Site Meter
Versi Rapi
The Overland Part 3
Ruteng. Gue rada familiar dengan nama ini, gara-gara dulu beberapa tahun yang lalu temen kantor (mantan kantor sih tepatnya) dapat jackpot penempatan di cabang Ruteng. Kalo dulu, kesan yang gue dapat sih Ruteng itu kotanya panas, berdebu, terbelakang, lengkap dengan savana dan padang rumput kecoklatan sejauh mata memandang. Dan joke klasik itupun samar-samar masih gue inget: "Nanti kita main-main ke sana deh, nengokin elu kalo udah jadi kepala cabang di sana". Well siapa sangka ternyata malam ini gue bener-bener berada di sana memandangi si kantor cabang dari dalam mobil, sembari googling mencari info tentang penginapan di kota itu.

Ruteng ternyata 180' terbalik dari apa yg gue bayangkan. Ruteng itu dataran tinggi, berbukit-bukit, hijau, dan dingin banget. Baru setengah 10 malam tapi kota kecil itu sudah begitu sepi. Setelah mondar-mandir dan menelepon semua nomor penginapan di Ruteng yang kami temukan di Google, dan sempat hampir menyerah dan berniat nekat melanjutkan perjalanan, akhirnya kami menemukan sebuah penginapan bernama Hotel Rima. Nggak terlalu bagus, bergaya etnik dengan dinding dan lantai yang terbuat dari kayu, tapi well penginapan murah macam apa sih yang bisa diharapkan ada di kota kecil begini. Setidaknya kami bisa sekedar rileks setelah 2 hari perjalanan non stop. Penginapannya sendiri nggak jelek-jelek amat, bernuansa backpacker dengan kamar bertempat tidur bertingkat,  sofa lebar dan meja untuk duduk-duduk, bar, informasi wisata, walaupun semua fasilitasnya ya sederhana sesuai harganya yang cuma 200rb per kamar. Pengunjungnya pun rata-rata pelancong dan backpacker, termasuk beberapa wisatawan asing, jadi bukan penginapan semacam hotel melati yang.....you know lah.

Hari berikutnya kami melanjutkan perjalanan ke Ende. Yak, tinggal setengah hari perjalanan lagi sebelum sampai di tujuan pertama kami. Namun walaupun cuma setengah hari, bukan berarti perjalanan di depan bakal mulus-mulus aja. Dari Google Maps kami sudah bisa bayangkan bakalan seperti apa nanti di jalan. Ruteng dan Ende dipisahkan oleh jalur yang bakal mengocok kami lebih dari sebelumnya lihat saja di peta, jalanan panjang yang berliku-liku, berputar-putar, dan naik turun, yang belum pernah gue lihat di peta manapun sebelumnya.




 Ini jalan raya apa mie kriting? -_-

Walaupun begitu, ada beberapa saat dimana pemandangan sepanjang jalan begitu indah. Dari atas bukit kami dapat melihat hamparan laut biru yang cantik. Memang nggak ada yang lebih keren dibanding view tebing-tebing tinggi, bukit menghijau, dipadu dengan birunya lautan sebagai latarnya.
Singkat cerita, diselingi beberapa kali mampir di pantai tak bernama yang belum terjamah, pukul 3 sore kami sampai juga di Ende. Setelah 3 hari perjalanan panjang dari Denpasar, melewati berbagai macam jalur darat dan laut, tak terbayangkan begitu lega rasanya ketika melihat tulisan Selamat Datang di Ende. Finally, there we are!

Hal pertama yang kami lakukan di Ende adalah mencari pelabuhan untuk si Om menyeberang ke Kupang. Rencananya kami akan berpisah di pelabuhan. Si Om melanjutkan perjalanan ke Kupang, sementara kami naik angkot ke Desa Moni, tujuan kami selanjutnya.

Setelah beberapa kali bertanya pada penduduk sekitar, akhirnya kami sampai juga di pelabuhannya. Sampai di sana gue rada ngerasa aneh, pelabuhannya sepi banget. Hampir nggak ada aktivitas seperti di pelabuhan-pelabuhan utama lainnya. Nggak ada loket, nggak ada keramaian sama sekali. Akhirnya kami pergi ke kantor pelni di sana dan bertanya. Dan, yak, terjawab sudah kenapa pelabuhannya begitu sepi. Pelabuhan itu bukan pelabuhan utama, semua aktivitas sudah dipindah ke pelabuhan aimere, berpuluh-puluh (atau bahkan seratusan? Entahlah) kilometer dari sana. Lucunya, daerah aimere sudah kami lewati tadi. Itu artinya si Om harus balik lagi, melewati jalanan ekstrem berjam-jam lagi. Dan yang bikin kaget lagi, ternyata kapal ferry ke Kupang nggak jalan setiap hari! Jadwal kapal berikutnya adalah hari Sabtu. Padahal haribini masih Selasa. Itu artinya si Om masih harus menunggu 4 hari lagi. Gubrak. Entahlah siapa yang salah. Kami, yang yakin banget kalau kapal ferry ke Kupang menyeberang dari Pelabuhan Ende, atau si Om, yang asal berangkat aja tanpa planning jadwal yang matang. Yang pasti kami jadi makin sadar kalo perencanaan itin yang matang itu wajib kalau kamu pergi ke daerah yang sama sekali asing.

Well, akhirnya dengan sedikit rayuan, kami berhasil mengajak si Om untuk ikut bareng kami ke Moni sambil menghabiskan waktu. Okay, kami setengah nakal juga sih memanfaatkan situasi, sehingga kami nggak perlu repot-repot cari angkutan umum ke Moni dan Kelimutu esok harinya. Cukup mengajak si Om yang lagi galau untuk mengantar kami dengan sepik-sepik daripada nungguin 4 hari sendirian. Dan voila, akhirnya kami benar-benar diantar sampai ke Moni yang jaraknya 50 km dari Ende. Haha.

Sekitar pukul 5 sore kami berangkat ke Moni. Sekitar 2 jam perjalanan yang kembali meliuk-liuk antara bukit dan tebing, kami sampai di Moni. Desa Moni adalah desa terdekat dari kawasan Taman Nasional Gunung Kelimutu (TNGK). Di sinilah biasanya para pelancong bermalam sebelum esok paginya naik ke Kelimutu. Kami menginap di homestay bernama Daniel Lodge. Fasilitasnya lumayan oke dibanding penginapan-penginapan murah lain di sekitar sana. Kamarnya lumayan bersih, lega, bangunan baru, ada parkirannya, ada air panas, sarapan roti bakar dan selai, pisang, minuman hangat. Tarif aslinya 320rb per kamar, tapi berhubung kami datang malam-malam, daripada kosong akhirnya kami dapat harga 200rb. Lumayaan.


Setelah keluar sebentar untuk sarapan, kami langsung balik ke penginapan dan tewas karena besok pagi-pagi sekali kami harus bangun dan naik ke Kelimutu.

Bersambung.



Sunday, January 24, 2016
Reactions:  ==>[ 0 reaction means 'awesome' ]
6 comments :
  1. Semacam flashback semua yg diketik di sini..
    Bahkan, bis kami sempat ngetem nunggu kebo2 gegoleran di jalan.. Dan menghibur diri dg karokean seadanya di bis ekonomi.. Kebo tau gimana caranya menyambut tamu.. :))

    Abangku di Ruteng lhooooo twin!!! Hoooooo.... Kamu....

    Lanjut!
    Aimere? Sopir colt gila karena ditelan malam atau entah.. Seenak udelnya aja nyetir mobil.. Pas berhenti sebentar, di kejauhan, well setidaknya ada 4 org dr kami yg denger lantunan musik Ja'i di tengah utan!! Malem2!!

    Ajakan buat joget sambil minum tuak.... Oleh makhluk halus mungkin? Hahaha, sumpah --"

    Ditunggu lanjutannya. Siapa tau dr kelimutu nyebrang juga sampe larantuka

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, jadi emang udah tradisi sejak dahulu kala ya..

      Wah kalo tau mending nebeng di abangmu aja twin, wkwk

      Okay, stay tuned. Ga sampe larantuka, waktunya nggak ada. Ende udah paling jauh itu.

      Delete
  2. Lah iyo, tradisi hahaha. Sampe sekarang masih sering nyeritain kebo2 itu tiap kali perjalanan di manapun nemu kebo berkelakuan serupa :))

    Hooh, biar sekalian bisa nitip kopi ruteng. Abangku sudah janjiin mau kirim tapi ongkosnya mahal, jadi aq nolak terus. Sebenernya antara ongkir dg rasa, kopi ruteng nya worth it. Kopi terrrenak (buatku).

    Udah baca yg bagian Ende, part yang belum aq rasain. Hahaha. Ditunggu yg bagian Komodo nya. Pasti beda pengalaman.

    Ngiri. Pengen "kole beo" alias pulang kampung hahaha.

    Nice!

    ReplyDelete
  3. Brooo mau tanya dong, gw besok senin mau k kupang nih pake jalan darat, naaah kira" penyebrangan d aimere itu ada nya selaen hari sabtu hari apa yaa??? Mohon pencerahan nyaaa gaaan plisss ...makasih bgt

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo info yg kami dapat desember kemaren sih cuma sabtu aja, seminggu sekali. Tapi sering berubah jg harinya tergantung kondisi laut. Coba telp ASDP cabang Kupang atau Ende utk cari info.

      Delete
  4. huaa... mas rian kewwel tripnyaa... *mupengg

    ReplyDelete

My Photo
Anywhere walker.
Small town minds.

Blog Archives