunrise di kelimutu itu wajib hukumnya.Dan tepat beberapa saat setelah kami sampai, sunrise yang kami kejar akhirnya muncul juga. Segera kami menyiapkan kamera-kamera kami. Time to timelapse!




Nggak banyak sih hal yang bisa dilakukan di sana selepas sunrise. Ngopi, selfie, ngerekam video, dan mungkin sekedar ngobrol dengan pengunjung lain.



By the way konon sejak 100 tahun yang lalu, salah satu danau di sana sudah pernah berubah warna sebanyak 44 kali. Sementara dua danau lainnya sudah berubah warna sebanyak 25 dan 15 kali. Namun sayangnya ketika kami ke sana ketiga danau tersebut berwana hijau, meski dengan intensitas yang berbeda-beda. Ada yang hijau muda, hijau kebiruan, dan satu lagi hijau gelap.

Dan ketika langit mulai terang kami pun turun untuk kembali ke Moni, mengepak barang, dan menempuh 50 kilometer berliku lagi untuk balik ke Kota Ende. Rencananya malam ini kami akan menginap di Ende, sekedar untuk menikmati nyamannya kasur, membuang waktu dan bermalas-malasan melewati sisa hari ini.

Sampai di Ende kami segera mancari penginapan. Kami susuri jalan di sekitar Bandara Ende sampai akhirnya kami temukan salah satu penginapan yang murah meriah, cuma 100 ribu per kamar. Sengaja kami mencari penginapan dekat bandara, karena besok pagi-pagi sekali kami sudah harus flight kembali ke Bajo. Iya, akhirnya kami putuskan untuk kembali ke Labuan Bajo menggunakan pesawat. Selain untuk menghemat waktu - ini sudah hari kelima dari 11 hari yang kami punya - alasan utamanya karena kami enggan dikocok lagi di jalanan berkelok-kelok antara Ende-Bajo seperti kemarin -_-

Siang itu kami habiskan dengan tiduran di kamar penginapan yang serasa sauna. Ende panas banget! Sepanas siang bolong di Surabaya, bahkan mungkin lebih. Jadi kami sepakat siang itu kami habiskan dengan tepar di kamar masing-masing. Bukannya kami manja, tapi dengan cuaca sepanas itu backpacker paling tangguh pun bakal neduh, percaya deh.

Sore hari kami akhirnya keluar juga dari penginapan untuk menikmati suasana Kota Ende. Kotanya lumayan menyenangkan. Jarang-jarang ada sebuah kota yang punya pemandangan gunung dan pantai sekaligus. Di utara terlihat gunung dan bukit berjejer-jejer seolah kota itu tepat berada di kaki gunung. Namun ketika kita melihat ke selatan, pantai biru nan luas terbentang.

Sore itu akhirnya kami bisa menikmati sunset properly, nggak dikejar-kejar waktu, nggak perlu kepikiran hal-hal lain. Kami berpencar berjalan sendiri-sendiri menikmati penghujung hari dengan cara kami masing-masing. Tika dan Friska berjalan-jalan ke ujung dermaga, rezky sibuk dengan kamera dan timelapsenya, si om entah kemana, sementara gue duduk di dermaga sambil memasang headset dan mendengarkan lagu. Sekilas melintas perasaan yang aneh. Di daerah yang sama sekali asing, bersama orang-orang yang baru gue kenal 5 hari. Sendiri, tapi nggak sendirian. Matahari hampir tenggelam membuat langit begitu jingga, suara ombak mengalun merdu melengkapi, penduduk lokal bermain-main di tepi pantai. Ingatan tentang hari-hari biasanya, rutinitas-rutinitas biasanya, pikiran-pikiran tentang kerjaan, hilang entah kemana.

Di luar pelabuhan ada sebuah pasar tradisional yang sudah mulai tutup. Setelah sunset buru-buru kami ke pasar itu untuk mencari kain tenun khas Ende. Di pinggir jalan terlihat pedagang kain yang berjualan menggunakan sebuah mobil Avanza sebagai "toko"nya. Si bapak pedagang sedang membereskan dagangannya bersiap-siap menutup "toko"nya. Buru-buru kami datangi si bapak, memilih-milih kain yang belum sempat dipacking kembali ke dalam mobil. Akhirnya si bapak mengalah dan mau melayani kami sejenak. Tapi yang namanya cewe kalo belanja emang nggak bisa sebentar. Hari sudah gelap, Friska dan Tika masih belum selesai milih-milih, tapi si bapak sudah harus pulang. Akhirnya, you know what, mereka berdua ikut pulang sama si bapak pedagang kain dong! Nebeng "toko berjalan" si bapak -_-

Kami sisanya mau nggak mau musti menyusul ke tempat si bapak pedagang kain tenun dengan mobil si Om. Sepanjang perjalanan si Om ngoceh, gimana kalo diculik, ini tempat asing, hati-hati, bla bla bla. Gue sih cuek. Maklum si om bukan backpacker, jadi nggak terbiasa dengan spontanitas macam itu. Dengan berbekal location yang dikirim, akhirnya kami sampai juga di tempat si bapak pedagang kain. Ternyata si bapak punya toko beneran di dekat bandara. Dan yang pasti, mereka berdua selamat sentosa, nggak jadi korban penculikan, haha.

Hampir satu jam kami menunggu ibu-ibu belanja. Mereka berdua akhirnya keluar dari toko dengan beberapa kantong belanja besar, sambil senyum-senyum. "Eh, kita semua mau dianterin makan malem sama si bapak loh, nyari ikan bakar!" Seriusan, si bapak dagang kain tenun beneran mau nganterin kami makan ikan bakar di pantai, dengan "toko berjalan"nya yang sudah kembali jadi mobil biasa. Tentu saja dengan senang hati kami menerima tawaran itu.

Dan begitulah, kami balik lagi ke pantai nggak jauh dari pelabuhan sore tadi untuk makan ikan bakar. Dengan mobil si bapak. Diantar oleh anaknya yang masih SMA. Si bapak sendiri nggak ikut karena masih sibuk mengurusi toko benerannya. Well, biasanya kita emang musti waspada sama orang yang belum di kenal, apalagi di daerah yang sama sekali baru. Tapi terkadang nggak ada salahnya kok mempercayai orang lain.

Kami makan malam ikan bakar dan teman-temannya di semacam foodcourt di Pantai Ria, sebelahan sama pelabuhan. Makan enak (lagi), sekedar merayakan malam terakhir di Ende. Malam terakhir bersama si Om juga. Mulai besok kami sudah harus berpisah jalan. Si Om bakal balik ke Pelabuhan Aimere, menunggu ferry yang akan menyeberang ke Kupang hari Sabtu nanti. Sementara kami balik ke Bajo untuk melanjutkan itinerary kami. Dan yang namanya merayakan perpisahan itu selalu terasa aneh. Perpisahan kenapa harus dirayakan? Entahlah. Yang pasti setelah ini kecil kemungkinan kami akan bertemu lagi dengan si Om, seumur hidup, karena meskipun dalam 5 hari terakhir selalu bersama, kami sama sekali nggak saling tukar nomor kontak. After all, hitchhiker is hitchhiker. Cuman numpang sampai tujuan, kemudian ciao. Haha. Begitu juga dengan kota Ende. Setelah beberapa lama nama Ende terngiang-ngiang di pikiran kami sebagai tujuan utama yang sangat kami dambakan untuk cepat-cepat sampai waktu overland dari Denpasar kemarin, akhirnya dengan segara harus kami tinggalkan kembali.

Well, saat itu, waktu main-main air di Pantai Ria sembari menunggu makan malam disajikan, gue mikir, apakah gue bakal bisa balik lagi ke sini? Kalaupun iya, apakah rasanya masih akan sama seperti saat ini? Kalaupun bener suatu saat gue bakal balik lagi, pastinya bukan bareng Friska, Tika,Rezky, dan si Om. Pastinya rasanya bakal berbeda. So this is the only moment of our time, lets just relive it forever. Moments fades, but memories lasts.

Bersambung.

Monday, February 8, 2016
Reactions:  ==>[ 0 reaction means 'awesome' ]
No comments :

Post a Comment

My Photo
Anywhere walker.
Small town minds.

Blog Archives