Versi Rapi
Showing posts with label Foto-foto. Show all posts
Showing posts with label Foto-foto. Show all posts

Belakangan ini gue lagi doyan bikin planet. Iya bikin planet, kegiatan buang-buang waktu yang sekarang lagi naik daun. Makin kesini yang namanya fotografi memang makin complicated. Kalau jaman kamera SLR analog dulu sih viewfinder dengan refleksi cermin dari SLR memang harga mati untuk mengetahui hasil foto secara instan. Tapi kalo sekarang, nenteng kamera DSLR, ngintip viewfinder sambil ngerasa keren, dan jepret pake "programmed auto" sama dengan alay. Jaman sekarang sudah ada teknologi yang bernama Crystal Bright LED dengan resolusi High Definition terpasang pada tiap-tiap kamera DSLR dan para alay masih percaya bahwa ngintip viewfinder bisa menghasilkan gambar yang lebih bagus. Maksud gue, Single Lens Reflect alias SLR itu teknologi 30 tahun yang lalu, sekarang sudah ada teknologi mirrorless yang menggantikan cermin untuk viewfinder dengan layar LED sehingga kamera bisa lebih ramping, jadi meng-alay dengan viewfinder ketika memotret panorama atau objek tunggal yang nggak bergerak itu bukan lagi keren, tapi lucu.

Baiklah gue ngelantur, mari kembali ke topik. Makin maju teknologi, fotografi pun semakin beragam. Nggak melulu bergantung kepada DSLR dan lensa, sekarang ada yang namanya Phone Photography, Drone Photography, dan teknik-teknik fotografi dengan software semacam HDR, The Return of Black and White, dan banyak lagi, sampai yang rada nyeleneh macem bikin planet tadi. Gue sih bukan fotografer atau maniak fotografi, tapi nggak ada salahnya nyoba-nyoba.
Tuesday, January 20, 2015

Okay, judulnya rada kurang. Yang bener itu "Anak Krakatau", karena Gunung Krakataunya sendiri sudah meletus dan hilang sejak 1883. Tapi disini gue sebut Krakatau saja biar lebih simpel.

Biasanya, secara umum ada dua tipe backpacker. Backpacker aliran pantai, dan satu lagi backpacker aliran gunung.  Biasanya kalo sudah jatuh cinta sama pantai, cenderung malas naik gunung. Dan sebaliknya, buat backpacker aliran gunung, pantai itu dimana-mana kelihatan sama saja. Gue sendiri sih termasuk aliran pantai, yang nganggep tiap-tiap pantai itu punya nuansa yang berbeda-beda, walaupun karakternya sama.

Nah kalau orang-orang denger nama Krakatau, yang dibayangkan pasti gunung tinggi yang berada di antara Pulau Jawa dan Sumatera. Tapi kalo para backpacker denger nama itu, dua-duanya, baik aliran gunung ataupun pantai bakal sepakat: Krakatau itu bukan gunung, tapi pantai. 
Loh kok bisa?
Saturday, November 22, 2014

Itu dia puncak yang harus kami taklukkan malam ini. Kelihatan deket? Nyatanya enggak. Untuk standar anak rumahan seperti gue, mungkin ini salah satu tantangan fisik paling menantang yang pernah pernah gue hadapi. Sebenernya, walau bagaimanapun, kalo dilihat dengan mata sih rasanya nggak ada yang salah dengan jaraknya, atau kondisi jalannya. Perkiraan saya, paling cuma 4 atau 5 kilometer. Dengan kondisi normal sih jarak segitu nggak bisa dibilang jauh-jauh amat.  Tapi beda cerita kalo dijalani pada tengah malam gelap dengan suhu udara yang dingin mengigit, dengan kondisi jalan yang terus menanjak dengan curam diantara dua tebing, serta tiupan angin yang keras dan berpijak pada batu-batu lepas yang siap membenamkan kaki kita sedalam 15cm.


Thursday, August 29, 2013

Beberapa hari setelah lebaran kemaren saya akhirnya naik juga ke Rinjani. Agak nggak percaya juga sih bisa secepat ini dapet kesempatan ke sana. Sebenernya waktu ke Lombok beberapa bulan yang lalu saya sudah sempat mikir, suatu hari bakal menyisihkan waktu buat menaklukan puncak Rinjani, yang waktu itu cuman bisa saya lihat dari kejauhan. Tapi nggak secepat ini. Eh ternyata kemarin dapet ajakan untuk naik, yasudah sekalian saja menuntaskan keinginan tersebut.

Wednesday, August 28, 2013


Entah sudah berapa lama saya tinggal di Bali, tapi malah baru tahu tentang spot snorkeling yang satu ini. Iya sih memang, Pulau Menjangan ini baru mulai booming menjadi salah satu tujuan utama bagi para pecinta bawah laut. Sebelumnya sih saya cuma mengenal pulau yang berada di utara Pulau Bali ini sebagai tempat peribadatan umat Hindu di Bali. Masyarakat di sini biasanya cuma sekedar menyeberang ke pulau ini untuk mengunjungi pura yang ada di sana. Siapa sangka ternyata di bawah laut yang biasa mereka lewati  terdapat salah satu pemandangan bawah laut terindah di Indonesia.

Akhir bulan April kemarin akhirnya saya berkesempatan untuk mengintip sedikit keindahan bawah laut pulau itu. Kali ini saya nemu partner di forum yang kebetulan pengen ke sana. Mereka saja bela-belain datang dari Jakarta cuma untuk pergi ke pulau ini, masa iya saya yang tinggal di Bali malah nggak pernah ke sana. Jadilah kami janjian, kopdar, dan kemudian berangkat bareng.
Wednesday, May 22, 2013



Hari ketiga di Makassar kami habiskan untuk island hopping di kepulauan di dekat kota.

Ini yang menurut saya sangat menarik dari Kota Makassar. Di dekat pusat kota ada kepulauan! Kok bisa? Iya, kota ini memang berada di pinggir laut. Dan di laut di sekitar situ terdapat kepulauan yang bernama Spermonde, dengan 11 pulau kecil yang bisa dikunjungi.

Untuk island hopping pun caranya sangat mudah. kita tinggal menyeberang jalan dari depan Benteng Fort Rotterdam. Ada dermaga kecil di sana, yang penuh dengan kapal nelayan yang bisa disewa. Di perairan sekitar situ terdapat banyak pulau kecil yang bisa dikunjungi. Banyak yang padat penduduknya, namun ada juga pulau-pulau kosong yang masih alami. Pulau Samalona dan Pulau Kayangan misalnya. Kedua pulau tersebut hanya memilik luas 3-5 hektar, tapi penduduknya padat banget. Untuk pulau kosongnya, ada Pulau Kodinareng Keke, yang ukurannya hanya 10 menit mengelilingi pulau dengan berjalan kaki.
Saturday, May 18, 2013

 Pasirnya yang kayak tepung


Hoaahmm.. Penyakit males ngeblog gue saya kambuh lagi. Padahal posting tentang Makassar kemaren aja belom selesai. Belum lagi koneksi semarpret congex yang klaimnya unlimited ternyata sekarang sudah dibatasi pake fup (Free Usage Policy) alias batas pemakaian normal. Itu artinya untuk paket standar kita cuma bisa internetan dengan agak nyaman sampai 2GB/bulan. Setelah itu, siap-siap aja nahan diri buat nggak misuh-misuh, karena buka Google aja sering nggak konek. Kalo lagi promo aja berkoar-koar, i hate slow lah, ini itu lah. Tapi kalo ada perubahan yang merugikan konsumen, serasa disembunyikan banget. Apa sih susahnya kasih sms notifikasi kalau ada perubahan aturan paket? Sms-sms promo ngiklan yang rada spam aja bisa, masa untuk notifikasi yang penting nggak bisa. Huh.

Skip it. Langsung aja deh, berhubung di posting sebelumnya saya sudah terlanjur ngomong mau upload foto-foto di Bira, jadi biar nggak dibilang janji-janji palsu saya upload aja foto-foto ini walaupun dengan susah payah gara-gara koneksi yang nggak memadai. Intinya, ini aja nih yang saya dapat selama setengah hari di Tanjung Bira kemaren.

Sekitar jam setengah 6 pagi saya sudah mangkal di warung di tepi pantai Bira. Bira yang Tanjung Bira di Sulawesi Selatan loh ya, bukan Pulau Bira di Kepulauan Seribu. Niatnya sih mau mantengin sunrise, tapi ternyata langit lumayan mendung. Akhirnya saya cuma ngopi-ngopi sambil ngobrol basa-basi sama pemilik warung dan nelayan-nelayan di sana, dilanjut jepret-jepret foto seadanya, kemudian balik kandang untuk tidur lagi.


sunrisenya gagal


Bangun-bangun ngelihat keluar jendela, ternyata hujan! Hadeeh, waktu yang cuma setengah hari dipotong lagi buat nunggu hujan reda. Ya sudahlah. Yang penting, begitu hujan reda sekitar pukul setengah sembilan pagi kami segera keluar dari penginapan dan, byurr, langsung nyebur, hehe. Maklum sejak semalam kami sudah nggak sabar untuk mencicipi air pantai ini :D Sebenarnya cuaca nggak begitu bagus sih. Masih rada mendung, dan pasirnya juga masih basah setelah terguyur hujan tadi pagi. Tapi hal itu sama sekali nggak mengurangi indahnya pemandangan di pantai ini. Bibir pantainya yang sangat-sangat landai membuat lautnya jadi nggak berombak. Bahkan hampir nggak ada riak-riak air yang besar. Sejauh mata memandang cuma ada air laut yang tenang dan jernih, pasir pantai yang berwarna cokelat muda mendekai putih, dan dasar laut yang berwarna turquoise yang terlihat jelas. 


 TSnya pose dulu, biar ga dibilang hoax :p


Pantainya landai, perfect buat main air

Di pinggir pantai banyak terdapat kapal-kapal nelayan dan speedboat, serta banana boat yang bisa disewa. Sementara di sepanjang pantai berdiri warung-warung semi permanen tempat warga lokal berjualan. Untungnya hari itu bukan hari libur, jadi suasana di pantai ini sangat sepi, hanya ada beberapa pengunjung lain selain kami.


Suasana Pantai Bira


Setelah puas mencicipi pantai, kami segera mencari kapal nelayan untuk disewa. Rencananya kami akan sedikit berlayar, ke pinggiran Pulau Liukang untuk snorkling. Katanya sih spot terbaik untuk snorkling di daerah ini ada di sana. Oiya, di sekitar Tanjung Bira ini ada beberapa pulau yang bisa dikunjungi, seperti Pulau Liukang dan pulau saudara ente, alias Pulau Kambing :)) Untuk menyebrang ke pulau-pulau itu biasanya harus menyewa kapal nelayan atau speedboat. Kapal nelayan jelas pilihan yang bijak, karena selain murah, kapal nelayan juga bisa memuat sampai 8 orang. Perjalanannya juga nggak terlalu jauh, sekitar 20 menit untuk sampai di Pulau Liukang. Setelah tawar menawar dengan nelayan di sana menggunakan trik jual mahal dan sok-sokan nggak jadi nyeberang, akhirnya kami dapat harga 200ribu untuk satu kapal pulang-pergi ke Pulau Liukang. Kami sewa kapal dari Bpk Bilkih, pemilik kapal nelayan yang namanya Salamatta. Kontaknya 081253592352. Jadi kalau suatu saat anda-anda sekalian butuh kapal di Bira, atau penginapan, hubungi saja si bapak ini. Bukan promosi yaa, ini cuma ngiklan #eh.

Singkat cerita, kami menghabiskan waktu sekitar 2,5 jam snorkling di pinggir Pulau Liukang. Bawah lautnya bagus, lumayan worthed untuk jadi tempat kubangan berlama-lama. Bahkan ada satu dua spot yang bagus banget, yang terumbu karangnya besar-besar dan hidup, berwarna-warni. Sekelas Karimunjawa lah..


Untuk Pulau Liukangnya sendiri kami nggak mampir, karena nggak kelihatan terlalu menarik. Dan kami juga nggak punya cukup banyak waktu untuk dihabiskan di sana. Sayangnya selama berlayar dan snorkling saya nggak berani mengeluarkan kamera, gara-gara laju kapalnya terlalu ngebut sehingga menyebabkan ombak sampai pecah berterbangan masuk ke kapal.

Kembali dari snorkling, kami sempatkan sejenak tiduran di pantai. Kami ambil posisi di sebuah spot yang terlindung di balik tanjung-tanjung kecil, sehingga nggak terlihat dari pantai. Serasa punya pantai pribadi :p Makin siang, pemandangan di pantai ini makin bagus. Lautnya makin terlihat biru jernih, dan langitnya pun membiru tajam membentang sejauh mata memandang.



Sayangnya nggak seberapa lama, kami sudah harus kembali ke penginapan.Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Rencananya satu jam lagi jadwal kami pulang ke Makassar. Sebenernya masih pengen lebih lama lagi, tapi kami rada kesian sama si supir plat kuning. Sepagian tadi sih akhirnya si spoir ikut kami mandi-mandi en snorkling. Sekalian nunggu kami balik ke Makassar katanya. Kami sih oke-oke aja, malah seneng, jadi nggak repot-repot naik pete-pete ke Bulukumba dulu. Akhirnya kami putuskan setengah dua siang balik ke Makassar.

Well, sebenarnya masih banyak spot-spot lain yang bisa dikunjungi di daerah Tanjung Bira ini. Ada Pantai Bara, Pantai Bira Timur, dan sentra pembuatan Perahu Phinisi. Tapi karena kami tahu diri, cuma punya waktu efektif setengah hari untuk menyicip Tanjung Bira ini, jadi kami ikhlaskan saja spot-spot tadi. Cukup memandangi pantai-pantai itu dari jauh saja. Next time lah ya.

Pantai Bira Timur dari kejauhan

Monday, May 6, 2013
Siapa yang pernah dengar Rammang-Rammang? Bahkan supir angkot daerah sana pun nggak tahu. Apa itu taman batu karst? Apa itu potensi heritage dunia? Itu cuma tumpukan kapur yang sebentar lagi hilang, dieksploitasi menjadi bahan baku oleh pabrik semen.
Welcome to Indonesia!

Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah Bugis. Maklum newbie, hehe. Sebenarnya tujuan utama saya jelas, mengintip daerah bawah laut kepulauan di sekitar Kota Makassar. Dan kalau bisa sampai ke Tanjung Bira. Denger-denger sih lumayan banyak spot yang worthed untuk dipakai mandi-mandi. Snorkling gear sudah standby di dalam ransel, tinggal menunggu aba-aba untuk nyebur :D

11 April 2013, saya berangkat ke Makassar via Surabaya, sendirian. Nantinya sih bakal keliling-keliling berdua sama Kiki, teman yang berangkat dari Jakarta. Rencananya kami bertemu di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Dan kami cuma modal nekat, karena sama-sama baru pertama kali ke Makassar. Cuma berbekal itinerary kemarin, budget yang sangat-sangat mepet, dan sedikit kegilaan akan turquoise-nya lautan dangkal, putihnya pasir pantai, dan warna-warni terumbu bawah laut.

Bahkan sesaat sebelum landing saja, pemandangan laut lepas dan kepulauan kecilnya sudah memanggil-manggil. Indahnyaa..






Hehehe, stop. Sebenernya di sini saya bukan mau bercerita tentang laut. Tapi tentang Rammang-Rammang, sebuah dusun di perbatasan Maros - Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Sekitar 40 km di utara Kota Makassar. Lantas ada apa dengan dusun ini? Di dusun ini terdapat "taman" batu karst yang sangat luas. Tebing-tebing karst (kapur) berjejer membentang membentuk sebuah landscape unik yang jarang ditemui di tempat lain. Tebing-tebing karst ini diperkirakan terbentuk beberapa juta tahun yang lalu oleh aktivitas lempeng bumi yang bergeser.

Dan yang bikin spesial, konon katanya daerah ini adalah kawasan karst terbesar ketiga di dunia, setelah Kawasan Karst China Selatan dan Ha Long Bay Vietnam. Bedanya, kalau dua yang di luar negeri itu sudah jadi National Park dan jadi UNESCO World Heritage, kawasan karst Rammang-Rammang ini malah teronggok di tengah sawah, terlupakan oleh tuan rumahnya sendiri. Masa iya terlupakan? Baca deh FR saya, nanti kalian bakal ngerti.

Sekitar pukul setengah 11 pagi, kami ketemuan di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Tujuan pertama kami adalah Rammang-Rammang, karena memang letaknya berlawanan arah dengan Kota Makassar. Posisi bandara ada di tengah-tengah antara Kota Makassar dengan Rammang-Rammang. Kalau dari bandara ke kota kira-kira 20 km ke selatan, sementara dari bandara ke Rammang-Rammang sekitar 20 km ke utara. Jadi daripada bolak-balik ke kota dulu, lebih praktis kalau dari bandara langsung ke Rammang-Rammang.

Keluar bandara kami diantar ojek sampai jalan poros. Sebenarnya ada damri atau shuttle bus gratis dari bandara ke jalan poros/jalan besar, tapi karena nggak ingin membuang waktu menunggu bus kami pilih naik ojek saja. Sampai di jalan besar, kami naik pete-pete (angkot) jurusan Kota-Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Dari jalan besar ke Rammang-Rammang cukup naik pete-pete sekali saja, sekitar 30 menit sampai 1 jam. Dan jangan bilang ke sopir pete-pete, mau turun di Rammang-Rammang! Kenapa? Karena supirnya kadang nggak ngerti Rammang-Rammang itu di mana. Jadi?

Sekitar setengah jam dari bandara, pete-pete kami melewati daerah Maros. Di situ saya bilang pada supir pete-pete, "Turun di Rammang-Rammang ya pak".
Dan tau jawabnya? Si supir malah balik bertanya, "Rammang-Rammang itu dimana ya?".
Hah. Saya dan Kiki saling berpandangan. Nah loh, turun di mana dong?

Untungnya saya ingat pernah baca blog orang, turunnya di pertigaan pabrik semen Bosowa. Akhirnya saya bilang, "pertigaan semen Bosowa pak".
Dan si supir pete-pete langsung tau. "Ooh, iya mas", jawabnya.

Dari sini saya sudah rada heran, masa iya supir angkot di sini aja nggak tau Rammang-Rammang, karst terbesar ketiga di dunia?   

Sekitar pukul 11 lewat kami sampai juga di pertigaan pabrik semen Bosowa. Dari kejauhan sudah terlihat tebing-tebing karst yang berdiri megah. Berjajar rapi dari kiri ke kanan, menampilkan pemandangan yang nggak biasa.



Dari pertigaan ke dusun Rammang-Rammang masih berjarak 1,5 km lagi. Nggak jauh sih sebenernya kalau ditempuh dengan jalan kaki. Tapi lagi-lagi kami pilih ojek untuk menghemat waktu. Maklum, judulnya kan flashpacking, hehe. Kami putuskan untuk naik ojek langsung ke pinggir sungai, melewati taman batu yang membentang di sisi jalan. Iya, rencananya kami akan langsung menyusuri sungai dengan perahu dulu, baru nanti pulangnya mampir ke taman batu. Di pinggir sungai kami menyewa perahu unttuk mengantarkan kami menyusuri sungai.

Sebenarnya siang itu nggak ada warga yang mangkal menyewakan perahu. Semua warga sibuk bertanam di sawah. Tapi kami nggak menyerah begitu saja. Di saat-saat seperti inilah gunanya bergaul sama tukang ojek :p akhirnya tukang ojek yang mengantar kami jadi kesana-kemari keliling nyariin warga yang punya perahu untuk kami :D

Jadi kalo kalian-kalian ada rencana mau ke Rammang-Rammang, nggak ada salahnya untuk kontak ojek yang saya pakai, buat transport atau sewa perahu. Ini kontaknya 0853-9923-9516. Tarif perahunya standar Rp 100ribu.

Sambil nunggu perahu datang, kami ketemuan sama Ancha, momod forum sebelah, Backpacker Indonesia, yang biasa ngehost para backpacker di Rammang-Rammang. Sebenernya saya bukan anggota BPI sih, tapi siapa sih yang nggak mau dihostin, wkwk.

Bertiga kami naik perahu yang datang menjemput. Perahu kami pun berjalan perlahan menyusuri sungai. Menembus pelosok daerah itu, bersampan di antara tebing-tebing karst, dengan semak-semak nipah dan bakau berjejer menutupi pinggiran sungai, rasanya menyenangkan!

 

Akhirnya sampai juga kami di ujung sungai, di spot yang bagus untuk menikmati pemandangan. Spot ini tersembunyi  di antara tebing-tebing karst yang tinggi. Di sana kami berfoto-foto, menikmati suasana sunyi yang nyaman. dengan udara yang sejuk, pepohonan yang menghijau dan hampir nggak ada manusia selain kami, rasanya damai bangett.

Sekitar setengah jam kami berkeliling tempat itu, melintasi setapak-setapak rumput, melompati genangan-genangan air. Sayangnya langitnya nggak cukup bagus untuk foto-foto. Jadi kami foto seadanya aja. Puas berkeliling, kami kembali ke perahu untuk selanjutnya mengunjungi taman karst yang tadi kami lewati.



Lokasi taman karstnya sendiri nggak begitu jauh dari sungai. Taman karst ini terletak di antara sawah-sawah penduduk sekitar, jadi untuk mencapai taman karst itu kami harus melintasi pematang-pematang, melompati becek-becek genangan air dan tumpukan jerami.



 



Sayangnya sebelum sempat menjelajah lebih jauh, kami sudah harus kembali ke Kota Makassar. Jam sudah menunjukkan pukul 14:30, dan menurut itin sudah saatnya kami kembali. Sebelum meninggalkan dusun Rammang-Rammang, kami sempatkan mampir di sebuah warung makan di pertigaan pabrik semen. Di sana kami nyicip-nyicip salah satu masakan khas Makassar, yaitu Pallubasa. Oya, di depan warung itu kami juga bertemu Mba Ade, seorang solo traveler yang kebetulan juga pulang dari Rammang-Rammang. Berempat kami makan di warung itu sambil ngobrol panjang lebar. Nantinya sih Mba Ade bakal gabung jadi rombongan ke Pulau Samalona, tapi itu cerita nanti :D

Pukul 15:30 kami bubaran. Saya dan Kiki menuju Kota Makassar untuk langsung mengejar mobil ke Tanjung Bira, Ancha pulang ke rumah, dan Mba Ade mengejar bus ke Toraja. Iya, akhirnya kami putuskan untuk menggunakan itin versi Tanjung Bira saja. Sembari memandangi bukit-bukit karst yang menjauh, saya janji pada diri sendiri. Suatu saat saya bakal balik lagi, pasti.

Anyway, beginilah negara kita, potensi seperti Rammang-Rammang ini sama sekali nggak dingat. Siapa yang pernah dengar Rammang-Rammang? Bahkan supir angkot daerah sendiri pun nggak tau. Apa itu karst? Apa itu potensi heritage dunia? Itu cuma tumpukan kapur yang sebentar lagi hilang diolah menjadi bahan baku semen. Mungkin untuk negara kita, Rammang-Rammang cuma tumpukan batu kapur biasa, yang berpotensi jadi bahan dasar semen di pabrik semen Bosowa. Tempat ini memang bukan (atau tepatnya belum) menjadi tempat wisata resmi. Cuma dari mulut ke mulut saja. Dan saat ini memang justru anak-anak BPI yang gencar-gencarnya mempromosikan tempat ini melalui forum-forum domestik maupun mancanegara. Dengan harapan semoga saja suatu hari UNESCO atau siapapun, melirik potensi tempat ini. Bukannya durhaka atau gimana, tapi mau berharap sama pemerintah sendiri rasanya pesimis. Bahkan gosipnya pemerintah daerah sana sendiri sudah memberi lampu hijau pada pabrik semen untuk mengeksploitasi kapur di daerah sana sebagai bahan baku semen.

Fyuhh. Rada nyesek rasanya kalau suatu hari beli semen, yang ternyata dibuat dengan cara menghancurkan daerah karst terbesar ketiga di dunia yang penuh potensi berharga.
Saturday, April 20, 2013

Masih seperti dulu-dulu sih, hampir nggak ada yang berubah :-D





Wednesday, April 10, 2013

Sabtu 16 Maret, Solo. Kalau Jogja punya slogan Never Ending Asia, Kota Solo ini pun juga punya julukan khas, yaitu The Spirit of Java.

Sebenarnya saya sendiri bingung mau ngapain di sini. Rencananya sih dari Semarang saya berencana langsung pulang ke Bali. Awalnya gara-gara malam sebelumnya ada newbie dari salah satu forum traveler yang saya ikuti yang ngajak naik ke Ijen Crater, tanggal 18 Maret. Seperti biasa, kalau newbie yang ngajak pasti mendadak. Trus itin, budget, dan lain-lainnya serba nggak jelas. Tiap ditanya ini-itunya, jawabnya "gampanglah nanti". Tapi  berhubung saya pulangnya melewati daerah Banyuwangi, ya sudahlah, nggak ada salahnya mampir dulu ke Ijen.

Dan karena masih ada 2 tanggal lagi sebelum tanggal 18, akhirnya saya putuskan untuk ke Solo dulu, yang notabene cuma 12 ribu rupiah dari Semarang dengan Bus Ekonomi AC. Dan begitulah, hari ke 9 ini saya habiskan berkeliling-keliling Kota Solo.

Okay, these are all i get.
(Dan lagi-lagi, sebagian gambarnya nyolong di Wikipedia sama Yogyes.)

0. Lokasi Homestay, Kampung Batik Kauman
Hal pertama yang saya lakukan begitu sampai di Solo tentu saja mencari homestay, supaya saya bisa cepat-cepat menaruh backpack bawaan saya. Salah satu daerah pusat homestay dan penginapan murah di Solo adalah sekitaran Kemlayan, yaitu di persimpangan Jl. Doktor Radjiman dan Jl. Yos Sudarso. Memang daerah ini sudah terkenal dengan penginapan murahnya, bahkan bule-bule pun banyak yang menginap di daerah ini, karena letaknya yang strategis di tengah kota. Daerah ini berjarak sekitar 5 menit jalan kaki dari Pasar Klewer. 15 menit dari terminal dengan menggunakan becak. Dan 10 menit jalan kaki dari Jl Slamet Riyadi, jalan utama di kota ini. Tarifnya pun murah-murah. Rata-rata 80ribu ke bawah dengan kamar yang nyaman. Saya menginap di salah satu homestay di Jl Cakra. Mama homestay namanya, dengan tarif 60ribu semalam.





Kebetulan homestay yang saya tempati termasuk dalam wilayah Kampung Batik Kauman. Kampung ini adalah salah satu pusat batik di Kota Solo, dimana kita bisa menemui butik, galeri, dan toko batik di sepanjang jalan kecil itu. Suasana kampungnya pun nyaman, bersih, dan tertata rapi.


1. Pasar Klewer

Berjalan kaki 5 menit dari homestay, sampailah saya di Pasar Klewer. Pasar yang  legendaris ini merupakan pusat kulakan batik dan oleh-oleh di Kota Solo. Di sini saya beli beberapa baju 'instan' dua puluh ribuan, karena baju bersih saya sudah habis. Beli langsung pake, wkwk, gapapa lah darurat :p


2. Keraton Surakarta Hadiningrat


Keraton ini berada tepat di sebelah Pasar Klewer. Istana peninggalan jaman Kerajaan Mataram Islam ini sampai sekarang masih menjalankan adat-istiadat kesunanannya. Keraton dibuka untuk umum pada pukul 09:00 sampai 14:00 WIB pada hari Senin sampai Kamis. Sementara Sabtu dan Minggu buka pada pukul 09:00 sampai 13:00 WIB. Saya beruntung datang cukup pagi, sehingga dapat menyaksikan upacara pagi para prajurit istana.





Di sisi lain keraton ini terdapat museum yang berisi peninggalan-peninggalan kerajaan dari masa lalu.







3. Masjid Agung Solo



Masjid Agung Solo ini berada di depan Pasar Klewer. Masjid ini dibangun pada tahun 1763. Lagi-lagi, di sini kita bisa menikmati aroma khas arsitektur Jaman Penjajahan. Dengan tanah yang cukup luas dan dikelilingi oleh tembok besar setinggi lebih dari 3 meter, masuk ke kawasan ini serasa kembali hidup di jaman dulu. Kesan abad 18nya kerasa banget. Bangunan tuanya pun masih dirawat dengan rapi. Saya ingat waktu masih SD pernah ke sini (sekitar 15 tahun yang lalu), dan sampai sekarang rasa-rasanya nggak ada perubahan sama sekali, kecuali cat-cat dindingnya.



4. The House of Danar Hadi


 Nyolong dari Wikipedia

 The House of Danar Hadi, yang juga dikenal sebagai Museum Batik Danar Hadi terletak di Jl. Slamet Riyadi, sekitar 5 menit dari Kraton Surakarta Hadiningrat menggunakan becak. Museum ini adalah sebuah kompleks wisata heritage terpadu tentang batik, yang berisi koleksi-koleksi batik dari jaman dahulu hingga sekarang. Museum ini adalah museum batik terbesar di dunia loh. Jadwal buka museum ini adalah Hari Senin-Minggu pukul 09.00 sampai 16.30 WIB.

 
5. Taman Rekreasi Sriwedari

 dierah saking Wikipedia Basa Jawi

Sekitar 500 meter dari House of Danar Hadi, masih di Jl. Slamet Riyadi. Taman Sriwedari adalah sebuah kompleks taman yang dibangun oleh Sultan Pakubuwono X. Pada awalnya, Taman Sriwedari ini digunakan sebagai tempat rekreasi dan peristirahatan para keluarga kerajaan. Saat ini, taman rekreasi ini mempunyai beberapa fasilitas hiburan baik untuk anak kecil maupun dewasa. Saya sendiri nggak masuk sampai ke dalam, karena kurang tertarik, cukup tau aja :D

6. Keraton Mangkunegaran

nyomot dari Wikipedia

Sekitar 500 meter di seberang The House of Danar Hadi, terdapat bangunan istana bernama Keraton Mangkunegaran. Iya, keraton lagi. Bedanya Keraton Mangkunegaran ini lebih kecil. Keraton ini dimiliki oleh keluarga kerajaan Mangunegara, yang memberontak dari Kasunanan Surakarta pada masa Perjanjian Giyanti oleh pemerintahan kolonial Belanda. Sayangnya saya nggak sempat masuk ke dalam Keraton ini, gara-gara membaca tips sesat di Foursquare yang bilang keraton ini lebih bagus dilihat pada malam hari karena cahaya lampu-lampunya yang cantik. Namun ketika saya datang ke keraton ini pada malam hari, ternyata sudah ditutup untuk umum -__-". Terpaksa saya memandangi bangunan ini dari luar saja.



7. Pasar Triwindu / Pasar Malam Ngarsopuro
Jika berjalan kaki dari arah Jl. Slamet Riyadi menuju ke Keraton Mangkunegaran, maka kita akan melewati sebuah pasar barang antik, Pasar Triwindu namanya. Di pasar ini kita bisa berburu barang-barang antik seperti lukisan, patung-patung, vas bunga dan gerabah, serta barang-barang antik lainnya. Kalaupun nggak ingin belanja, kita bisa berburu kuliner khas Kota Solo, atau sekedar berjalan-jalan melihat-lihat bangunan pasar yang dibuat seolah-olah seperti bangunan antik, menikmati suasana The Spirit of Java-nya kota ini. Memang daerah ini dirancang sebagai citywalk Kota Solo, tempat para wisatawan berjalan-jalan kaki menikmati suasana.


Pada saat malam minggu (dan kebetulan saya berada di sana pada malam minggu), sepanjang Jl. Diponegoro di depan Pasar Triwindu ini akan berubah menjadi Pasar Malam Ngarsopuro. Pasar ini dicetuskan oleh Jokowi, Walikota Solo pada saat itu, untuk menjadi lokalisasi para pedagang kaki lima. Di pasar ini kita dapat berbelanja suvenir-suvenir khas Kota Solo, menikmati kuliner, dan juga merupakan tempat berkumpulnya komunitas-komunitas anak muda Solo. Jika beruntung, kita dapat menyaksikan anak-anak muda Solo mengadakan pertunjukan musik, capoeira, dan seni budaya lainnya di sana.


Sabtu 16 Maret, Solo, malam hari. Sengaja hari ini sepanjang hari saya tidak membawa hp saya. Pulang-pulang ke penginapan, ngecek hp, beberapa pesan masuk, mengucapkan selamat ulang tahun. Tapi karena udah capek,  akhirnya nggak ada satupun yang saya balas. Padahal udah di-hidden di Facebook, tapi masih aja ada yang tau -___-.  Hehe, thanks for all, i really appreciate :D
Sunday, March 31, 2013
rei@2015