Versi Rapi
"About Dieng? It's a nice place".

Huu.. Emang pernah kesana?
"Pernah doooong! Haha.."

Iya, gitu?
"Iya donk. Ni gue baru nyampe hum dari 24 jam perjalanan melelahkan dari sono".

Yang bener? Buktinya mana coba?
"Nggak ada. Selain luka melepuh di telapak kaki, badan menggigil, en tulang serasa mau copot gara-gara capek berat. Nggak ada. Seperti biasa, kutukan kameraku, lagi disewa gratis saat gue membutuhkannya. Jadi nggak foto-foto".

Yup! Akhirnya obsesi gue pergi ke dareah tertinggi di pulau jawa itu kesampaian juga. Obsesi sejak jaman SD dulu tuh! Sabtu malam kemaren nekat berangkat. Cuman modal bego, keras kepala, en sedikit duit, nyampe deh. Kalo dipikir-pikir, bego juga, jam tujuh malam, ujan-ujan, gue ma anak2 kos berangkat ke Dieng dari Jogja. Gak ada acara khusus sih. Cuman guys thing, or something lah.

Geblek nggak sih, jam 7 malem berangkat. Padahal dari Jogja ke Dieng tuh butuh 5 jam-an. Walhasil, jam 11 malem baru nyampe Wonosobo. Keliling bentar di Wonosobo-Banjarnegara. Mo cari tempat nebeng tidur, gak ada. Mo cari penginapan, jam segitu udah pada tutup.

Yah, namanya juga geblek, akhirnya kami putuskan, naik ke Dieng saat itu juga. Bayangin aja, naik ke Dieng jam 1 malem, naik motor di antara tebing-tebing dan kabut. Mana gue cuman pake sweater tipis,lagi! Gak kebayang deh dinginnya!

But it's all worth enough. Terbayarkan oleh pemandangan malam yang nggak kebayang indahnya. Keren banget, jalan gelap gulita diantara dua gunung, Sindoro en Sumbing di kiri dan kanan. Lampu-lampu perkampungan berpendar di lereng kedua gunung. Di langit bintang-bintang terlihat dengan jelas. Di tambah udara gunung yang dingin abis. Kabut juga datang sesekali. Bener-bener keindahan yang menyeramkan deh pokoknya. Rasanya tuh bener-bener "a blend of fear and passion" deh! cie..

Satu jam naik, akhirnya kalah juga tubuh kami oleh dingin. Mampuslah, jam 1 malam, belum sampai Dieng, kedinginan abis, di lereng gunung,lagi! Mo istirahat dimana coba. Beruntung, ada gardu buat orang narik retribusi. Di sana ada dua cowo lagi jaga, narikin retribusi untuk truk-truk malam. Akhirnya kami2 ngendon di sana. Gardunya kecil banget. 3x3 meteran lah. Tapi cukup buat kami berdesak-desakan sambil bikin api di sana.

Kenalan sama cowo2 penjaga gardu, trus ngobrol panjang lebar mengelilingi tungku api sambil minum kopi en makan gorengan. Berbagi pandangan tentang kehidupan di Dieng en di Jogja. Beda banget. Haha. Ya iyalah.

Satu persatu anak2 pada tepar. Dari enam orang di sana, empat dari kami, en dua cowo penjaga ronda, cuman 3 yang bertahan ampe subuh. Kedua cowo itu en aku. Seru aja, menikmati malam di tempat seperti itu. Ngerasain gimana jadi penjaga gardu retribusi tengah malam lah. Lagian, malam itu langit cerah, bagus banget. Paduan antara bintang-bintang, en sosok gunung di kegelapan, bener-bener pemandangan yang nggak bisa kita nikmati tiap hari kan.

Akhirnya subuh juga. Gue bangunin anak2, ngajakin naik ke Dieng untuk ngelihat matahari terbit. Demi nonton sunrise di Dieng, rela deh ngebut naik ke puncak pada udara sedingin itu! MAklum, 2093 meter di atas permukaan laut, dengan udara sedingin es, rasanya enggan kalo harus keluar gardu. Apalagi aku, yang notabene nggak tidur.

Nggak seberapa lama naik, akhirnya nyampe juga di Dieng. Wuih, keren banget, subuh2 di sana. Ngelihat ke bawah, kota Wonosobo berkerlip-kerlip diantara kerlipan-kerlipan kota-kota sekitar. Tau bukit pathuk kan? Nah, mirip gitu, tapi jauh lebih luas. Sekitar 10 kali jarak pandang di Bukit Pathuk lah. Rasa-rasanya, malah bisa ngelihat Jogja dari situ, saqking tingginya tempat itu.

Puas deh, kami di Dieng. Ketika matahari akhirnya muncul, kami udah sekitar setengah jalan mengelilingi dataran tinggi itu. Mulai dari kompleks candi-candi yang bertebaran di sana, kawah-kawah, en telaga-telaga kami lewati semua di pagi buta itu. Nggak rugi kami nekat jalan malam hari.

Makin mendekati pagi, suhu udara di sana justru makin nggak terbayangkan. Bener-bener dingin, lebih dari menusuk tulang. Dinginnya menembus tulang tuh. Sampai kerasa nyeri en mati rasa kedua tangan. Kulit jadi merah karena kedinginan. Meski sebenarnya pagi udah mulai terang, akhirnya kami putuskan buat nyari penginapan gara2 nggak tahan dinginnya. Baru di penginapan sempit itu gue sempat sekedar memejamkan mata.

Tidur jam setengah tujuh pagi, jam sembilan gue udah bangun. Kepala rasanya pusing banged, kedinginan en kurang istirahat. Ternyata rasa dingin tuh bisa bikin sakit seluruh tubuh, gue baru nyadar. Tangan udah jadi putih, nggak ada darahnya. Bibir jadi biru, kulit muka memerah, en tubuh gemetar hebat kedinginan. Setengah sebelas akhirnya kami putuskan buat say goodbye sama Dieng en turun ke Wonosobo. Udah puas banget kami di sana.

Benernya rencana selanjutnya kami mau nyoba arung jeram di Banjarnegara, tapi gara-gara siang itu hujan deras, akhirnya kami cuman nongkrong sambil beli durian. Pesta durian kami di sana. Bayangin, 12 buah durian kami habiskan ber enam. Rata-rata dua buah per orang. Haha, mabuk durian kami di sana. Ketika hujan akhirnya berhenti, badan kami udah nggak karuan rasanya. Bener-bener nggak ada tenaga lagi buat arung jeram. Gimana enggak, semalaman tubuh disiksa dengan udara dingin, naik turun lereng, nggak tidur, pula. Akhirnya kami putuskan buat pulang ke Jogja aja. Cabut dari Wonosobo jam 3 sore, pulangnya lewat jalur alternatif. Lewat Borobudur. En nyampe di jogja, sekitar setengah tujuh. Waw, pas 24 jam sejak kami berangkat.

Huh, bener-bener 24 jam yang melelahkan, tapi memuaskan..
Monday, April 14, 2008

Sejak Newcastle United resmi turun kelas jadi klub medioker, sejak itu pula gue berhenti ngikutin Liga Inggris. Terakhir pada season 2003/2004, saat masih ditukangi Sir Bobby Robson, klub ini hanya mampu finish di urutan 5 klasemen akhir Premier League. Setelah itu performa The Magpies terus merosot, dan dampaknya gue jadi males ngikutin perkembangan klub ini. Apalagi setelah sang legenda Alan Shearer resmi gantung sepatu dari klub ini. Meskipun Premier League digadang-gadang sebagai kompetisi sepak bola terbaik di dunia, gue tetep ogah ngikutin. Cukup tahu sekilas aja. Maklum, siapa sih yang rela melihat klub favoritnya berkompetisi hanya untuk menghindari jurang degradasi.


Heran aja, gimana pemain-pemain dengan nama besar keluar masuk klub ini pun belum cukup untuk mengangkat performa klub ini. Michael Owen, Solano, Luque, Craig Bellamy, Shola Ameobi, Alan Smith, Martins, Damien Duff, Dyer, Mark Viduka, Geremi, Emre, Boumsong, dan pemain-pemain berpengalaman lain seolah datang dan pergi dengan mubazir. Entah apa yang salah dengan klub ini. Mereka selalu bermain tanpa karakter.


Well, ketika kabar bahwa pelatih kawakan Kevin Keegan akan kembali ke Newcastle untuk menangani klub ini, fans Newcastle menyambutnya dengan penuh harap. Maklum, Keegan adalah pelatih tersukses yang pernah menangani Newcastle. Keegan-lah yang menyulap Newcastle United menjadi klub besar di pertengahan 90'an. Dan kini, publik Newcastle kembali berharap sentuhan Keegan akan membawa keajaiban kembali pada klub ini.


Kini, kepemimpinan Keegan mulai berbuah. Hasil 2 kali kalah pada 2 partai pertama Keegan bersama Newcastle hanyalah permulaan. Setelahnya Newcastle tidak pernah kalah dalam 4 pertandingan. Satu kali seri dan tiga kemenangan impresif berurut 2-0 atas Fulham, 4-1 atas Tottenham Hotspurs, dan 3-0 atas Reading akhir minggu kemarin, menunjukkan kemajuan pesat di klub ini.


Agaknya Keegan tahu pasti how to deal dengan potensi yang dimiliki klub ini. Dengan punggawa-punggawa sekelas Michael Owen, Obafemi Martins, Mark Viduka, dan Alan Smith, tidak ada alasan bagi klub ini untuk tidak mencetak banyak gol. Persis seperti karakter kepelatihan Keegan selama ini, Attacking is the first defenses.


Baiklah, mungkin masih terlalu cepat untuk berpesta. Tapi nggak ada salahnya bersikap optimis, kan? Saatnya berkata: Newcastle telah kembali! :)
Thursday, April 10, 2008
Lagi dngerin single terbarunya Lifehouse, "From Where You Are" untuk pertama kalinya.
Awal dengerin, kayanya pernah denger deh.. Wow, iya, bener. Intro-nya serasa persis sama "Sempurna"-nya Andra & The BackBone.

Akhirnya gue masukin "Sempurna" ke playlist. Gue puter gantian. Ternyata emang mirip. Mirip. Banget. Kok bisa yah.. Masa sih Lifehouse nyontek Andra? Ato emang bikinnya sama-sama? Haha..

JAdi inget kasus serupa. Itu tuh, intronya "Look What You've Done" punya Jet, mirip banget sama "Ku TAk Bisa"-nya Slank. Nyadar ga? Coba aja deh perhatiin.

Ngomong-ngomong, album baru punya Simple Plan yang udah lama gue tunggu2 akhirnya dirilis juga. Hmm, gak sabar neh pengen punya. Beli gak yah..
Saturday, April 5, 2008
rei@2015