Versi Rapi
Showing posts with label My Days. Show all posts
Showing posts with label My Days. Show all posts
Kalo sekarang ada yang nanya "apa pencapaian terbesar kamu seumur hidup?", gue bakal jawab koding 1000+ baris dalam waktu kurang dari 24 jam. Sekian dan terima kasih.

Dan setelah 24 jam yang gila itu tiba-tiba muncul mood buat baca-baca Reading List di backpanelnya Blogger yang entah bagaimana nggak pernah gue sadari lagi keberadaannya. Itu artinya udah lama banget gue nggak blogwalking, dan iya, masih ada aja manusia-manusia gabut rajin yang tetep konsisten posting daily life mereka di blog. Padahal jaman now udah ada medsos yang lebih efektif untuk meraih simpati dan eksistensi instan.

Tapi buat sebagian orang blogging itu nggak melulu tentang eksistensi kan. For some people, its more to a hobby, or a therapy, or a self awareness, and a personal note to relive some special events or thoughts in life. Semacam lebih untuk konsumsi pribadi, sama untuk orang-orang yang cukup bisa menikmati seninya membaca daily life orang lain tanpa berujung nge-judge kurang kerjaan, alay, narsis dan lain-lain. Ketika hidup lo lagi nggak enak dan lo baca-baca postingan orang yang ternyata pernah melewati hal-hal yang mirip, thats kinda relieving, haha.

Abis baca blognya bocah manusia ini yang ngehapusin postingan-postingan lama. Iya bakal selalu ada waktu dimana kita ketemu sama sesuatu yang memorable entah itu foto, tulisan, barang, atau history chat, yang bikin kita mikir betapa noraknya kita dulu, haha. Dan beberapa saat kemudian kita sadar kita udah nggak berada di level itu lagi. Tapi gue sih ga setuju kalo musti ngehapusin postingan cuma gegara norak. Iya norak, tapi apa salahnya sih punya postingan yang bisa jadi semacem checkpoint-checkpoint di garis waktu hidup lo, jadi lo bisa inget lagi pola pikir-pola pikir seperti apa yang ada di kepala lo ketika lo umur segini dan segitu.

By the way barusan gue chat sama temen  yang udah lama banget ga ketemu, dan gue tetiba nyadar kalo kita udah kenal orang-orang yang bener-bener cocok, mau 8 tahun nggak ketemu pun sekalinya ngobrol tetep kerasa nggak ada alasan buat awkward. Dan apa lagi yang dibahas kalo bukan rahasia-rahasia dan dosa-dosa di masa-masa jahanam itu, haha. Sekarang gue ngerti kenapa ada quote yang bilang "your life begins at 30", karena 29 tahun sebelumnya penuh dengan kesalahan dan pelajaran yang baru bisa kita cerna ketika kita udah mulai keluar dari zona itu. Iya, ketika akhirnya kita udah bisa berdamai dengan semua idealisme, berhenti berdebat dengan diri sendiri tentang segala hal, dan selesai dengan yang namanya mengejar target dan obsesi, di situ kita baru bisa membaca semuanya dengan jelas. Haha okay gue rada ngelantur tapi intinya ketika lo flashback macem gitu dan menyadari kalo lo udah banyak belajar, itu pertanda bagus, kan.




Saturday, February 16, 2019

Pekerjaan yang menyenangkan adalah ketika tempat kerja kamu punya fasilitas yang bisa dipakai untuk having fun. Semisal teleskop yang tinggal comot sebagai pengganti lensa tele ketika kita pengen mengambil foto gerhana bulan total dengan kamera handphone standar.

Atau SADEWA 3.0 yang sudah near-real-time (klaimnya sih gitu) untuk mengetahui keadaan langit di sekitar daerah tujuan trip berikutnya. Iya, keadaan langit itu penting, terutama ketika kita ketemu trip yang menarik dengan timing yang agak telat, tepat di akhir musim panas. Karena ketika beberapa hari ini gue rajin mantengin si sadewa, ngelihat kondisi awan hujan, awan tinggi, awan konvektif, awan cirrus bla bla bla di sekitar Pulau Sebesi, tujuan trip gue weekend ini, gue memutuskan untuk nggak memasang ekspektasi tinggi tentang langit yang biru tanpa awan, cuaca cerah bersahabat, dan air laut biru tajam dengan gradasi turquoise yang sejuk seperti foto-foto pantai di kalendar. Nampaknya beberapa hari belakangan di atas puncak anak krakatau sudah menjadi tempat nongkrong awan IR1 beserta sanak familinya.

By the way nggak kerasa udah udah 8 bulan sejak gue pindahan ke Sidoarjo dan sekitarnya, dan hell yes gue masih survive. And i mean "survive" like just "make a stand". Survive but so far from "thriving" or "make some important progresses". Ketika kamu tinggal di daerah dengan gaya hidup yang yang begitu berbeda dan nggak ada teman senasib seperjuangan, you'll easily get bored. And when you get bored, weekends or free days wont help. Buku-buku bergeletakan nggak terbaca. Film-film cuman didownload nggak ditonton, berakhir menjadi sampah memenuhi seluruh penjuru harddisk. Blog pun sampai jamuran 3 bulan nggak tersentuh akibat mood yang hilang entah kemana. Sekitar 2 minggu lalu gue dapet kiriman buku agenda harian imut lucu setebal kamus dari si twin dan sampai sekarang gue masih mikir-mikir, what am i supposed to do with this? Akhirnya si agenda gue biarkan kosong apa adanya karena kalau diisi pun isinya bakal cuma kata-kata yang sama, work, work, go to work, overtime, go to work. In the end, getting busy with your work is the most relevant way to cure boredom.

Kadang-kadang ngerasa nggak rela juga ngelihat musim panas kali ini. Begitu panjang, begitu memanggil-manggil untuk take a trip. Tapi apa daya, setiap ajakan trip yang datang serasa nggak masuk akal, baik dari sisi waktu ataupun dompet seorang pegawai baru yang belum punya hak cuti dan seratus persen gaji. Well, ketika akhirnya ada ajakan open trip ke krakatau yang masuk akal dan masuk kantong, tiba-tiba seluruh penduduk Banten pasang status di Facebook "Alhamdulillah hujan" meruntuhkan harapan tentang liburan musim panas yang menyenangkan -__-

Ah whatever, dear Mr. Weekend, please come quickly!
Tuesday, October 28, 2014


Untuk seorang teman - atau siapapun yang ngerasa -

Millions of people in the world and you still stuck on same old person. Hundreds of good times you have these years and you still keep those same old memories. Dont you understand that moving on is only one 'block' button away.

Membalas pesan atau enggak, itu hak kamu. Kamu nggak punya kewajiban untuk membalas setiap pesan yang masuk, atau mempercayai semua omong kosong yang hanya berani diungkapkan oleh seseorang lewat messenger tanpa menangkap nada bicara, raut muka, atau gerak tubuhnya saat mengatakan hal itu. Put a little defense. Be a little careless.
*tebar virus apatis*



Social media. Instant messenger. Ah, manusia jaman sekarang. Sarana komunikasi makin mudah tapi berkomunikasi jadi makin dan makin menjelimet.





Sunday, June 1, 2014
When you live in a city where you barely know anyone, best thing to do on a free day is to ride to a part of the city you've never been before, spot a coffeeshop with foursquare, get a table on the corner, take some times yourself blogwalking, enjoy being alone in the crowd of strangers, and ignore messages on your cellphone.

Dan kebetulan banget, nggak ada angin nggak ada ujan ujug-ujug teman diklat gue si F ngewhatsapp.
"mas rian disana punya temen?"
"kebayang aja, tinggal sendiri, gak ada temen, libur. Gak ada yang diajakin ngobrol, gak ada yg diajakin main. bingung ngapain seharian"

Dan gue bingung jawabnya. Haha. Setelah gue inget-inget ternyata emang bener. Selain sekedar say hello sama tetangga2 kalo kebetulan ketemu atau iseng manggilin nama bocah-bocah yang lagi main di depan rumah, ternyata hari ini gue sama sekali gak ngobrol sama siapa-siapa.

Tetiba gue inget obrolan sama si maldives girl dulu waktu masih di Bali. How we both craved for a brand new life, somewhere on a mountain side or seashored place. Dreamt about starting a new life somewhere far away we've never been before, and no one knew us, with new people, new job, new experiences. New life. Sounds so lovely.

Well tapi sekarang ketika sudah bener-bener dijalanin, gue jadi mikir, what's the point of that so-called 'new life'? Ujung-ujungnya yang gue rasain sama aja, rutinitas yang sama, kebiasaan-kebiasaan yang sama, cara hidup yang sama, hanya berbeda tempat. New people is nothing better. New place but nothing new. Entah deh kalo manusia yang satu itu doing good di Maldives.

Ah nampaknya makin kesini saya makin menjadi lebih realis dibanding idealis.
Tuesday, May 27, 2014

Kemarin pulang-pulang gue kaget, tiba-tiba salah satu tanaman entah-apa-namanya di halaman belakang jadi berbunga. Padahal dua hari sebelumnya waktu gue tinggal belum ada tanda-tanda. Bahkan dari sekian banyak tanaman sejenis, seumur-umur gue belum pernah lihat ada yang berbunga. Eh tiba-tiba yang satu ini muncul.

Dan lebih kaget lagi ketika akhirnya gue tau dari si nebula freak kalo ternyata itu bunga lily! Ahahaha. Jadi iniii toh....  After all these years, i finally understand why she loved lily so much. Ah, those old days! I suddenly miss those days!
Thursday, May 15, 2014
Kalo gak salah beberapa hari yang lalu gue sempet denger sepintas Farah bilang,
"Tiga minggu lagi, ketika kita duduk sendirian di kamar, baca-baca sugarbox ini, pasti bakal terharu, kangen sama masa-masa sekarang". 
Tapi realistis aja, who the hell in this earth would wait for 3 weeks to open their sugarbox!

Sekitar jam 9 malem kemaren akhirnya gue sampai rumah lagi. Sebelumya selama lebih dari 3 minggu gue tinggal di salah satu lembaga pendidikan polisi di pinggiran Kota Bandung, dalam rangka diklat prajabatan.

Dan ketika selama 3 minggu lo hidup dengan orang-orang yang sama, tidur berjejer-jejer macam ikan asin di barak yang sama, bangun jam 4 pagi dan melihat wajah-wajah yang sama, makan berhadap-hadapan dengan manusia-manusia yang sama, apel 5 kali sehari, baris-berbaris, masuk kelas dari jam setengah 8 pagi sampai jam 9 malam, olahraga melintasi sawah, ngelaundry, jajan, pesiar, ngemall, dan ngobrol di kantin sampai jam 11 malam dengan orang-orang yang sama, yang cuman bisa pisah ketika kita masuk kamar mandi, bisa dipastikan lo bakal susah move on, bakal kerasa ada yang kurang ketika semuanya berakhir.

Well, di hari terakhir kami sempet curi-curi waktu buat main sugarbox pas ceramah penutupan diklat. Intinya ada 30 lembar kertas yang masing-masing berisi nama kami. Kertas-kertas itu disebarkan, dan setiap orang dari kami wajib menulis pesan, kesan, gambar, saran, cacian, makian, curhatan, kenangan, pengakuan, atau apapun, yang ditujukan pada nama yang tertulis di masing-masing kertas. Secara anonim tentunya. Dan sebelum berpisah, kertas-kertas yang sudah berisi dikembalikan pada masing-masing orang sesuai namanya.

Idealnya, tiga minggu kemudian, ketika kami semua sudah kembali ke tempat asal masing-masing, menjalani hidup masing-masing, dan mulai lupa satu sama lain, kertas-kertas itu siap membat memori kami kembali ke masa-masa itu, mengenang kembali bahwa kami pernah lebih akrab dari apapun.

But hell with that. Begitu sampai rumah dan menyadari listrik rumah mati gara-gara pulsa listrik habis karena ditinggal lama dan sudah terlalu malam untuk beli pulsa online, akhirnya gue mager di halaman belakang, nyalain lilin, laptop, dan membuka kertas sugar box gue dan baca ulang untuk kesekian kalinya. And you know what, nggak perlu waktu 3 minggu untuk terharu. Baca sugar box koplak itu di tengah suasana yang sepi gelap-gelapan di bawah bintang-bintang diterangi cahaya lilin sudah cukup buat gw untuk kangen kalian! Huhu..

Monday, May 5, 2014
Sebenernya gue pengen bilang sesuatu ke seseorang. "Maaf" dan "Terima kasih". Tapi rasanya kok canggung ya. Ada perasaan takut kalau-kalau orang itu nggak bisa menangkap maksudnya. You know lah, dua kata tersebut memang kata-kata yang paling susah dicerna. Saking seringnya dipakai basa-basi, sampai akhirnya kehilangan makna.

Ceritanya abis dimarahin sama guru saya, gara-gara saya terlalu bego untuk jadi muridnya.

Temen saya sih sebenernya. Sebut saja meimei, bocah 19 tahun. Iya, memang usianya jauh dibawah saya, dan tampilannya seperti ABG semester 2 biasa dengan wajah cantik khas chinese, kulit putih, rambut panjang, dan style yang berkiblat dari SNSD. Walau dari luar si meimei ini terlihat seperti gadis pesolek biasa, tapi mau nggak mau gue harus mengakui, sedikit banyak jadi panutan gue dalam beberapa hal.

Jadi, gimana hebatnya si meimei ini? Well, yang pasti sih nggak banyak bocah umur 19 tahun yang punya penghasilan sendiri. Saya memang kenal meimei gara-gara  internet marketing, sekitar satu setengah tahun yang lalu. Waktu itu saya lagi semangat-semangatnya belajar nyari-nyari recehan yang jatuh di jalanan, di dunia maya. Ketika kenal sama si meimei ini dan ternyata punya hobi yang sama, akhirnya saya berpikir, ada temen nih buat belajar.

Waktu itu gue belum tahu apa-apa tentang si meimei, dan walaupun sesama pemungut receh, kami nggak pernah membahas apapun tentang earning, alias jumlah receh yang didapat. Dan diapun nggak pernah mau memberi tahu setiap kali gue tanya.


Sampai suatu hari gue beranikan diri sedikit memaksa meimei untuk buka-bukaan. Agak canggung sih, tapi waktu itu gue berpikir, berapa sih receh yang bisa dikumpulkan oleh seorang bocah SMA. Kalaupun lebih besar dari saya, paling juga nggak jauh-jauh amat.

"Ayolah mei, masa sama temen seperjuangan pake rahasia-rahasiaan. Tenang aja, aku newbie banget kok. Paling juga earning km lebih gede."

Setelah beberapa kali memaksa, akhirnya meimei mau buka suara.

Dia jawab, "Okay, i'll tell u. Tapi cukup tau yang dari affiliate aja yah. And do not judge" katanya. "Bulan lalu gue withdraw 800".

Lumayan. Satu setengah kali gaji gue waktu itu. Kemudian gue tanya lagi. Pertanyaan yang kemudian saya sesali kenapa harus menanyakannya.

"Ngumpulin segitu berapa lama?"

Terpancing pertanyaan saya yang terakhir, hari itu si meimei bener-bener buka-bukaan tentang earningnya. "Gue tiap bulan withdraw kok", katanya. Dilanjutkan dengan cerita panjang lebar tentang sepak terjangnya di dunia bisnis online selama beberapa tahun belakangan. Awalnya gara-gara nggak pernah dikasih uang jajan sama ortunya selain uang biaya sekolah. Padahal dia udah ngerasa butuh ke salon, beli make-up, pakaian yg stylish, dan lain-lain, dan lain-lain. Akhirnya si meimei berusaha mencari sumber penghasilan yang masuk akal untuk seorang anak SMA. Bisnis tanpa modal satu-satunya ya internet marketing. Sampai akhirnya saat ini dia bisa mendapatkan $500 per bulan hanya dari affiliate. Kalo lagi hoki, total per bulan bisa sampai $1000, katanya. Dan rekor tertingginya pernah mendapatkan $2000 dalam satu bulan. Setelah itu saya nggak pernah dan nggak pernah mau lagi tanya-tanya  tentang earning bulan ini. Kapok :))

Dan sejak saat itu gue tahu diri untuk nggak lagi memposisikan diri sebagai teman. Tapi sebagai murid. Setidaknya sebulan sekali gue bimbingan ke meimei. Dan sebulan sekali pula si bocah ngomel-ngomel melihat perkembangan saya yang nggak ada kemajuan. Sedih memang, harus dimarah-marain sama bocah. Tapi banyak hal yang bisa dipelajari dari si meimei. Pernah saya tanya, apa rahasianya bisa jago begitu. Si meimei jawab, "karena gue chinese". Haha, okay. Dia bilang, bisnis online sama saja sama bisnis real. Kuncinya cuma satu, harus tekun.

Tekun nggak cuma di bisnis, tapi mulai dari kebiasaan sehari-hari. Setiap hari meimei bangun jam setengah 5 pagi, jogging 30 menit, kemudian menyempatkan diri untuk online. Buat gue, nggak ada alasan untuk bangun sepagi itu selain untuk shalat subuh kemudian tidur lagi. Siang hari, setiap ada waktu senggang atau istirahat kuliah, dia menyempatkan diri untuk online, menulis review, atau menganalisa grafik trading. Lah saya? 20 menit di depan grafik saja sudah mual. Malam hari, dia aktif di forum, download ebook, atau bereksperimen dengan keyword tools. Tidur malam cukup 4 jam. Saya? Entah saya ngapain aja tiap malam, tau-tau sudah ketemu waktu tidur lagi.

Nggak cuma itu. Entah gimana mulainya, tanpa disadari si meimei juga mulai bawel sama hal-hal diluar masalah afiliasi atau forex. Mulai dari  masalah makanan, gaya hidup sehat, dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang sepele pun si meimei nggak kalah bawel. Selalu ada aja ceramahnya tentang kalori, olahraga, konsumsi protein dan karbohidrat per hari, cuci kaki sebelum tidur, tidur tepat waktu, dan semua hal yang berhubungan dengan merawat tubuh. "Tubuh itu sama kayak barang. Kalo nggak dirawat ntar cepet rusak" katanya.

Nggak nyangka, ternyata ada ya orang yang hidup seteratur itu. Pernah suatu hari saya tanya, bagaimana caranya bisa hidup rapi seperti itu. Dan dia jawab, "selalu lihat jam. Harus tau jam berapa waktunya ngapain. Kita punya waktu 24 jam setiap hari, jangan sampai ada waktu kosong, karena waktu bukan untuk dihemat-hemat".

Dan ketika diceramahin tentang hal-hal seperti itu oleh bocah yang umurnya jauh lebih muda, rasanya jleb banget. Gimana gue yang lebih dewasa mustinya memberi contoh, ternyata gue kalah jauh.

Well, dunno how to say thanks properly to people like her. Karena mau nggak mau saya harus mengakui kalau saya banyak belajar dari dia. Rasa-rasanya kata 'thanks' saja nggak cukup untuk mewakilinya.

Dan pagi ini, berbulan-bulan sejak gue terakhir kontak sama si meimei, akhirnya sempat ngobrol lagi via messenger. Mendengarkan kebawelannya tentang bagaimana memilih niche sesuai trend yang lagi happening di twitter, saya nggak tega bilang kalau saya sudah nggak pernah lagi buka-buka clickbank atau ngikutin forex. Iya, si bocah belum tau kalo sekarang gue udah nggak tinggal di Bali lagi. Pengen rasanya bilang kalo gue udah sudah putus asa melihat 1 USD duduk nyaman di posisi Rp 12ribuan dan memutuskan untuk kembali jadi pegawai kantoran saja. Tapi mendengar si meimei bawel begini, saya jadi nggak tega bilang. Fyuhh..
Saturday, March 8, 2014
nggak sesuai dengan cita-cita

Hey, I'm back!
Okay sebenernya saya nggak dari mana-mana dan nggak kemana-mana, tapi ketika kamu tinggal di pedalaman dimana sinyal seluler muncul hanya kalau operator lagi mood, ketika kamu punya internet kantor yang hanya nyambung kalau angin nggak bertiup mengacaukan sinyal radio, terhubung ke internet itu rasanya sama seperti kembali dari ujung dunia. So relieving!

Tadi pagi senior saya di kantor tanya, "Gimana? betah di sini? Nggak ada masalah kan?".
Dan gue cuma jawab "Aman kok, nggak ada masalah."

Jawaban instan, karena kalau harus ngomong panjang lebar gue sendiri nggak tau musti mulai dari mana. Terlalu banyak perubahan drastis sampai-sampai gue sendiri nggak bisa menyimpulkan kalau gue betah atau enggak.

Yang pasti sekarang tiap hari gue harus bangun sebelum subuh, sedikit strecthing dan ngopi, sebelum menempuh perjalanan berpuluh-puluh kilometer menerobos macetnya Kota Sidoarjo di pagi hari, berbelok ke jalan propinsi dan ngebut bersama dumptruck-dumptruck dan bus-bus antar propinsi, untuk kemudian menanjak-nanjak mencapai kantor yang berada di atas bukit.

Kantornya? Setiap orang yang gue tunjukin fotonya bilang nyaman, sejuk, tapi mereka nggak tau ketika kita benar-benar berada disana kita harus bisa beradaptasi dengan tiupan angin yang keras, petir yang menyambar-nyambar tepat di depan hidung kita ketika hujan, kabel-kabel listrik dan telepon yang terputus akibat tertimpa dahan-dahan pohon yang jatuh, ulat-ulat bulu dan hewan-hewan merayap yang kadang masuk ke dalam kantor ketika musim semi tiba. Belum lagi lokasi gedung-gedung kantor yang menyebar berjauhan akibat daerahnya yang berbukit membuat kesan terisolasi dari mana-mana. Bahkan untuk makan siang saja musti bolak-balik naik turun bukit. Dan bayangkan, gue musti sendirian membangun infrastruktur IT dan komunikasi beserta sensor-sensor antariksa entah-apa-namanya di tempat dengan topologi geografis semacam itu, padahal gue sama sekali nggak punya pengalaman dengan infrastruktur outdoor.

Pulang kantor juga sama, berbeda dari biasanya. Setelah menempuh 30 km perjalanan pulang, gue punya rumah pinjeman dari manusia ini yang menunggu untuk diurus. Dan ketika kita tinggal sendirian dalam satu rumah, waktu istirahat adalah ketika kita bersih-bersih rumah, menyapu, nyuci baju dan piring, buang sampah, memotong rumput liar di halaman dan merapikan taman.

Di malam hari, satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah duduk di halaman belakang rumah di bawah bintang-bintang, buka laptop, dan berharap sinyal seluler saya cukup bagus untuk koneksi internet.

Kadang kepikiran, rasa-rasanya tiga tahun lalu gue sudah tahu arah hidup gue ke mana, apa yang harus gue lakukan di masa depan, tujuannya ke mana. Rasa-rasanya tiga tahun lalu semua jalur masa depan gue tergambar dengan jelas. Tapi nyatanya sekarang gue berada jauh, jauh dari jalur itu. Nyatanya sekarang gue berada jauh dari tempat yang gue bayangkan waktu itu.

Well, intinya begitu banyak perubahan drastis membuat semuanya jadi nggak berasa. Yang kerasa cuma bagaimana hari-hari berlari, kalender dinding berbalik-balik dengan cepat, jarum jam berputar-putar begitu saja, dan hari-hari terakhir saya di umur 26 tahun makin berkurang -__-

Thursday, February 20, 2014
Awkward adalah ketika kita melewati malam tahun baru berdua namun pikiran kita masing-masing terpisah ribuan kilometer, tertambat pada orang lain. Ketika kita berdua melewati detik-detik pergantian tahun bersebelahan namun masing-masing sibuk mengucapkan selamat tahun baru untuk pertama kali pada orang lain yang jauh di sana, yang bahkan mereka nggak peduli bahwa di sini tahun sudah berganti.

Dan sekarang gue mikir, hey, bukannya ini gampang ya? You, me, together, sitting side by side, this easy..
So  why wouldn't we just shake hands and say happy new year to each other?
Why wouldn't we just let down our guards to each other, forget the others, and save our time to ourselves?

Haha kenapa deh saya. Forget it. Begini nih akibatnya kalo wajib ngeblog tapi nggak ada yang bisa dibahas. Ujung-ujungnya stensilan lagi stensilan lagi.

By the way selamat tahun baru, semua! Selamat merit buat kamu-kamu yang mau merit di 2014! Udah itu aja.

Wednesday, January 1, 2014
History repeats itself. That makes life easy to predict. Just do the same thing, you'll end up at the same situation.

Gue inget beberapa tahun lalu pernah bingung milih kerjaan antara jadi tukang kredit di bank BUMN atau jadi buruh halus di salah satu perusahaan IT multinasional. Bahkan saking bingungnya, gue sampai berubah pikiran dan membatalkan salah satu tandatangan kontrak di menit-menit terakhir, sampai diomelin sama si bapak-bapak HRD.

Dan sekarang, lagi-lagi gue ketemu dilema yang mirip. Tapi lebih complicated.

Pas lagi musim-musimnya CPNS kemarin, gue iseng masukin lamaran. Sebenernya sih gue nggak minat jadi PNS, tapi berhubung inget umur, mau sampai kapan sikut-sikutan, lompat-lompatan di perusahaan swasta kapitalis milik orang asing. Rasanya lebih sreg kalau kerja keras untuk negara daripada untuk kapitalis :p Kalopun jadi PNS, gue bakal milih yang non-kementrian. Iya non-kementrian, karena gue juga malas jadi birokrat atau politikus. *Banyak maunya*. Yayaya, saya memang idealis.

Akhirnya iseng gue masukin lamaran ke dua lembaga non-kementrian, LAPAN dan LIPI. Cukup dua, karena gue nggak mau kejadian lagi, galau memilih yang mana, seandainya banyak yang diterima *pede*.

Target utama gue sih di LAPAN. Kalo lolos gue bakal penempatan di pelosok Pasuruan, di kaki Gunung Arjuno. Jadi tukang bersih-bersih satelit, mantengin orbit, main astronot-astronotan tiap malem. Kantornya juga keren, tiap ngantor musti manjat bukit. Kurang asik apa lagi coba.   

Sementara lamaran di LIPI gue masukin buat iseng aja, nggak ada harapan apa-apa. Kalo lolos cuma jadi pegawai biasa, posisi junior corruptor biasa di Jakarta. Satu-satunya yang menarik adalah, siapa tau nantinya gue bisa jadi peneliti beneran di sana.

Eh beberapa waktu kemudian, nggak nyangka ternyata justru yang berjalan mulus malah lamaran yang di LIPI. Gue lulus. Bener-bener lulus. Dari beribu-ribu orang. Padahal tiap hari gue berdoa semoga nggak lolos. Padahal sudah menskip satu dari dua interview. Tetep lulus juga.

Sementara yang di LAPAN, gue baru mau interview akhir. Masih ada saingan satu orang lagi di interview akhir. Dan setelah gue kepoin, ternyata si saingan ini bukan orang sembarangan, track recordnya sakti. Jadi rada nggak pede.

Nah, yang bikin dilema, gue sudah harus daftar ulang di LIPI minggu depan. Padahal interview di LAPAN juga baru minggu depan. Sebenarnya dalam hati masih pengen berjuang untuk lolos di LAPAN. Tapi itu artinya gue harus melepas lamaran di LIPI yang sudah pasti lulus. Karena kalau sudah daftar ulang, sudah nggak bisa mengundurkan diri.

Jadi mending mana ya?  Membuang yang sudah pasti dan mencoba mengambil kesempatan yang belum pasti, dengan resiko kehilangan dua-duanya? Atau menerima apa adanya, main aman tanpa resiko, dan melepaskan kesempatan untuk mendapatkan yang lebih pas? Huhu, bingung..

*Berasa curhat di H2H-nya Kaskus*


Tuesday, November 19, 2013

Loh, ternyata tanggal 6 September lalu blog ini resmi berumur 9 tahun toh? *baru nyadar*
Kalo manusia, 9 tahun itu udah kelas 3 SD kali ya..
Kalo kuda, umur 9 tahun udah nyari makan sendiri..
Kalo kucing, umur 9 tahun itu udah mau mati :'(
Manusia juga sih :|

By the way, welcome to suddenly-coming October! Live life to the fullest, do everything with your best, yesterday is history, tommorow is mystery, today is a gift! Cheer like u're 9 years old, pray like u're 9 years old cat!

Apa deh.

Tuesday, October 1, 2013
Kayaknya saya lagi galau deh. Meskipun nggak tau galaunya kenapa. Rasanya tiba-tiba semua jadi membosankan, hambar, nggak menarik. Kebiasaan-kebiasaan kecil hilang entah kemana. Yang biasanya bangun tidur disempetin baca-baca berita dan buka-buka blog orang, sekarang enggak. Yang biasanya buka twitter, facebook, path sambil makan siang, sekarang enggak. Yang biasanya sore-sore ngasih makan ikan, main sama kucing, gangguin ayam di belakang rumah, sekarang enggak. Mereka telantar dan saya nggak peduli :| Bahkan ngetrip pun sekarang rasanya hambar. Belum lagi ngelihat USD ngebut sampai mendekati Rp.12ribu/USD. Masa iya 1SGD jadi Rp.9500. Itu konyol. Itu kan harga USD 2 bulan lalu. Belum lagi orderan freelance yang mandek. Belum lagi biaya buka start-up, birokrasi menyebalkan, 6 bulan masih lama. Belum lagi nikahin anak orang. Kalo gini ujung-ujungnya lari ke CPNS juga. Jakarta lagi Jakarta lagi. Ergh! Okay, abaikan. Saya lagi galau.
Saturday, September 7, 2013

Kalau ngomongin penggunaan istilah '3 Gili' di Lombok, orang-orang pasti langsung teringat sama Gili Trawangan yang tersohor itu. Iya, Gili Trawangan, bersama dua tetangganya Gili Meno dan Gili Ayer, saat ini sudah menjadi ikon baru pariwisata Indonesia Timur sebagai 'The New Kuta', tempatnya orang bebas berjoget dan mabok di jalan raya, party tiap malam, dan nyimeng tanpa harus sembunyi-sembunyi. Kuta is so yesterday, untuk orang-orang itu.
Buat saya sih, Gili Trawangan is so last year malah :p Kali ini saya mau cerita tentang tiga Gili (pulau) yang lain di Lombok. Iya, ada tiga gili lain yang menjadi tujuan alternatif para backpacker yang jenuh sama sumpeknya ketenangan palsu di tiga gili sebelumnya. Meskipun di Gili Trawangan dkk tidak diperbolehkan ada kendaraan bermotor, namun tetap saja suasananya masih kurang begitu nyaman karena banyaknya bangunan hotel, resort dan kafe yang memenuhi setiap meter persegi pulau tersebut. Dan itu nggak cukup tenang untuk kami. We want more!

Dan akhirnya saya temukan ketenangan itu di tiga buah pulau privat yang bernama Gili Nanggu, Gili Sudak, dan Gili Kedis. Berbeda dengan tiga gili sebelumnya, tiga gili yang ini adalah pulau privat, yang berarti dimiliki oleh satu pemilik dan tidak ada penduduk yang menetap di sana. Jadi aman dan nyaman terlindungi dari yang namanya party, dugem, dan modernisasi lainnya.


How to Get There?

Saturday, June 1, 2013


Entah sudah berapa lama saya tinggal di Bali, tapi malah baru tahu tentang spot snorkeling yang satu ini. Iya sih memang, Pulau Menjangan ini baru mulai booming menjadi salah satu tujuan utama bagi para pecinta bawah laut. Sebelumnya sih saya cuma mengenal pulau yang berada di utara Pulau Bali ini sebagai tempat peribadatan umat Hindu di Bali. Masyarakat di sini biasanya cuma sekedar menyeberang ke pulau ini untuk mengunjungi pura yang ada di sana. Siapa sangka ternyata di bawah laut yang biasa mereka lewati  terdapat salah satu pemandangan bawah laut terindah di Indonesia.

Akhir bulan April kemarin akhirnya saya berkesempatan untuk mengintip sedikit keindahan bawah laut pulau itu. Kali ini saya nemu partner di forum yang kebetulan pengen ke sana. Mereka saja bela-belain datang dari Jakarta cuma untuk pergi ke pulau ini, masa iya saya yang tinggal di Bali malah nggak pernah ke sana. Jadilah kami janjian, kopdar, dan kemudian berangkat bareng.
Wednesday, May 22, 2013



Hari ketiga di Makassar kami habiskan untuk island hopping di kepulauan di dekat kota.

Ini yang menurut saya sangat menarik dari Kota Makassar. Di dekat pusat kota ada kepulauan! Kok bisa? Iya, kota ini memang berada di pinggir laut. Dan di laut di sekitar situ terdapat kepulauan yang bernama Spermonde, dengan 11 pulau kecil yang bisa dikunjungi.

Untuk island hopping pun caranya sangat mudah. kita tinggal menyeberang jalan dari depan Benteng Fort Rotterdam. Ada dermaga kecil di sana, yang penuh dengan kapal nelayan yang bisa disewa. Di perairan sekitar situ terdapat banyak pulau kecil yang bisa dikunjungi. Banyak yang padat penduduknya, namun ada juga pulau-pulau kosong yang masih alami. Pulau Samalona dan Pulau Kayangan misalnya. Kedua pulau tersebut hanya memilik luas 3-5 hektar, tapi penduduknya padat banget. Untuk pulau kosongnya, ada Pulau Kodinareng Keke, yang ukurannya hanya 10 menit mengelilingi pulau dengan berjalan kaki.
Saturday, May 18, 2013

 Pasirnya yang kayak tepung


Hoaahmm.. Penyakit males ngeblog gue saya kambuh lagi. Padahal posting tentang Makassar kemaren aja belom selesai. Belum lagi koneksi semarpret congex yang klaimnya unlimited ternyata sekarang sudah dibatasi pake fup (Free Usage Policy) alias batas pemakaian normal. Itu artinya untuk paket standar kita cuma bisa internetan dengan agak nyaman sampai 2GB/bulan. Setelah itu, siap-siap aja nahan diri buat nggak misuh-misuh, karena buka Google aja sering nggak konek. Kalo lagi promo aja berkoar-koar, i hate slow lah, ini itu lah. Tapi kalo ada perubahan yang merugikan konsumen, serasa disembunyikan banget. Apa sih susahnya kasih sms notifikasi kalau ada perubahan aturan paket? Sms-sms promo ngiklan yang rada spam aja bisa, masa untuk notifikasi yang penting nggak bisa. Huh.

Skip it. Langsung aja deh, berhubung di posting sebelumnya saya sudah terlanjur ngomong mau upload foto-foto di Bira, jadi biar nggak dibilang janji-janji palsu saya upload aja foto-foto ini walaupun dengan susah payah gara-gara koneksi yang nggak memadai. Intinya, ini aja nih yang saya dapat selama setengah hari di Tanjung Bira kemaren.

Sekitar jam setengah 6 pagi saya sudah mangkal di warung di tepi pantai Bira. Bira yang Tanjung Bira di Sulawesi Selatan loh ya, bukan Pulau Bira di Kepulauan Seribu. Niatnya sih mau mantengin sunrise, tapi ternyata langit lumayan mendung. Akhirnya saya cuma ngopi-ngopi sambil ngobrol basa-basi sama pemilik warung dan nelayan-nelayan di sana, dilanjut jepret-jepret foto seadanya, kemudian balik kandang untuk tidur lagi.


sunrisenya gagal


Bangun-bangun ngelihat keluar jendela, ternyata hujan! Hadeeh, waktu yang cuma setengah hari dipotong lagi buat nunggu hujan reda. Ya sudahlah. Yang penting, begitu hujan reda sekitar pukul setengah sembilan pagi kami segera keluar dari penginapan dan, byurr, langsung nyebur, hehe. Maklum sejak semalam kami sudah nggak sabar untuk mencicipi air pantai ini :D Sebenarnya cuaca nggak begitu bagus sih. Masih rada mendung, dan pasirnya juga masih basah setelah terguyur hujan tadi pagi. Tapi hal itu sama sekali nggak mengurangi indahnya pemandangan di pantai ini. Bibir pantainya yang sangat-sangat landai membuat lautnya jadi nggak berombak. Bahkan hampir nggak ada riak-riak air yang besar. Sejauh mata memandang cuma ada air laut yang tenang dan jernih, pasir pantai yang berwarna cokelat muda mendekai putih, dan dasar laut yang berwarna turquoise yang terlihat jelas. 


 TSnya pose dulu, biar ga dibilang hoax :p


Pantainya landai, perfect buat main air

Di pinggir pantai banyak terdapat kapal-kapal nelayan dan speedboat, serta banana boat yang bisa disewa. Sementara di sepanjang pantai berdiri warung-warung semi permanen tempat warga lokal berjualan. Untungnya hari itu bukan hari libur, jadi suasana di pantai ini sangat sepi, hanya ada beberapa pengunjung lain selain kami.


Suasana Pantai Bira


Setelah puas mencicipi pantai, kami segera mencari kapal nelayan untuk disewa. Rencananya kami akan sedikit berlayar, ke pinggiran Pulau Liukang untuk snorkling. Katanya sih spot terbaik untuk snorkling di daerah ini ada di sana. Oiya, di sekitar Tanjung Bira ini ada beberapa pulau yang bisa dikunjungi, seperti Pulau Liukang dan pulau saudara ente, alias Pulau Kambing :)) Untuk menyebrang ke pulau-pulau itu biasanya harus menyewa kapal nelayan atau speedboat. Kapal nelayan jelas pilihan yang bijak, karena selain murah, kapal nelayan juga bisa memuat sampai 8 orang. Perjalanannya juga nggak terlalu jauh, sekitar 20 menit untuk sampai di Pulau Liukang. Setelah tawar menawar dengan nelayan di sana menggunakan trik jual mahal dan sok-sokan nggak jadi nyeberang, akhirnya kami dapat harga 200ribu untuk satu kapal pulang-pergi ke Pulau Liukang. Kami sewa kapal dari Bpk Bilkih, pemilik kapal nelayan yang namanya Salamatta. Kontaknya 081253592352. Jadi kalau suatu saat anda-anda sekalian butuh kapal di Bira, atau penginapan, hubungi saja si bapak ini. Bukan promosi yaa, ini cuma ngiklan #eh.

Singkat cerita, kami menghabiskan waktu sekitar 2,5 jam snorkling di pinggir Pulau Liukang. Bawah lautnya bagus, lumayan worthed untuk jadi tempat kubangan berlama-lama. Bahkan ada satu dua spot yang bagus banget, yang terumbu karangnya besar-besar dan hidup, berwarna-warni. Sekelas Karimunjawa lah..


Untuk Pulau Liukangnya sendiri kami nggak mampir, karena nggak kelihatan terlalu menarik. Dan kami juga nggak punya cukup banyak waktu untuk dihabiskan di sana. Sayangnya selama berlayar dan snorkling saya nggak berani mengeluarkan kamera, gara-gara laju kapalnya terlalu ngebut sehingga menyebabkan ombak sampai pecah berterbangan masuk ke kapal.

Kembali dari snorkling, kami sempatkan sejenak tiduran di pantai. Kami ambil posisi di sebuah spot yang terlindung di balik tanjung-tanjung kecil, sehingga nggak terlihat dari pantai. Serasa punya pantai pribadi :p Makin siang, pemandangan di pantai ini makin bagus. Lautnya makin terlihat biru jernih, dan langitnya pun membiru tajam membentang sejauh mata memandang.



Sayangnya nggak seberapa lama, kami sudah harus kembali ke penginapan.Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Rencananya satu jam lagi jadwal kami pulang ke Makassar. Sebenernya masih pengen lebih lama lagi, tapi kami rada kesian sama si supir plat kuning. Sepagian tadi sih akhirnya si spoir ikut kami mandi-mandi en snorkling. Sekalian nunggu kami balik ke Makassar katanya. Kami sih oke-oke aja, malah seneng, jadi nggak repot-repot naik pete-pete ke Bulukumba dulu. Akhirnya kami putuskan setengah dua siang balik ke Makassar.

Well, sebenarnya masih banyak spot-spot lain yang bisa dikunjungi di daerah Tanjung Bira ini. Ada Pantai Bara, Pantai Bira Timur, dan sentra pembuatan Perahu Phinisi. Tapi karena kami tahu diri, cuma punya waktu efektif setengah hari untuk menyicip Tanjung Bira ini, jadi kami ikhlaskan saja spot-spot tadi. Cukup memandangi pantai-pantai itu dari jauh saja. Next time lah ya.

Pantai Bira Timur dari kejauhan

Monday, May 6, 2013

Pernah denger Tanjung Bira? Pernah lah yaa. Sebuah tanjung di ujung selatan Sulawesi,  yang terkenal dengan pasir pantainya yang selembut tepung. Sekitar 6 jam perjalanan darat dari Makassar. Waktu trip ke Makassar kemarin saya sempat mampir untuk sekedar ngecek apakah pasirnya bener-bener selembut itu.

Well, kalo ngomongin transportasi dari Makassar ke Tanjung Bira, bisa dibilang susah-susah gampang. Sebenarnya nggak susah mendapatkan transportasi umum ke arah Bira. Yang susah itu ngatur waktunya. Apalagi kalau flashpacking, alias trip yang nggak punya banyak waktu seperti saya. Rencananya kami berangkat sesore mungkin dari Makassar, jadi sampai di Bira tengah malam. Besok paginya eksplore daerah sana sebentar, kemudian siangnya langsung kembali ke Makassar lagi.

Secara umum sih ada 3 opsi transportasi untuk menuju ke Tanjung Bira.
Pertama, dengan menggunakan kendaraan pribadi, atau mobil sewaan. Yang ini paling praktis, tentunya. Selain lebih nyaman, waktu perjalanannya juga fleksibel, bisa berangkat kapan saja. Tarifnya berkisar antara 300-500ribu per mobil, tanpa bensin. Untuk rutenya gampang banget, tinggal mengikuti jalan poros sampai ke Bulukumba, kemudian dilanjutkan dengan mengikuti jalan ke arah Bira. Hanya saja hati-hati kalau mau jalan malam, karena jalanan yang masih sepi dan rawan kriminalitas. Waktu paling tepat sih sekitar jam 3 pagi berangkat dari Makassar, karena lebih aman, nggak buang waktu, dan masih cukup pagi ketika sampai di Bira. Pilihan ini paling cocok untuk traveler yang punya rombongan banyak dan waktu yang mepet. Kalo naik motor sih nggak recomended ya, karena jaraknya yang jauh sekitar 200km dari Makassar, kondisi jalan yang nggak enak buat biker, dan juga pom bensin yang jarang-jarang.

Opsi kedua, bisa naik Bus tujuan Selayar. Ini juga lumayan praktis, karena bus ini berangkat dari Makassar dan menyberang ke Selayar lewat Pelabuhan Bira. Jadi bisa langsung turun di Bira. Waktu tempuhnya pun on time, karena memang bus harus mengejar kapal ferry ke Selayar. Jadi pasti tepat waktu. Sayangnya bus menuju Selayar punya jam operasional yang kurang bersahabat, yaitu cuma 1 kali sehari, dan berangkat pukul 10 pagi dari Terminal Malengkeri Makassar. Dengan jarak tempuh sekitar 5-6 jam, bisa dipastikan bakal buang waktu siang hari di jalan. Tarif busnya sendiri sekitar 70-100ribu. Untuk kalian yang punya banyak waktu sih pilihan ini yang paling mudah, murah, dan nyaman.

Opsi ketiga, naik angkutan umum plat kuning dari Makassar ke Bulukumba, dilanjutkan dengan pete-pete dari Bulukumba ke Bira. Angkutan umum ini sebenarnya mobil biasa yang dijadikan angkutan umum. Biasanya Xenia atau Avanza, dengan plat kuning. Jadi semacam travel tapi nggak pakai tiket gitu. Mobil-mobil plat kuning ini banyak mangkal di pinggir jalan sekitar Terminal Malengkeri, dari pagi sampai sore. Opsi ini paling cocok untuk solo traveler atau mereka yang rombongannya cuma 2 atau 3 orang, karena lebih murah daripada rental mobil sendiri. Sayangnya untuk plat kuning ini, jadwal berangkatnya rada goyang, karena akan ngetem menunggu penumpang sampai mobil penuh. Atau bakal sering berhenti di jalan, mencari penumpang. Dan lebih parah lagi, kalau penumpangnya dikit, bisa-bisa batal berangkat. Jadi kalau mau pilih opsi ini musti pinter-pinter berhitung dan ngatur waktu. Karena plat kuning ini biasanya cuma mengantar sampai Bulukumba, sedangkan pete-pete dari Bulukumba ke Bira diatas jam 4 sore sudah jarang. Estimasi perjalanan ke Bulukumba sendiri memakan waktu 5 jam. Efektifnya sih kita standby sepagi mungkin di Terminal Malengkeri, agar bisa ikut plat kuning pertama yang berangkat. Atau kalau nggak punya banyak waktu dan pengen jalan malam, bisa juga datang sekitar pukul 5 sore ke Terminal Malengkeri, dan pastikan kita naik plat kuning yang sopirnya asal Bira, jadi waktu sopirnya pulang ke rumah, bisa sekalian nebeng sampai Bira. Kalau nggak dapat plat kuning yang sopirnya asal Bira, bisa juga kita nego ke supir untuk mengantar sampai ke Bira, seperti yang saya lakukan kemarin. Untuk tarifnya, penduduk lokal biasanya cuma bayar 35-50ribu sampai Bulukumba. Tapi untuk wisatawan dapat harga 60 ribu sampai Bulukumba masih termasuk standar lah. Tergantung skill nawar, karena memang nggak ada tarif yang fix.

Sore itu, pulang dari rammang-rammang pukul 15:30, kami baru sampai di Terminal Malengkeri sekitar pukul 17:30, karena jalanan lumayan macet. Begitu sampai di depan terminal, kami langsung diserbu oleh para supir plat kuning yang menanyakan tujuan kami. Iya, di depan terminal banyak plat kuning yang berjejer menunggu penumpang. Bukan hanya tujuan Bulukumba, tapi juga daerah-daerah lain. Dengan cepat kami bilang,
"Mau ke Bira, ada supir yg rumahnya Bira gak?"
Ternyata nggak ada, sepertinya kami kesorean. Untungnya ada salah satu supir plat kuning yang bersedia mengantar sampai ke Bira, walau dengan tambahan ongkos yang lumayan. Yah, daripada nggak ada kepastian, akhirnya kami terima tawaran itu, 100 ribu per orang, dari Makassar sampai Pantai Tanjung Bira, dengan pertimbangan hari sudah malam. Itung-itung biaya effort si supir yang tengah malam harus pulang kembali ke Bulukumba setelah mengantarkan kami sampai ke Bira.

Untungnya kami nggak harus menunggu lama karena mobil sudah penuh. Sekitar pukul 17:45 mobil pun berangkat.

Perjalanan kami dari Makassar sampai di Pantai Tanjung Bira memakan waktu 6 jam. Pukul setengah duabelas malam, mobil kami memasuki kawasan Pantai Tanjung Bira. Awalnya kami agak kuatir nggak dapat penginapan, karena memang kami belum booking terlebih dahulu. Tapi ternyata di kawasan pantai itu dipenuhi dengan penginapan.

Kami bermalam di Rutepar Guesthouse (085343643373). Tarif per malam penginapan ini adalah 200ribu untuk kamar fan, dan 320ribu untuk kamar AC. Sebenarnya di sana masih banyak penginapan lain yang lebih murah, sekitar 100-150rb semalam. Tapi karena letak guesthouse yang strategis dan privat (cuma ada 4 kamar yg berdiri sendiri-sendiri di guesthouse ini), dan jaraknya yang cuma 50 meter dari pantai, serta malam itu kami dapat harga bagus (200rb utk kamar AC) karena datang tengah malam, akhirnya kami pilih guesthouse tersebut.

And you know what, supir plat kuning yang mengantarkan kami sampai ke Bira tadi nggak berani pulang sendirian ke Bulukumba, karena sudah terlalu malam -___- Akhirnya si supir tadi bermalam juga di Bira.

Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, suasana di sana sudah mulai sepi. Saya masih menemani si supir ngobrol-ngobrol di depan kamar. Asri, itu nama si supir. Umurnya lebih muda dari saya, sekitar awal 20an, jadi lumayan bisa nyambung ngobrolnya. Kalau suatu saat kalian berniat pergi ke Bira dan butuh kendaraan, bisa kontak si Asri ini, nomornya 085387589694.

Bosen ngobrol-ngobrol, akhirnya kami keliling-keliling daerah sana. Ngintip-ngintip kehidupan malam di sana, hehe. Ternyata di salah satu sudut bukit kecil di atas pantai terdapat beberapa bar dan diskotik juga. Ecek-ecek sih, tapi lumayan buat yang mau nyicip dugem ala daerah pelosok :)) Kami sendiri nggak masuk ke diskotiknya sih, karena memang nggak suka hal-hal semacam itu.

Sekitar pukul 2 dini hari kami kembali ke penginapan. Sebenernya mata ini sama sekali nggak ngantuk, karena lumayan excited sama suasana malam harinya, dengan bintang-bintang yang kelihatan banyak banget, suara ombak yang berderu di kejauhan, serta aroma angin laut yang khas. Tapi karena nanti pagi-pagi sekali kami harus mengejar sunrise di pantai, akhirnya kami putuskan untuk tidur.

Cerita tentang Bira-nya bersambung ya, foto-fotonya di next post..

Friday, April 26, 2013
Siapa yang pernah dengar Rammang-Rammang? Bahkan supir angkot daerah sana pun nggak tahu. Apa itu taman batu karst? Apa itu potensi heritage dunia? Itu cuma tumpukan kapur yang sebentar lagi hilang, dieksploitasi menjadi bahan baku oleh pabrik semen.
Welcome to Indonesia!

Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah Bugis. Maklum newbie, hehe. Sebenarnya tujuan utama saya jelas, mengintip daerah bawah laut kepulauan di sekitar Kota Makassar. Dan kalau bisa sampai ke Tanjung Bira. Denger-denger sih lumayan banyak spot yang worthed untuk dipakai mandi-mandi. Snorkling gear sudah standby di dalam ransel, tinggal menunggu aba-aba untuk nyebur :D

11 April 2013, saya berangkat ke Makassar via Surabaya, sendirian. Nantinya sih bakal keliling-keliling berdua sama Kiki, teman yang berangkat dari Jakarta. Rencananya kami bertemu di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Dan kami cuma modal nekat, karena sama-sama baru pertama kali ke Makassar. Cuma berbekal itinerary kemarin, budget yang sangat-sangat mepet, dan sedikit kegilaan akan turquoise-nya lautan dangkal, putihnya pasir pantai, dan warna-warni terumbu bawah laut.

Bahkan sesaat sebelum landing saja, pemandangan laut lepas dan kepulauan kecilnya sudah memanggil-manggil. Indahnyaa..






Hehehe, stop. Sebenernya di sini saya bukan mau bercerita tentang laut. Tapi tentang Rammang-Rammang, sebuah dusun di perbatasan Maros - Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Sekitar 40 km di utara Kota Makassar. Lantas ada apa dengan dusun ini? Di dusun ini terdapat "taman" batu karst yang sangat luas. Tebing-tebing karst (kapur) berjejer membentang membentuk sebuah landscape unik yang jarang ditemui di tempat lain. Tebing-tebing karst ini diperkirakan terbentuk beberapa juta tahun yang lalu oleh aktivitas lempeng bumi yang bergeser.

Dan yang bikin spesial, konon katanya daerah ini adalah kawasan karst terbesar ketiga di dunia, setelah Kawasan Karst China Selatan dan Ha Long Bay Vietnam. Bedanya, kalau dua yang di luar negeri itu sudah jadi National Park dan jadi UNESCO World Heritage, kawasan karst Rammang-Rammang ini malah teronggok di tengah sawah, terlupakan oleh tuan rumahnya sendiri. Masa iya terlupakan? Baca deh FR saya, nanti kalian bakal ngerti.

Sekitar pukul setengah 11 pagi, kami ketemuan di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Tujuan pertama kami adalah Rammang-Rammang, karena memang letaknya berlawanan arah dengan Kota Makassar. Posisi bandara ada di tengah-tengah antara Kota Makassar dengan Rammang-Rammang. Kalau dari bandara ke kota kira-kira 20 km ke selatan, sementara dari bandara ke Rammang-Rammang sekitar 20 km ke utara. Jadi daripada bolak-balik ke kota dulu, lebih praktis kalau dari bandara langsung ke Rammang-Rammang.

Keluar bandara kami diantar ojek sampai jalan poros. Sebenarnya ada damri atau shuttle bus gratis dari bandara ke jalan poros/jalan besar, tapi karena nggak ingin membuang waktu menunggu bus kami pilih naik ojek saja. Sampai di jalan besar, kami naik pete-pete (angkot) jurusan Kota-Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Dari jalan besar ke Rammang-Rammang cukup naik pete-pete sekali saja, sekitar 30 menit sampai 1 jam. Dan jangan bilang ke sopir pete-pete, mau turun di Rammang-Rammang! Kenapa? Karena supirnya kadang nggak ngerti Rammang-Rammang itu di mana. Jadi?

Sekitar setengah jam dari bandara, pete-pete kami melewati daerah Maros. Di situ saya bilang pada supir pete-pete, "Turun di Rammang-Rammang ya pak".
Dan tau jawabnya? Si supir malah balik bertanya, "Rammang-Rammang itu dimana ya?".
Hah. Saya dan Kiki saling berpandangan. Nah loh, turun di mana dong?

Untungnya saya ingat pernah baca blog orang, turunnya di pertigaan pabrik semen Bosowa. Akhirnya saya bilang, "pertigaan semen Bosowa pak".
Dan si supir pete-pete langsung tau. "Ooh, iya mas", jawabnya.

Dari sini saya sudah rada heran, masa iya supir angkot di sini aja nggak tau Rammang-Rammang, karst terbesar ketiga di dunia?   

Sekitar pukul 11 lewat kami sampai juga di pertigaan pabrik semen Bosowa. Dari kejauhan sudah terlihat tebing-tebing karst yang berdiri megah. Berjajar rapi dari kiri ke kanan, menampilkan pemandangan yang nggak biasa.



Dari pertigaan ke dusun Rammang-Rammang masih berjarak 1,5 km lagi. Nggak jauh sih sebenernya kalau ditempuh dengan jalan kaki. Tapi lagi-lagi kami pilih ojek untuk menghemat waktu. Maklum, judulnya kan flashpacking, hehe. Kami putuskan untuk naik ojek langsung ke pinggir sungai, melewati taman batu yang membentang di sisi jalan. Iya, rencananya kami akan langsung menyusuri sungai dengan perahu dulu, baru nanti pulangnya mampir ke taman batu. Di pinggir sungai kami menyewa perahu unttuk mengantarkan kami menyusuri sungai.

Sebenarnya siang itu nggak ada warga yang mangkal menyewakan perahu. Semua warga sibuk bertanam di sawah. Tapi kami nggak menyerah begitu saja. Di saat-saat seperti inilah gunanya bergaul sama tukang ojek :p akhirnya tukang ojek yang mengantar kami jadi kesana-kemari keliling nyariin warga yang punya perahu untuk kami :D

Jadi kalo kalian-kalian ada rencana mau ke Rammang-Rammang, nggak ada salahnya untuk kontak ojek yang saya pakai, buat transport atau sewa perahu. Ini kontaknya 0853-9923-9516. Tarif perahunya standar Rp 100ribu.

Sambil nunggu perahu datang, kami ketemuan sama Ancha, momod forum sebelah, Backpacker Indonesia, yang biasa ngehost para backpacker di Rammang-Rammang. Sebenernya saya bukan anggota BPI sih, tapi siapa sih yang nggak mau dihostin, wkwk.

Bertiga kami naik perahu yang datang menjemput. Perahu kami pun berjalan perlahan menyusuri sungai. Menembus pelosok daerah itu, bersampan di antara tebing-tebing karst, dengan semak-semak nipah dan bakau berjejer menutupi pinggiran sungai, rasanya menyenangkan!

 

Akhirnya sampai juga kami di ujung sungai, di spot yang bagus untuk menikmati pemandangan. Spot ini tersembunyi  di antara tebing-tebing karst yang tinggi. Di sana kami berfoto-foto, menikmati suasana sunyi yang nyaman. dengan udara yang sejuk, pepohonan yang menghijau dan hampir nggak ada manusia selain kami, rasanya damai bangett.

Sekitar setengah jam kami berkeliling tempat itu, melintasi setapak-setapak rumput, melompati genangan-genangan air. Sayangnya langitnya nggak cukup bagus untuk foto-foto. Jadi kami foto seadanya aja. Puas berkeliling, kami kembali ke perahu untuk selanjutnya mengunjungi taman karst yang tadi kami lewati.



Lokasi taman karstnya sendiri nggak begitu jauh dari sungai. Taman karst ini terletak di antara sawah-sawah penduduk sekitar, jadi untuk mencapai taman karst itu kami harus melintasi pematang-pematang, melompati becek-becek genangan air dan tumpukan jerami.



 



Sayangnya sebelum sempat menjelajah lebih jauh, kami sudah harus kembali ke Kota Makassar. Jam sudah menunjukkan pukul 14:30, dan menurut itin sudah saatnya kami kembali. Sebelum meninggalkan dusun Rammang-Rammang, kami sempatkan mampir di sebuah warung makan di pertigaan pabrik semen. Di sana kami nyicip-nyicip salah satu masakan khas Makassar, yaitu Pallubasa. Oya, di depan warung itu kami juga bertemu Mba Ade, seorang solo traveler yang kebetulan juga pulang dari Rammang-Rammang. Berempat kami makan di warung itu sambil ngobrol panjang lebar. Nantinya sih Mba Ade bakal gabung jadi rombongan ke Pulau Samalona, tapi itu cerita nanti :D

Pukul 15:30 kami bubaran. Saya dan Kiki menuju Kota Makassar untuk langsung mengejar mobil ke Tanjung Bira, Ancha pulang ke rumah, dan Mba Ade mengejar bus ke Toraja. Iya, akhirnya kami putuskan untuk menggunakan itin versi Tanjung Bira saja. Sembari memandangi bukit-bukit karst yang menjauh, saya janji pada diri sendiri. Suatu saat saya bakal balik lagi, pasti.

Anyway, beginilah negara kita, potensi seperti Rammang-Rammang ini sama sekali nggak dingat. Siapa yang pernah dengar Rammang-Rammang? Bahkan supir angkot daerah sendiri pun nggak tau. Apa itu karst? Apa itu potensi heritage dunia? Itu cuma tumpukan kapur yang sebentar lagi hilang diolah menjadi bahan baku semen. Mungkin untuk negara kita, Rammang-Rammang cuma tumpukan batu kapur biasa, yang berpotensi jadi bahan dasar semen di pabrik semen Bosowa. Tempat ini memang bukan (atau tepatnya belum) menjadi tempat wisata resmi. Cuma dari mulut ke mulut saja. Dan saat ini memang justru anak-anak BPI yang gencar-gencarnya mempromosikan tempat ini melalui forum-forum domestik maupun mancanegara. Dengan harapan semoga saja suatu hari UNESCO atau siapapun, melirik potensi tempat ini. Bukannya durhaka atau gimana, tapi mau berharap sama pemerintah sendiri rasanya pesimis. Bahkan gosipnya pemerintah daerah sana sendiri sudah memberi lampu hijau pada pabrik semen untuk mengeksploitasi kapur di daerah sana sebagai bahan baku semen.

Fyuhh. Rada nyesek rasanya kalau suatu hari beli semen, yang ternyata dibuat dengan cara menghancurkan daerah karst terbesar ketiga di dunia yang penuh potensi berharga.
Saturday, April 20, 2013


Loh, 3 hari 2 malam kok dibilang Flashpack. Nggak salah tuh? Bukannya standar ya?
Hehe, yah kalo ngomongin travelling biasa, 3D2N rasanya cukup banget lah ya. Tapi beda cerita kalo travellingnya ke Makassar, terutama dengan tujuan Tana Toraja atau Tanjung Bira plus pulau-pulau kecil di sekitar kota dan city explore serta icip-icip makanan khasnya. Dengan 3D2N itu bakal padat banget. Kenapa? I'll tell u later :D  

By the way, nggak kerasa bulan April sudah setengah jalan. Padahal saya masih punya 3 target pribadi yang belum kesampaian untuk bulan ini: explore Lombok timur, Pulau Menjangan-nya Bali (bukan Menjangan yang di Karimunjawa ya),  dan Kepulauan di daerah Makassar.

Dan untuk target yang saya sebut terakhir, sebenarnya masih nggak ada bayangan sama sekali. Setau saya sih di daerah sana cuma ada Tana Toraja yang sudah populer. Lainnya, masih samar-samar. Pernah denger nama Tanjung Bira dan Selayar sih, dan kepulauan entah-apa-namanya yang katanya bagus. Tapi gara-gara bisikan racun seorang teman yang pernah ke sana, akhirnya saya masukkan Makassar sebagai salah satu list must-visit bulan ini :D

Makin saya googling sana-sini, baca-baca di forum sebelah, saya makin excited, haha. Makin banyak nemu nama-nama tempat yang wajib dikunjungi di sekitaran Kota Makassar. Bantimurung, Leang-Leang, Rammang-Rammang, Malino. Makin galau deh, harus kemana dulu. Setelah cukup banyak baca-baca, saya beranikan diri untuk hunting tiket. Akhirnya dapat tiket murah di weekday, yaitu tanggal 11 April. Sebenarnya sih sekitaran tanggal segitu saya sudah punya jadwal ke target satunya, yaitu explore Lombok timur. Tapi gara-gara racun dari teman saya tadi masih ngefek, akhirnya saya bela-belain membatalkan plan ke Lombok demi bisa secepatnya menyicip laut Makassar! Dan kebetulan juga ada teman, Kiki namanya, yang rencana ke Makassar juga sekitaran tanggal segitu. Lumayan lah, jadi nggak perlu jalan sendiri di tempat asing.

Okay, tiket sudah di tangan. Teman sudah ada. Sisanya tinggal melakukan hal yang paling menyebalkan ketika memulai travelling: menyusun itin! Apalagi dengan banyaknya list spot-spot yang harus dikunjungi hanya dalam 3 hari, pastinya butuh itinerary yang bener-bener akurat. Dan yang bikin seru (bikin pusing sebenernya), ada dua spot utama yang jaraknya saling berjauhan, yaitu Tana Toraja dan Tanjung Bira. Tana Toraja berjarak 8 jam perjalanan dari Kota Makassar ke utara, sementara Tanjung Bira berjarak 6 jam ke selatan dari kota. Itu artinya untuk bolak-balik Makassar-Toraja kami membuang waktu 16 jam di jalan. Kalau ke Tanjung Bira membutuhkan 12 jam di jalan. Padahal kami cuma punya 3 hari dipotong waktu tidur. Itu artinya kami harus memilih salah satu antara Toraja atau Tanjung Bira. Pilihan yang sulit :-/

Toraja, atau Bira. Toraja, atau Bira. Berhari-hari saya dan Kiki membahas pilihan ini. Berhari-hari pula kami berubah-ubah keputusan, hehe. Akhirnya, mau nggak mau saya terpaksa bikin dua versi itinerary. Versi Toraja, dan satunya lagi versi Tanjung Bira. Itin mana yang dipakai, on the spot saja lah keputusannya.

Setelah riset sana-sini, akhirnya jadi juga 2 itin tersebut.


Itinerary Makassar versi Tanjung Bira

Day 1
11:00 Meeting point at Bandara Sultan Hasanuddin.
11:30 Keluar Bandara, ke Rammang-Rammang dan Bantimurung (searah dengan Bandara)
12:30 Explore Rammang-Rammang, lanjut ke Bantimurung (kalo sempat)
15:30 Ke Kota Makassar, langsung ke Terminal Malengkeri utk cari plat kuning ke Bira
18:00 Perjalanan ke Bira
00:00 Sampai di Bira, cari penginapan, istirahat.


Day 2
05:00 Sunrise di Tanjung Bira, ke Pantai Bara, Pantai Bira Timur.
07:30 Explore pulau-pulau di Bira, snorkeling
12:00 Balik ke Makassar naik plat kuning
18:00 Sampai Makassar, cari penginapan
19:00 Night city explore, Pantai Losari, kembali ke Penginapan

Day 3
07:00 Nyebrang ke Pulau Samalona, Kodingareng Keke (Pulau kosong) 
13:00 Balik ke penginapan, bersih-bersih, mandi, checkout.
13:30 Ke Fort Rotterdam, Bantimurung (kalau pas day 1 nggak sempat)
18:30 Dari Bantimurung ke Bandara
19:30 Sampai di Bandara, pulang ke tempat masing-masing




Detail transport:

Day 1
Bandara - Jalan Poros (3km):
Damri (Rp 15ribu) atau Ojek (Rp 15ribu) atau Shuttle Bus (gratis)

Jalan Poros depan Bandara - Rammang-Rammang (20 km):
Angkot/pete-pete arah Pangkep (Rp 6000, 1 jam)

Rammang-Rammang - Bantimurung:
Ojek (tentatif) atau Angkot/pete-pete arah Pangkep (Rp 6000, 30 menit)

Rammang-rammang/Bantimurung - Kota Makassar (40 km):
Angkot/pete-pete arah Daya (Rp 6000, 1 jam)
Di Jalan Poros depan Bandara pindah angkot/pete-pete arah Kota atau Unhas (Rp 3000, 30menit)
Di Jl.Veteran atau Jl. Patterani pindah angkot/pete-pete ke arah Malengkeri (Rp 3000, 30 menit)

Terminal Malengkeri - Tanjung Bira (200 km):
Naik plat kuning ke Bulukumba (5 jam, tarif tentatif tergantung skill nawar. Orang lokal Rp 35rb-50rb)
Di terminal Bulukumba naik angkot/pete-pete ke arah Bira
atau
Naik plat kuning arah Bulukumba, pilih yang sopirnya asal Bira. Jadi bisa sekalian nebeng sampai Bira waktu sopirnya pulang)


Day 2
Tanjung Bira:
Sewa kapal nelayan ke Pulau (Rp 250rb)


Tanjung Bira - Makassar (200km):
Naik pete-pete ke Bulukumba (1jam)
Di Bulukumba cari plat kuning ke Makassar (5 jam, tarif tentatif tergantung skill nawar. Orang lokal Rp 35rb-50rb)
atau
Bus Selayar-Makassar (bus lewat Pelabuhan Bira pukul 10:00 pagi)

Dalam Kota Makassar (10km):
Rekomend naik ojek saja, soalnya ga tau jalur pete-pete :-p
Ojek dari Terminal Malengkeri ke Karebosi/Pantai Losari Rp 20rb-25rb


Day 3
Makassar - Pulau Samalona-Kodingareng Keke-Kayangan
Sewa kapal nelayan (Rp300rb-700rb tergantung pulau apa saja yg dikunjungi)

Makassar - Bantimurung/Bandara:
Tinggal kebalikan dari transport di day 1






Detail Penginapan di Bira:
Bira Beach Hotel: (0413) 2702034, (0413) 2589057
Wisma Bahari Indah: 085242549899
Penginapan Harapan Maju: 085255994640
Nusantara Cottage: 085255011345
Anda Bungalow’s:  (0413) 82125
Penginapan Reskiku: 081934407848
Penginapan Tanjung Bira: 085824635570, 081934407848
Penginapan Pasir Putih Bira: 08114201028
Kalubimbi Cottage: 085656456853


PS: Untuk kontak n tarif transport dan penginapan saya selama di sana, baca di next post yaa 



Nah kalau yang ini versi Toraja-nya.



Itinerary Makassar versi Toraja

Day 1
09:00 Booking motor di Toraja n bus ke Toraja
11:00 Meeting point at Bandara Sultan Hasanuddin.
11:30 Keluar Bandara, ke Rammang-Rammang dan Bantimurung (searah dengan Bandara)
12:30 Explore Rammang-Rammang, lanjut ke Bantimurun
17:30 Ke Kota Makassar, langsung ke pool Bus Litha utk bayar tiket bus
19:30 Keliling kota, night city explore
20:30 Balik ke pool Bus Litha, mandi, repacking
21:30 Naik Bus ke Toraja (bermalam di bus)


Day 2
06:00 Sampai di Rantepao (Toraja)
07:00 Cari sewa motor di Lapangan Bakti
08:30 Keliling Toraja (Lemo, Londa, Kete Kesu, Rante Karassik)
18:00 Balikin motor, balik ke pool bus, mandi, repacking
21:00 Naik bus, balik ke Makassar (bermalam di bus)

Day 3
06:00 Sampai di Makassar
08:00 Benteng Fort Rotterdam (kalo belum)
10:00 Pulau Samalona, Kodingareng Keke
17:30 Sunset di Losari
18:30 Naik bus Ke Bandara





Detail Transport:

Kota - Toraja (270km):
Bus Litha, jam 22:00. Pool: Jl Urip Sumoharjo KM 7 Makassar, Jl Gn Merapi 135 Makassar (130rb super eksekutif, 8 jam)

Rental Sepeda Motor di Kota Makassar (kalo butuh):
YASHA RENTAL 0411-5231 222, 0852 2202 2289
Prima Rental 0411-5246917, 082349775555
Bus Makassar - Toraja:
Bus Litha Makassar 0411-442263 (Jalan Urip Sumoharjo KM 7, Makassar) Jl Gng Merapi 135, Makassar Tlp +62 411 324847 , 311055
Jadwal: 08.00 AC Bisnis, 10.00 AC Super Eksekutif, 13.00 AC, 20.00 non AC, 22.00 AC Super Eksekutif

Bus Bintang Prima 0411-4772888 (Jalan Perintis Kemerdekaan Ruko Tello No. 22)

Bis Executive Alam Indah (0411) 586717

Manggala Trans +62411557788, +628114136377 Ruko BPS, Jl. Perintis Kemerdekaan KM. 18 No. 10, Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan.
Bus Metro Permai , 0411-582734 / 0411584015
Bus Charisma Transport, telepon 0411580808

Bus Liman telepon 0411 - 458405

Bus Tikulembang ,0411 – 5013031 atau 0411- 4722668

Bus Setuju , telepon 0411 -4722689

Bus Alam Indah,telepon 0411-586717

Bus Batutomonga telepon 085242373500

Bus Pelangi telepon 0411 – 5016878


Toraja - Makassar:
Bus Litha Rantepao 0423-21204 Jl Pahlawan, Rantepao Jadwal sama ky Makassar - Toraja

Bus Bintang Prima Rantepao 0423-21142 Jl. A Yani No. 100 Rantepao



Sewa Motor di Toraja:

Sewa motor Lebonna 0423-23520 (Jalan Monginsidi 102 Rantepao)



Begitulah, itu itin maksimal untuk flashpacking di Makassar selama 3D2N versi saya. Dikutip dari berbagai sumber sih, Insya Allah akurat :D Sekedar catatan, kalau mau pakai itin versi Toraja bakal sangat melelahkan, karena selama 2 malam tidurnya di bus. Jadi kebutuhan untuk istirahat, mandi, shalat, ngecharge hp dan kamera, dll juga perlu dipertimbangkan.

Well, cukup sekian dulu. Di posting berikutnya nanti saya ceritakan FR selama saya di sana. See ya!
Wednesday, April 17, 2013
Senin 18 Maret, Banyuwangi 06:30 AM. Pagi-pagi sekali saya sudah berada di Desa Jambu, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Nama daerah di sini aneh-aneh x_x

Duduk di depan sebuah warung yang masih tutup, saya ditemani oleh seorang tukang ojek yang barusan mengantarkan saya dari Terminal Banyuwangi. Kami sedang menunggu si newbie yang katanya akan menyusul ke sini. Sebenarnya dari awal saya sudah ragu janjian sama si newbie, dari gaya smsnya saja sudah nggak meyakinkan. Tapi nggak apa-apa lah, saya tetap coba menunggu.

Sebuah truk pengangkut belerang melintas di depan kami. Seharusnya, truk yang baru saja melintas itulah yang akan kami tumpangi untuk naik ke Paltuding, daerah di kaki Gunung Ijen. Iya, jika kita naik ke Gunung Ijen via Banyuwangi, maka nggak ada pilihan transportasi lain selain menumpang truk pengangkut belerang, atau menyewa ojek atau mobil 4WD yang tarifnya mencapai 350ribu. Tapi berhubung si newbie belum terlihat batang hidungnya, akhirnya saya biarkan truk itu lewat. Masih ada dua jadwal keberangkatan truk lagi, yaitu pukul 08:00 dan pukul 13:00. Tapi rasanya nggak mungkin untuk ikut keberangkatan yang terakhir itu, pukul 13:00. Terlalu siang, bisa-bisa kemalaman di puncak, karena jarak antara Desa Jambu ini ke Paltuding saja masih 17 Km menyusuri hutan.

Kelamaan menunggu, si tukang ojek akhirnya bosan menemani saya ngobrol, dan pamitan kembali ke terminal untuk melanjutkan pekerjaannya. Tinggallah saya sendiri di sana. Terjebak di antara Kota Banyuwangi dan Gunung Ijen. Terjebak, karena memang sama sekali nggak ada angkot yang menghubungkan Banyuwangi dengan Desa Jambu. Satu-satunya transportasi umum ya ojek tadi, dan sekarang si bapak tukang ojek sudah turun kembali ke Banyuwangi. Otomatis saya nggak bisa turun lagi. Kecuali mungkin menumpang mobil pengangkut sayur. Tapi biarlah. Sudah tinggal setengah jalan lagi, masa harus balik, cuma gara-gara si newbie nggak datang. Judulnya kan Solo Travelling, jadi sendiri pun nggak masalah.

Pukul 07:30, si newbie belum juga berkabar. Dihubungi melalui telepon pun nggak bisa. Akhirnya saya putuskan untuk ngopi-ngopi di satu-satunya warung di sana, sambil ngobrol sama pemilik warung dan beberapa bapak-bapak yang sedang berada di sana.

Nggak berapa lama, ketika lagi asik ngobrol, tiba-tiba saja si bapak pemilik warung lari tunggang langgang keluar warung sambil berteriak-teriak.

"Woiii! Woooiii!!!"

 Untuk sesaat saya bingung kenapa si bapak tiba-tiba teriak-teriak seperti itu. Tapi detik berikutnya saya sadar, itu truk belerang yang barusan lewat! Dan si bapak berteriak-teriak untuk menyetop truk buat saya. Segera saya meraih backpack dan ikut berlari keluar warung. Namun truk itu tidak berhenti. Di luar,  saya masih berusaha berlari mengejar truk yang berjalan cepat menanjak, kemudian menghilang di sebuah tikungan. Gawat, saya ketinggalan truk pagi yang terakhir. Gara-gara menunggu si newbie.

Dengan langkah lemas saya kembali ke warung.

Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba saya dengar penduduk sekitar berteriak-teriak,
"Itu! Itu!  Truknya balik!"
Benar saja, dari balik tikungan yang menanjak tadi, saya lihat truk itu turun dan mundur perlahan-lahan. Mulai dari bagian belakang truk yang perlahan muncul di balik tikungan, sampai akhirnya truk itu benar-benar mundur, turun dari tanjakan dan berhenti menunggu saya. Yay!! Dengan sekuat tenaga saya segera berlari ke arah truk, melemparkan backpack ke dalam bak truk, kemudian memanjat masuk ke dalam bak dibantu oleh para penambang belerang yang berada di atas truk. "Makasih, makasih" ucapku terengah-engah pada para penambang itu.

Truk pun berangkat melintasi hutan menuju ke kaki Gunung Ijen.  Berdiri di dalam bak truk yang melaju kencang menyusuri jalan yang membelah hutan, melihat pemandangan serba hijau sambil menikmati udara pegunungan di pagi hari, rasanya sangat melegakan. Untuk sesaat saya lupa dengan kehidupan saya sehari-hari. Mungkin inilah nikmatnya solo travelling, seperti yang dikatakan teman-teman kemarin sebelum berangkat.

Sendirian di tempat yang sama sekali tidak kita kenal, berada di antara orang-orang yang sama sekali baru, tanpa merisaukan bagaimana cara kita pulang nanti, just me, just us, hanya terpikir untuk melangkahkan kaki ke depan mengikuti rasa penasaran tentang apa yang ada di depan kita.

Dengan abu dan serpihan-serpihan belerang sekujur tubuh, saya pun ngobrol-ngobrol dengan para penambang yang jumlahnya sekitar 10 orang. Rata-rata pada heran saya berangkat sendirian. Numpang truk belerang pula! Si newbie apa kabar ya, pikirku. Tapi sudahlah, kalau menunggu dia, saya nggak akan sampai di kawah pada waktunya.

Setelah menempuh sekitar setengah jam perjalanan, akhirnya truk sampai juga di pos penambang di kaki Gunung Ijen. Setelah berterima kasih dan memberikan uang sebesar 8ribu pada sopir truk, saya trekking menuju kawah bersama rombongan penambang tadi. Lihat sekeliling, hampir nggak ada wisatawan selain saya. Iya, ini hari senin, sama sekali bukan hari yang tepat untuk naik gunung.



Perjalanan dari daerah Paltuding di kaki gunung hingga ke bibir kawah kira-kira menempuh jarak 3 sampai 4 km. Tapi jangan salah, terdapat perbedaan besar antara jalan kaki 3 km di tengah Kota Jakarta dengan trekking di gunung. Kondisi jalan dengan kemiringan yang mencapai 45 derajat membuat jarak 3 Km serasa jadi 10 km! Belum lagi saya bawa-bawa backpack seberat 10 kg di punggung. Alhasil saya berjalan naik dengan pelan-pelan sekali untuk menjaga nafas dan menghemat tenaga. Kecepatan jalan saya saat itu mungkin cuma 20 meter per menit!

Baru sekitar setengah jam berjalan, saya memutuskan untuk istirahat. Arghh, rasa-rasanya pengen sekali membuang backpack ini, melemparkannya ke tebing, agar tubuh terasa lebih ringan. Seharusnya tadi saya menitipkan backpack di pos belerang, atau di warung-warung di bawah. Akhirnya saya ambil posisi duduk di sebuah tanah datar, sambil berkata pada bapak-bapak penambang, "duluan saja pak, saya istirahat dulu!". Sambil bercanda menertawakan, para bapak-bapak penambang itu melanjutkan perjalanan.

Edan, saya benar-benar salut dengan para penambang belerang itu. Tiap pagi mereka menaiki gunung ini menempuh 90 menit jalan menanjak, menambang belerang di kawah, kemudian menempuh 90 menit lagi turun dengan memanggul belerang seberat 60 kg bahkan ada yang sampai 100 kg di pundak, cuma untuk menjualnya seharga 700 rupiah per kilogram ke perusahaan belerang. Begitu berharganya 40ribu rupiah bagi mereka. Dan lagi, mereka melakukannya dengan semangat, tanpa berkeluh kesah. Salah satu penambang yang saya temui bahkan sudah melakukannya selama berpuluh-puluh tahun, semenjak umur 14 tahun hingga kini umurnya sudah lebih dari 40. Inilah para laki-laki sejati, pikirku.

Setelah mati-matian melanjutkan perjalanan, sampai juga saya di tempat penimbangan belerang. Di sana ada koperasi para penambang yang menjual minuman botol dan makanan ringan. Akhirnya saya menemukan tempat untuk menitipkan backpack :D


Perjalanan ke kawah masih sekitar 1 km lagi dari sana, tapi dengan medan yang lebih datar. Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, dan perlahan-lahan langit mulai mendung. Gunung itu pun mulai sepi. Orang-orang sudah mulai turun dari puncak, karena takut terjebak hujan. Sementara saya malah baru naik. Dan benar saja, suasana di puncak sangat-sangat sepi. Saya hanya berpapasan dengan satu atau dua penambang yang turun.




 Di depan terlihat spanduk berisi tulisan "Batas Akhir Pendakian". Saya baru sadar, tadi di bawah saya nggak sempat melapor pada petugas PA -___- kalau terjadi apa-apa di sini, nggak bakal ada yang nyariin -____-

Pura-pura nggak lihat spanduk itu, saya lanjutkan perjalanan. Suasana sudah bener-bener sepi, cuma ada saya dan monyet-monyet liar bergelantungan di atas pohon. Tapi sudahlah, saya lanjutkan saja. Masa sih nggak ada orang sama sekali di tambang, pikirku.

Akhirnya sampai juga saya di bagian lain gunung itu, yaitu bagian dataran yang menghadap ke kawah. Dan tahu apa yang saya dapat? Bukannya pemandangan kawah dengan air membiru dan latar belakang langit yang cerah yang saya dapatkan. Tapi hamparan kabut asap tebal yang mulai menutupi sebagian dataran itu. Masa iya saya harus menerobos kabut itu sendirian? Saya belum tahu medan, dan kelihatannya menyusuri jalan setapak di antara dua tebing sambil menembus kabut seperti itu bukanlah hal yang cocok dilakukan saat berjalan sendirian seperti ini.

Saya memutuskan untuk menunggu beberapa saat sambil berharap kabut akan segera hilang. Sempat saya berpapasan dengan beberapa penambang. Mereka mengingatkan saya, "hati-hati mas, susah kalo sendirian, asapnya tebal sekali!". Saya jadi makin pesimis bisa sampai di kawah -___-


Kabutnya tebal sekali..



5 Menit Kemudian:



5 Menit Selanjutnya: 



Dan akhirnya:


5 sampai 10 menit menunggu, keadaan bukannya bertambah baik, tapi malah bertambah parah. Kabut yang tadinya masih agak jauh di depan, pelan tapi pasti mulai menutupi seluruh dataran. Sampai akhirnya tempat saya menunggu pun mulai tertutup kabut tebal.

Bukannya menyerah dan balik ke bawah, saya putuskan untuk nekat menerobos kabut itu. Gelap, gelap deh. Kalau para penambang itu bisa, masa saya nggak bisa. Akhirnya pelan-pelan saya berjalan di antara dua tebing itu, menembus kabut.



 Ini jalan setapak di antara dua tebingnya..


Jadi inget quote dari salah satu member forum traveller yang saya ikuti:

"Salah satu yang bikin saya kecanduan solo travelling adalah perasaan ketika hanya ada aku & Tuhan di alam ciptaanNya yang megah ini. Semua kesombongan, keangkuhan, atau arogansi bakal langsung lenyap ketika menyadari betapa kecil dan tak berdayanya kita di hadapan Tuhan dan ciptaan-ciptaanNya.."

Yeah, he's absolutely right.

Akhirnya saya berhasil menembus kabut tersebut. Ternyata setelah sampai di atas kawah, saya baru tahu itu bukan kabut, melainkan asap dari kawah yang tertiup angin -____-. Dan beruntung, karena angin sedang bertiup ke arah tempat saya datang, di sisi lain justru sama sekali nggak tertutup asap! Yay, akhirnya perjalanan saya nggak sia-sia. Pemandangan di sana begitu mengagumkan, dengan kawah yang terlihat begitu jelas, dan para penambang yang sibuk dengan aktifitas mereka.

 
 
Saya mencari spot yang bagus, dan duduk bersama seorang bapak-bapak tua pekerja tambang di sana. Beliau bertugas untuk menjaga dan merawat tambang agar belerangnya tetap mengalir keluar. Di sana saya mengobrol dengan beliau, dan seperti biasa, beliau melontarkan pertanyaan yang akhir-akhir ini sering saya dengar.


"Sendirian aja dik dari Bali?".
"Iya pak, mumpung lagi ada waktu nih".
"Lha tadi barusan, ada mbak-mbak dari Bali juga, sendirian juga" kata si bapak.
"Lha iku wonge" lanjut si bapak sambil menunjuk seorang perempuan berjaket merah, yang sedang berjalan menuju ke arah kami.

Ketika si mbak-mbak melintas, iseng saya teriakin.
"Dari Bali mbak?" tanyaku agak keras.
"Iya nih. Masnya dari mana?"
"Saya juga dari Bali".
"Sendirian aja?" tanyanya lagi.
"Iya nih"
"Sama dong, saya juga sendiri".


Akhirnya mbak-mbak tadi ikut ngobrol dengan kami. Melfa namanya, usianya (mungkin) sepantaran dengan saya, dan dia ternyata sudah sering melakukan solo travelling. Dan begitulah, saya mendapatkan satu teman seperjuangan lagi. Sesama solo traveller. Akhirnya kami sepakat untuk bersama-sama naik ke dataran yang lebih tinggi untuk mendapatkan view yang bagus. Sebenarnya kalau sendiri-sendiri sih kami nggak bakal berani naik sampai di sudut tertinggi di atas kawah itu. Tapi karena berdua, akhirnya kami putuskan untuk sedikit nekat.

Dan nggak sia-sia kami naik ke atas. Viewnya bener-bener cantik:


Kami bareng menjelajahi setiap sudut di puncak itu. Menerobos semak, mengambil beberapa foto, berpura-pura nggak melihat tulisan tanda bahaya, sambil bercerita pengalaman masing-masing tentang tempat-tempat yang pernah dikunjungi.

"Saya ini, sudah sejak tanggal 9 kemarin keliling, dan belum pulang sama sekali", kata Melfa bercerita. "Bromo, Tretes, Welirang. Sekarang Ijen. Setelah ini, turun ke Banyuwangi, baru kemudian pulang ke Bali".

Hahha, ini sih fotokopi diri saya! Bisa-bisanya sama persis dengan saya. Saya malah sudah sejak tanggal 7, sebelas hari yang lalu. Dan setelah ini juga berencana pulang ke Bali.

Tepat saat kami memutuskan untuk turun gunung, tetes-tetes hujan mulai turun. Langit masih cerah, matahari terlihat, tapi gerimis mulai turun, meskipun sedikit. Kami pun bergegas turun. Sepanjang perjalanan turun, Melfa menyempatkan diri memunguti sampah-sampah yang terlihat. Wow, pikirku. Akhirnya saya pun ketularan. Kami memunguti sampah-sampah plastik di sepanjang perjalanan sambil misuh-misuh memaki orang-orang yang buang sampah sembarangan. Bahkan di tempat seperti ini, masih saja banyak terlihat sampah-sampah plastik bungkus makanan ringan bertebaran dimana-mana. Jelas itu bukan sampah dari para penambang belerang, karena nggak mungkin mereka bawa-bawa belerang sambil mengkonsumsi Lays, Chitato, Happytos, Mizone, atau Pulpy Orange. Ulah siapa lagi kalau bukan para wisatawan nggak tau diri. Mau menikmati keindahan alamnya, tapi nggak mau menjaga. Padahal sudah disediakan beberapa tempat sampah dari bambu di sepanjang jalan menuju puncak, tapi masih saja buang sampah sembarangan. Bahkan dalam radius 20 meter dari tempat sampah pun, masih banyak yang buang sampah sembarangan! Keterlaluan. Welcome to Indonesia, negara setengah surga namun penuh dengan manusia tak bertanggungjawab.

Sepanjang jalan menuju ke bawah, Melfa banyak bercerita tentang perjalanannya kemarin. Dengan gaya khas Sumatra dia bercerita nggak berhenti tanpa titik koma.

"'Kemarin, turun dari Bromo saya ke Tretes. Saya lihat gunung Welirang di sana, langsung saya berangkat naik. Nggak ada persiapan. Nggak bawa mantel hujan, nggak bawa sleeping bag, cuma baju di badan aja sama tas kecil".

"Eh nggak taunya apa, saya harus trekking sampai 7 jam untuk sampai di puncak. Sendirian. Kehujanan, kabut, nyari-nyari jalannya susah. Nggak macem di sini, jalannya gampang, sudah jelas. Di sana, jalan bercabang-cabang, nggak jelas".

"Tapi saya tetep naik sampai ke puncak. Sampai di atas sudah sore, nggak mungkin lagi turun. Bisa-bisa tersesat saya gelap-gelapan turun".

"Untungnya di atas saya ketemu orang dari Singapore, sama guidenya. Akhirnya nebeng lah saya sama mereka", ceritanya panjang lebar.

Buset, pikirku. Cewek, naik gunung sendirian selama 7 jam di tengah hujan.  Nggak kebayang deh. Seketika saya minder karena jelas saya kalah jauh. Nggak mungkin saya berani trekking sendirian seharian di gunung yang belum saya kenal. Mungkin tipe-tipe macem dia ini yang dijuluki crazy traveller.

Saya aja, ketika sendirian menembus kabut di puncak tadi, terbayang-bayang teman-teman saya. Pasti saat ini mereka ada yang sedang sibuk di kantor, sedang meeting, atau bermacet-macet ria di jalanan Kota Jakarta, menjalani rutinitas dan kehidupan masing-masing. Lah saya malah sendirian di atas gunung, di antara dua tebing, nekat menerobos kabut tebal. Seketika jadi pengen pulang -__-

Saking asiknya ngobrol, nggak kerasa kami sampai di Paltuding. Akhirnyaa pulaaang!

Setelah istirahat sejenak di warung, kami pun turun ke Banyuwangi. Awalnya saya berencana nebeng truk belerang lagi, tapi Melfa menawarkan untuk ikut dengannya. Akhirnya saya pun nebeng Hardtop carteran Melfa. Beberapa saat naik ke mobil, ada kejadian yang lumayan nggak enak. Si sopir Hardtop berusaha malakin saya, minta duit sebesar 100 ribu untuk tumpangan. Padahal jelas-jelas itu mobil sudah disewa oleh Melfa -___- Mungkin karena dia tau saya cuma nebeng, bukan rombongan Melfa, dan baru kenal, serta mobil sudah berjalan memasuki hutan, dia berani malakin saya.

Padahal sebelum berangkat saya sudah bilang mau nebeng, dan tanya dikasih duit berapa biasanya sama orang nebeng. Waktu itu si sopir cuma jawab, "oke ikut aja, santai aja laah". Waktu itu saya sempat berpikir, saya ketemu satu lagi orang baik yang membantu saya.

Ehh setelah beberapa saat mobil jalan dan memasuki hutan, tiba-tiba si sopir terkutuk itu bilang, "biasanya 100ribu mas". Sambil dalam hati mengumpat, saya bilang "loh kenapa nggak ngomong dari tadi sebelum berangkat?! Tadi bilangnya santai aja, saya pikir saya bisa ngasih seikhlasnya". Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya saya bilang, "yaudah stop mobilnya, saya turun di sini!". Di tengah hutan, di bawah hujan. Nggak masalah, saya punya nomor telepon tukang ojek baik hati yang tadi pagi mengantarkan saya.

Tapi akhirnya si sopir laknat memutuskan untuk menurunkan saya di pinggiran Desa Jambu. Sebelum turun dari mobil, saya sodorkan uang 100 ribu pada si sopir. Tapi nggak diterima. Sepertinya dia gengsi sama tamunya, si Melfa. Bagus deh.

Sebenernya bukan masalah uang 100 ribu. Saya cuma nggak suka caranya bilang tarif sebesar itu pada saat mobil sudah berjalan dan berada di tengah hutan. MODUS BANGET. Mungkin dipikirnya saya nggak berani turun di tengah hutan, jadi saya nggak akan punya pilihan lain selain membayar 100ribu padanya. Sayangnya kali ini dia mendapatkan korban yang salah :p

 Lagipula, itu mobil carteran Melfa, helloooww.

Saya lebih ikhlas memberikan uang 100ribu pada tukang ojek yang rela nemenin saya nunggu tadi pagi, atau supir truk belerang yang saya tumpangi tadi, atau para penambang batubara, atau orang-orang baik lain yang saya temui. Daripada harus ngasih si sopir Hardtop. Nolong enggak, bantu-bantu enggak, ramah pun enggak, eh dengan gampangnya minta duit -___-

Turun di Jambu, saya memutuskan untuk mampir lagi ke warung yang tadi pagi saya datangi. Untuk sekedar pamitan dan berterima kasih karena tadi pagi sudah mengejarkan truk untuk saya. Eh yang rencananya cuma mampir sebentar, malah jadi asik ngobrol sampai satu jam lebih. Ngobrol tentang keluarga si pemilik warung, anak-anaknya yang sukses mendapatkan pekerjaan di PLN dan jadi dosen. Padahal pengasilan mereka sehari dari warung itu cuma Rp 20ribu, tapi yang namanya rejeki, entah darimana aja datengnya, nggak disadari sampai saat ini mereka bisa membiayai sekolah anak-anak mereka sampai lulus dan bekerja.

Yeah, God works in a mysterious way.

Setelah beberapa lama mengobrol, akhirnya saya memberanikan diri untuk minta tolong diantarkan turun sampai ke Banyuwangi. Dengan istilah 'ngojekin' tentunya, bukannya 'nebeng'. Begitulah, akhirnya saya diantar turun ke Banyuwangi naik motor.

Sampai di Banyuwangi, setelah saya memberikan uang yang jumlahnya sedikit lebih banyak dari ongkos ojek seharusnya, saya pun pamitan. Nah, kalau caranya menyenangkan begini, saya dengan senang hati memberikan uang lebih. Itung-itung sebagai ucapan terima kasih karena sudah banyak dibantu. Nggak kayak si supir Hardtop tadi -____-

Sebenarnya saya sudah agak lupa dengan si Melfa. Saya sudah siap-siap pulang ke Bali sendirian. Tapi ketika ngecek hp, ternyata Melfa sms, dia nungguin di pelabuhan. Haha, okay, akhirnya perjalanan solo travelling saya nggak diakhiri dengan pulang sendirian.




Nggak lama, kami pun naik ke kapal. Dari kejauhan masih nampak Gunung Ijen berdiri dengan gagahnya. Goodbye Ijen!


Senin 18 Maret, 21:30 WITA. Finally, finally, and finally. I'm home. Saya pernah denger (tapi lupa denger di mana :p) ada yang bilang,  
"Kalau kita nggak pernah pergi, kita nggak akan pernah tau betapa nikmat rasanya pulang ke rumah".
Setuju banget. Finally I'm home, setelah perjalanan panjang 11 hari yang nggak direncanakan itu. Hampir nggak ada oleh-oleh berupa materi. Yang ada cuma backpack yang sobek sana sini, lensa-lensa dan body kamera yang kotor dan lecet-lecet parah, scratch-scratch di layar hp yang bertambah banyak, dan kulit hitam legam serta lutut yang serasa mau copot.

Tapi di sisi lain saya mendapatkan banyak-banyak pelajaran tentang hidup. Tentang keramah-tamahan penduduk di pelosok negeri ini. Tentang arogansi dan ketamakan sebagian orang demi mengejar materi. Tentang banyak teman-teman baru, kenalan-kenalan baru. Tentang dua lusin kontak baru yang mengisi phonebook.

Dan tentu saja pelajaran tentang bagaimana saat kita berada di tengah-tengah alam yang luas, kita akan melepaskan semua kebutuhan tentang fisik, penampilan, status sosial, jabatan, gengsi, pride, bahkan harta. Menyadari bahwa kita, saya, kamu, mereka, laki-laki, perempuan, hanyalah manusia yang sama, makhluk yang sama, dengan kemampuan yang sama, tanpa sekat-sekat pembatas, yang saling membantu untuk bertahan hidup.



Well, akhirnya selesai juga FR yang super duper panjang ini. Fyuhh..



Mendadak blog ini jadi bandwidth killer -__-



Sunday, March 31, 2013
rei@2015