Site Meter
Versi Rapi
The Overland part 2
Selasa, 29 Desember 2015

Pernah bayangin gimana rasanya mengemudi pada pukul 2 dini hari kemudian berhenti mendadak karena ada segerombolan kuda liar yang 'parkir' di tengah jalan? Dan 1 kilometer kemudian mengerem mendadak lagi gara-gara ada gerombolan sapi juga parkir di tengah jalan. Dan setelahnya ada gerombolan kerbau, gerombolan anjing, gerombolan kambing semuanya bergantian tidur cantik atau melintas seenaknya di tengah jalan. Kedengerannya nggak biasa, tapi kalau kamu mengemudi 1500 kilometer di timur Jakarta, tepatnya di jalan raya lintas pulau Sumbawa, pemandangan seperti itu bukan lagi hal yang aneh. Nggak terhitung lagi berapa kali kami mengerem mendadak saking seringnya gerombolan hewan melintas ketika kami melintasi setengah Pulau Sumbawa.

Setelah menerobos lintasan dengan parade hewan macam safari tengah malam itu selanjutnya kami harus berkendara di jalan penuh tikungan, gelap tanpa lampu jalan, menanjak dan menurun melintasi bukit dan jurang. Gue sama sekali belum dan nggak bisa tidur gara-gara cara mengemudi si Om yang shitty, 130km/jam di jalanan macam itu, menggeber mobil dengan kecepatan tinggi tanpa aba-aba dan kemudian secara tiba-tiba menginjak dalam-dalam pedal rem  seenak jidat. Kalo berkendara sendiri sih oke-oke aja, tapi kalau kamu punya penumpang bisa dipastikan penumpang kamu bakal mual-mual nggak keruan. Tapi mau apa lagi, kami nggak bisa protes. Kami cuma hitchhiker yang nggak mau diturunin ditengah jalan karena protes cara mengemudi si empunya mobil -_-

Dan ketika saatnya giliran gue mengemudi kondisi jalanan nggak bertambah baik. Setelah melintasi padang savana yang gelap, jalanan kembali melintasi bukit. Kalau kamu tau ekstremnya mengemudi di Gunung Gumitir, antara Banyuwangi-Jember di malam hari, kondisi jalan yang kami lalui nggak jauh-jauh dari itu. Sama ekstremnya. Bedanya, perjalanan naik turun bukit disini jauh lebih panjang dan lama dari waktu tempuh di Gunung Gumitir. Plus gue yang belum memejamkan mata sedikitpun sejak kemarin mulai kehilangan setengah nyawa. Nekat? Iya, sedikit. Manusia-manusia lain sudah tidur nyenyak di jok masing-masing, jadi gue merem dikit juga nggak akan ada yang protes. Untungnya Tika yang duduk di jok depan sesekali bangun dan menemani ngobrol. Kalo enggak, bisa-bisa gue juga ikutan tidur deh.

Sekitar 7 jam kemudian kami sampai di Pelabuhan Sape. Labelnya sih "Pelabuhan", tapi jangan bayangin pelabuhan semacam Merak atau Gilimanuk. Di sini, yang namanya pelabuhan itu cuma sekedar tanah lapang yang penuh dengan truk-truk logistik parkir menunggu giliran menyeberang, beberapa kios dan warung, dan sebuah dermaga. Dengan genangan-genangan air dan tanah becek, sampah dimana-mana, burung-burung merpati liar, kambing-kambing bebas berjalan-jalan dan memakan sampah dan kertas, tempat ini lebih mirip pasar tradisional daripada pelabuhan. Well, kamu tinggal di Jakarta dan masih sering mengeluhkan fasilitas publik yang kurang-begini kurang-begitu? Sesekali main-main deh ke timur, seketika kamu akan bersyukur tinggal di Jakarta. Bayangin, satu-satunya pelabuhan yang membawa truk-truk muatan logistik dari Sumbawa ke Flores, fasilitasnya minim, cuma punya satu dermaga, satu keberangkatan kapal dalam sehari. Belum lagi antrean masuk ke kapal yang enggak banget, suka-suka petugas pelabuhannya. Ditambah dengan biaya menyeberang yang nggak murah. Kami berlima plus mobil kena 1,35 juta. Contoh yang sangat-sangat nyata tentang terjadinya kesenjangan sosial akibat pembangunan infrastruktur yang nggak merata di negeri ini.

Oke skip. Penyeberangan dari Sape Sumbawa ke Labuan Bajo Flores yang memakan waktu sekitar 6 jam lagi-lagi kami habiskan dengan tidur menggelar sleeping bag di atas dek kapal. Setelah beberapa jam berlayar, kapal mulai melintasi pinggiran gugusan Pulau Komodo dan kawan-kawan. Terlihat bukit-bukit gersang Pulau Komodo dan Rinca berdiri gagah di bawah langit biru cerah. Ssetelah 2 hari perjalanan akhirnya aroma liburan mulai terasa, yay. Sekedar bocoran indahnya gugusan Pulau Komodo untuk kami sebelum benar-benar ke sana. Saat ini kami cuma lewat, karena setelah kapal bersandar kami akan kembali melanjutkan perjalanan ke Ende yang masih jauh di timur. Iya, tujuan pertama kami adalah Kelimutu, sang danau legendaris 50 km dari Ende.

Kapal merapat di Labuan Bajo sekitar pukul 4 sore. Kemudian ketika melanjutkan perjalanan, kami temukan bahwa ternyata jalanan di Flores lebih ekstrem dari Sumbawa. Jalanan utama lintas pulau Flores nggak sebagus yang kami bayangkan. Jalannya sangat sempit untuk ukuran jalan utama. Sempit, menanjak, dan berkelok-kelok nggak keruan. Setelah lima jam kami serasa dikocok dalam mobil, sekitar pukul 9 malam akhirnya kami sampai di Ruteng, kota kecil di tengah-tengah pulau Flores. Satu-satunya kota yang kami temui setelah menerobos jalanan berbukit-bukit dan hutan selepas dari Bajo. Sempat kami berpikir untuk nekat melanjutkan perjalanan, namun sayangnya kondisi si mobil matic yang overheat gara-gara dipaksa ngebut di tanjakan selama berjam-jam akhirnya memaksa kami berubah pikiran dan bermalam di Ruteng. Well, esoknya kami bersyukur mengambil keputusan untuk menginap di Ruteng, karena ternyata jalanan paling ekstrem sudah menunggu di Timur Ruteng.

Saturday, January 16, 2016
Reactions:  ==>[ 0 reaction means 'awesome' ]
No comments :

Post a Comment

My Photo
Anywhere walker.
Small town minds.

Blog Archives