Versi Rapi
Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts



Kelimutu, danau legendaris yang punya tiga warna. Merah, Biru, Hijau. Gitu sih yang dulu gue pelajari waktu SD. But my whole life is a lie, karena sesampainya kami di sana kenyataannya nggak seperti itu -_-

Pukul 4 pagi kami berangkat dari Desa Moni memasuki Taman Nasional Gunung Kelimutu. Menggunakan mobil si Om tentunya. Bisa sih ngojek, tapi mumpung ada supir gratisan kenapa enggak, hehe. Jalan yang kami lalui masih sama, gelap, curam, dan berliku. Jarak 15 km antara Moni dengan Kelimutu kami lalui selama sekitar 40 menit dalam gelap, sebelum akhirnya tiba-tiba muncul sebuah bangunan yang merupakan pos masuk daerah wisata Gunung Kelimutu. Nggak terlalu banyak mobil yang kami temui di area parkir. Entah kami kepagian atau memang sedang sepi pelancong. Dan walaupun termasuk dataran tinggi anehnya udaranya nggak terlalu dingin, nggak sedingin udara di Ruteng pada malam sebelumnya.

Sampai di sana Friska segera membeli tiket dan mengisi buku tamu. Name : Friska. Nationality : INA. From : Semarang. Diisinya kolom-kolom di buku tamu itu dengan bangga, haha. Iyalah, hampir 2000 km jauhnya dari rumah dan ditempuh dengan perjalanan darat itu lumayan bisa dibanggakan.  Cuman yang bikin rada canggung itu harga tiket masuknya. Tiket masuk ke kawasan Danau Kelimutu harganya cuma lima ribu perak. Jauh-jauh ke sini, habis budget segini banyak untuk sampai, hanya untuk beli tiket seharga Rp.5000! Semacam ironi gitu.

Kemudian dengan bergegas kami menuju anak tangga di tempat awal memulai pendakian. Hari masih gelap dan jalan menuju ke puncak nggak terlalu jelas. Dengan bantuan senter kami mulai naik pelan-pelan. Nggak terlalu jauh memang untuk naik ke puncak, namun jarak 200 meter tanjakan pertama cukup membuat napas gue tersengal dan ketinggalan di belakang. Tapi nggak masalah, toh pada akhirnya tetep gue yang pertama kali sampai di atas. Malu dong kalo sampai kalah sama yang muda :D

Langit mulai terang ketika kami menapaki anak-anak tangga terakhir menuju tempat pandang utama. Sedikit bergegas kami menaiki tangga terakhir untuk mengejar sunrise. Membuat timelapse sunrise di kelimutu itu wajib hukumnya.Dan tepat beberapa saat setelah kami sampai, sunrise yang kami kejar akhirnya muncul juga. Segera kami menyiapkan kamera-kamera kami. Time to timelapse!




Nggak banyak sih hal yang bisa dilakukan di sana selepas sunrise. Ngopi, selfie, ngerekam video, dan mungkin sekedar ngobrol dengan pengunjung lain.



By the way konon sejak 100 tahun yang lalu, salah satu danau di sana sudah pernah berubah warna sebanyak 44 kali. Sementara dua danau lainnya sudah berubah warna sebanyak 25 dan 15 kali. Namun sayangnya ketika kami ke sana ketiga danau tersebut berwana hijau, meski dengan intensitas yang berbeda-beda. Ada yang hijau muda, hijau kebiruan, dan satu lagi hijau gelap.

Dan ketika langit mulai terang kami pun turun untuk kembali ke Moni, mengepak barang, dan menempuh 50 kilometer berliku lagi untuk balik ke Kota Ende. Rencananya malam ini kami akan menginap di Ende, sekedar untuk menikmati nyamannya kasur, membuang waktu dan bermalas-malasan melewati sisa hari ini.

Sampai di Ende kami segera mancari penginapan. Kami susuri jalan di sekitar Bandara Ende sampai akhirnya kami temukan salah satu penginapan yang murah meriah, cuma 100 ribu per kamar. Sengaja kami mencari penginapan dekat bandara, karena besok pagi-pagi sekali kami sudah harus flight kembali ke Bajo. Iya, akhirnya kami putuskan untuk kembali ke Labuan Bajo menggunakan pesawat. Selain untuk menghemat waktu - ini sudah hari kelima dari 11 hari yang kami punya - alasan utamanya karena kami enggan dikocok lagi di jalanan berkelok-kelok antara Ende-Bajo seperti kemarin -_-

Siang itu kami habiskan dengan tiduran di kamar penginapan yang serasa sauna. Ende panas banget! Sepanas siang bolong di Surabaya, bahkan mungkin lebih. Jadi kami sepakat siang itu kami habiskan dengan tepar di kamar masing-masing. Bukannya kami manja, tapi dengan cuaca sepanas itu backpacker paling tangguh pun bakal neduh, percaya deh.

Sore hari kami akhirnya keluar juga dari penginapan untuk menikmati suasana Kota Ende. Kotanya lumayan menyenangkan. Jarang-jarang ada sebuah kota yang punya pemandangan gunung dan pantai sekaligus. Di utara terlihat gunung dan bukit berjejer-jejer seolah kota itu tepat berada di kaki gunung. Namun ketika kita melihat ke selatan, pantai biru nan luas terbentang.

Sore itu akhirnya kami bisa menikmati sunset properly, nggak dikejar-kejar waktu, nggak perlu kepikiran hal-hal lain. Kami berpencar berjalan sendiri-sendiri menikmati penghujung hari dengan cara kami masing-masing. Tika dan Friska berjalan-jalan ke ujung dermaga, rezky sibuk dengan kamera dan timelapsenya, si om entah kemana, sementara gue duduk di dermaga sambil memasang headset dan mendengarkan lagu. Sekilas melintas perasaan yang aneh. Di daerah yang sama sekali asing, bersama orang-orang yang baru gue kenal 5 hari. Sendiri, tapi nggak sendirian. Matahari hampir tenggelam membuat langit begitu jingga, suara ombak mengalun merdu melengkapi, penduduk lokal bermain-main di tepi pantai. Ingatan tentang hari-hari biasanya, rutinitas-rutinitas biasanya, pikiran-pikiran tentang kerjaan, hilang entah kemana.

Di luar pelabuhan ada sebuah pasar tradisional yang sudah mulai tutup. Setelah sunset buru-buru kami ke pasar itu untuk mencari kain tenun khas Ende. Di pinggir jalan terlihat pedagang kain yang berjualan menggunakan sebuah mobil Avanza sebagai "toko"nya. Si bapak pedagang sedang membereskan dagangannya bersiap-siap menutup "toko"nya. Buru-buru kami datangi si bapak, memilih-milih kain yang belum sempat dipacking kembali ke dalam mobil. Akhirnya si bapak mengalah dan mau melayani kami sejenak. Tapi yang namanya cewe kalo belanja emang nggak bisa sebentar. Hari sudah gelap, Friska dan Tika masih belum selesai milih-milih, tapi si bapak sudah harus pulang. Akhirnya, you know what, mereka berdua ikut pulang sama si bapak pedagang kain dong! Nebeng "toko berjalan" si bapak -_-

Kami sisanya mau nggak mau musti menyusul ke tempat si bapak pedagang kain tenun dengan mobil si Om. Sepanjang perjalanan si Om ngoceh, gimana kalo diculik, ini tempat asing, hati-hati, bla bla bla. Gue sih cuek. Maklum si om bukan backpacker, jadi nggak terbiasa dengan spontanitas macam itu. Dengan berbekal location yang dikirim, akhirnya kami sampai juga di tempat si bapak pedagang kain. Ternyata si bapak punya toko beneran di dekat bandara. Dan yang pasti, mereka berdua selamat sentosa, nggak jadi korban penculikan, haha.

Hampir satu jam kami menunggu ibu-ibu belanja. Mereka berdua akhirnya keluar dari toko dengan beberapa kantong belanja besar, sambil senyum-senyum. "Eh, kita semua mau dianterin makan malem sama si bapak loh, nyari ikan bakar!" Seriusan, si bapak dagang kain tenun beneran mau nganterin kami makan ikan bakar di pantai, dengan "toko berjalan"nya yang sudah kembali jadi mobil biasa. Tentu saja dengan senang hati kami menerima tawaran itu.

Dan begitulah, kami balik lagi ke pantai nggak jauh dari pelabuhan sore tadi untuk makan ikan bakar. Dengan mobil si bapak. Diantar oleh anaknya yang masih SMA. Si bapak sendiri nggak ikut karena masih sibuk mengurusi toko benerannya. Well, biasanya kita emang musti waspada sama orang yang belum di kenal, apalagi di daerah yang sama sekali baru. Tapi terkadang nggak ada salahnya kok mempercayai orang lain.

Kami makan malam ikan bakar dan teman-temannya di semacam foodcourt di Pantai Ria, sebelahan sama pelabuhan. Makan enak (lagi), sekedar merayakan malam terakhir di Ende. Malam terakhir bersama si Om juga. Mulai besok kami sudah harus berpisah jalan. Si Om bakal balik ke Pelabuhan Aimere, menunggu ferry yang akan menyeberang ke Kupang hari Sabtu nanti. Sementara kami balik ke Bajo untuk melanjutkan itinerary kami. Dan yang namanya merayakan perpisahan itu selalu terasa aneh. Perpisahan kenapa harus dirayakan? Entahlah. Yang pasti setelah ini kecil kemungkinan kami akan bertemu lagi dengan si Om, seumur hidup, karena meskipun dalam 5 hari terakhir selalu bersama, kami sama sekali nggak saling tukar nomor kontak. After all, hitchhiker is hitchhiker. Cuman numpang sampai tujuan, kemudian ciao. Haha. Begitu juga dengan kota Ende. Setelah beberapa lama nama Ende terngiang-ngiang di pikiran kami sebagai tujuan utama yang sangat kami dambakan untuk cepat-cepat sampai waktu overland dari Denpasar kemarin, akhirnya dengan segara harus kami tinggalkan kembali.

Well, saat itu, waktu main-main air di Pantai Ria sembari menunggu makan malam disajikan, gue mikir, apakah gue bakal bisa balik lagi ke sini? Kalaupun iya, apakah rasanya masih akan sama seperti saat ini? Kalaupun bener suatu saat gue bakal balik lagi, pastinya bukan bareng Friska, Tika,Rezky, dan si Om. Pastinya rasanya bakal berbeda. So this is the only moment of our time, lets just relive it forever. Moments fades, but memories lasts.

Bersambung.

Monday, February 8, 2016
Ruteng. Gue rada familiar dengan nama ini, gara-gara dulu beberapa tahun yang lalu temen kantor (mantan kantor sih tepatnya) dapat jackpot penempatan di cabang Ruteng. Kalo dulu, kesan yang gue dapat sih Ruteng itu kotanya panas, berdebu, terbelakang, lengkap dengan savana dan padang rumput kecoklatan sejauh mata memandang. Dan joke klasik itupun samar-samar masih gue inget: "Nanti kita main-main ke sana deh, nengokin elu kalo udah jadi kepala cabang di sana". Well siapa sangka ternyata malam ini gue bener-bener berada di sana memandangi si kantor cabang dari dalam mobil, sembari googling mencari info tentang penginapan di kota itu.

Ruteng ternyata 180' terbalik dari apa yg gue bayangkan. Ruteng itu dataran tinggi, berbukit-bukit, hijau, dan dingin banget. Baru setengah 10 malam tapi kota kecil itu sudah begitu sepi. Setelah mondar-mandir dan menelepon semua nomor penginapan di Ruteng yang kami temukan di Google, dan sempat hampir menyerah dan berniat nekat melanjutkan perjalanan, akhirnya kami menemukan sebuah penginapan bernama Hotel Rima. Nggak terlalu bagus, bergaya etnik dengan dinding dan lantai yang terbuat dari kayu, tapi well penginapan murah macam apa sih yang bisa diharapkan ada di kota kecil begini. Setidaknya kami bisa sekedar rileks setelah 2 hari perjalanan non stop. Penginapannya sendiri nggak jelek-jelek amat, bernuansa backpacker dengan kamar bertempat tidur bertingkat,  sofa lebar dan meja untuk duduk-duduk, bar, informasi wisata, walaupun semua fasilitasnya ya sederhana sesuai harganya yang cuma 200rb per kamar. Pengunjungnya pun rata-rata pelancong dan backpacker, termasuk beberapa wisatawan asing, jadi bukan penginapan semacam hotel melati yang.....you know lah.

Hari berikutnya kami melanjutkan perjalanan ke Ende. Yak, tinggal setengah hari perjalanan lagi sebelum sampai di tujuan pertama kami. Namun walaupun cuma setengah hari, bukan berarti perjalanan di depan bakal mulus-mulus aja. Dari Google Maps kami sudah bisa bayangkan bakalan seperti apa nanti di jalan. Ruteng dan Ende dipisahkan oleh jalur yang bakal mengocok kami lebih dari sebelumnya lihat saja di peta, jalanan panjang yang berliku-liku, berputar-putar, dan naik turun, yang belum pernah gue lihat di peta manapun sebelumnya.




 Ini jalan raya apa mie kriting? -_-

Walaupun begitu, ada beberapa saat dimana pemandangan sepanjang jalan begitu indah. Dari atas bukit kami dapat melihat hamparan laut biru yang cantik. Memang nggak ada yang lebih keren dibanding view tebing-tebing tinggi, bukit menghijau, dipadu dengan birunya lautan sebagai latarnya.
Singkat cerita, diselingi beberapa kali mampir di pantai tak bernama yang belum terjamah, pukul 3 sore kami sampai juga di Ende. Setelah 3 hari perjalanan panjang dari Denpasar, melewati berbagai macam jalur darat dan laut, tak terbayangkan begitu lega rasanya ketika melihat tulisan Selamat Datang di Ende. Finally, there we are!

Hal pertama yang kami lakukan di Ende adalah mencari pelabuhan untuk si Om menyeberang ke Kupang. Rencananya kami akan berpisah di pelabuhan. Si Om melanjutkan perjalanan ke Kupang, sementara kami naik angkot ke Desa Moni, tujuan kami selanjutnya.

Setelah beberapa kali bertanya pada penduduk sekitar, akhirnya kami sampai juga di pelabuhannya. Sampai di sana gue rada ngerasa aneh, pelabuhannya sepi banget. Hampir nggak ada aktivitas seperti di pelabuhan-pelabuhan utama lainnya. Nggak ada loket, nggak ada keramaian sama sekali. Akhirnya kami pergi ke kantor pelni di sana dan bertanya. Dan, yak, terjawab sudah kenapa pelabuhannya begitu sepi. Pelabuhan itu bukan pelabuhan utama, semua aktivitas sudah dipindah ke pelabuhan aimere, berpuluh-puluh (atau bahkan seratusan? Entahlah) kilometer dari sana. Lucunya, daerah aimere sudah kami lewati tadi. Itu artinya si Om harus balik lagi, melewati jalanan ekstrem berjam-jam lagi. Dan yang bikin kaget lagi, ternyata kapal ferry ke Kupang nggak jalan setiap hari! Jadwal kapal berikutnya adalah hari Sabtu. Padahal haribini masih Selasa. Itu artinya si Om masih harus menunggu 4 hari lagi. Gubrak. Entahlah siapa yang salah. Kami, yang yakin banget kalau kapal ferry ke Kupang menyeberang dari Pelabuhan Ende, atau si Om, yang asal berangkat aja tanpa planning jadwal yang matang. Yang pasti kami jadi makin sadar kalo perencanaan itin yang matang itu wajib kalau kamu pergi ke daerah yang sama sekali asing.

Well, akhirnya dengan sedikit rayuan, kami berhasil mengajak si Om untuk ikut bareng kami ke Moni sambil menghabiskan waktu. Okay, kami setengah nakal juga sih memanfaatkan situasi, sehingga kami nggak perlu repot-repot cari angkutan umum ke Moni dan Kelimutu esok harinya. Cukup mengajak si Om yang lagi galau untuk mengantar kami dengan sepik-sepik daripada nungguin 4 hari sendirian. Dan voila, akhirnya kami benar-benar diantar sampai ke Moni yang jaraknya 50 km dari Ende. Haha.

Sekitar pukul 5 sore kami berangkat ke Moni. Sekitar 2 jam perjalanan yang kembali meliuk-liuk antara bukit dan tebing, kami sampai di Moni. Desa Moni adalah desa terdekat dari kawasan Taman Nasional Gunung Kelimutu (TNGK). Di sinilah biasanya para pelancong bermalam sebelum esok paginya naik ke Kelimutu. Kami menginap di homestay bernama Daniel Lodge. Fasilitasnya lumayan oke dibanding penginapan-penginapan murah lain di sekitar sana. Kamarnya lumayan bersih, lega, bangunan baru, ada parkirannya, ada air panas, sarapan roti bakar dan selai, pisang, minuman hangat. Tarif aslinya 320rb per kamar, tapi berhubung kami datang malam-malam, daripada kosong akhirnya kami dapat harga 200rb. Lumayaan.


Setelah keluar sebentar untuk sarapan, kami langsung balik ke penginapan dan tewas karena besok pagi-pagi sekali kami harus bangun dan naik ke Kelimutu.

Bersambung.



Sunday, January 24, 2016
Selasa, 29 Desember 2015

Pernah bayangin gimana rasanya mengemudi pada pukul 2 dini hari kemudian berhenti mendadak karena ada segerombolan kuda liar yang 'parkir' di tengah jalan? Dan 1 kilometer kemudian mengerem mendadak lagi gara-gara ada gerombolan sapi juga parkir di tengah jalan. Dan setelahnya ada gerombolan kerbau, gerombolan anjing, gerombolan kambing semuanya bergantian tidur cantik atau melintas seenaknya di tengah jalan. Kedengerannya nggak biasa, tapi kalau kamu mengemudi 1500 kilometer di timur Jakarta, tepatnya di jalan raya lintas pulau Sumbawa, pemandangan seperti itu bukan lagi hal yang aneh. Nggak terhitung lagi berapa kali kami mengerem mendadak saking seringnya gerombolan hewan melintas ketika kami melintasi setengah Pulau Sumbawa.

Setelah menerobos lintasan dengan parade hewan macam safari tengah malam itu selanjutnya kami harus berkendara di jalan penuh tikungan, gelap tanpa lampu jalan, menanjak dan menurun melintasi bukit dan jurang. Gue sama sekali belum dan nggak bisa tidur gara-gara cara mengemudi si Om yang shitty, 130km/jam di jalanan macam itu, menggeber mobil dengan kecepatan tinggi tanpa aba-aba dan kemudian secara tiba-tiba menginjak dalam-dalam pedal rem  seenak jidat. Kalo berkendara sendiri sih oke-oke aja, tapi kalau kamu punya penumpang bisa dipastikan penumpang kamu bakal mual-mual nggak keruan. Tapi mau apa lagi, kami nggak bisa protes. Kami cuma hitchhiker yang nggak mau diturunin ditengah jalan karena protes cara mengemudi si empunya mobil -_-

Dan ketika saatnya giliran gue mengemudi kondisi jalanan nggak bertambah baik. Setelah melintasi padang savana yang gelap, jalanan kembali melintasi bukit. Kalau kamu tau ekstremnya mengemudi di Gunung Gumitir, antara Banyuwangi-Jember di malam hari, kondisi jalan yang kami lalui nggak jauh-jauh dari itu. Sama ekstremnya. Bedanya, perjalanan naik turun bukit disini jauh lebih panjang dan lama dari waktu tempuh di Gunung Gumitir. Plus gue yang belum memejamkan mata sedikitpun sejak kemarin mulai kehilangan setengah nyawa. Nekat? Iya, sedikit. Manusia-manusia lain sudah tidur nyenyak di jok masing-masing, jadi gue merem dikit juga nggak akan ada yang protes. Untungnya Tika yang duduk di jok depan sesekali bangun dan menemani ngobrol. Kalo enggak, bisa-bisa gue juga ikutan tidur deh.

Sekitar 7 jam kemudian kami sampai di Pelabuhan Sape. Labelnya sih "Pelabuhan", tapi jangan bayangin pelabuhan semacam Merak atau Gilimanuk. Di sini, yang namanya pelabuhan itu cuma sekedar tanah lapang yang penuh dengan truk-truk logistik parkir menunggu giliran menyeberang, beberapa kios dan warung, dan sebuah dermaga. Dengan genangan-genangan air dan tanah becek, sampah dimana-mana, burung-burung merpati liar, kambing-kambing bebas berjalan-jalan dan memakan sampah dan kertas, tempat ini lebih mirip pasar tradisional daripada pelabuhan. Well, kamu tinggal di Jakarta dan masih sering mengeluhkan fasilitas publik yang kurang-begini kurang-begitu? Sesekali main-main deh ke timur, seketika kamu akan bersyukur tinggal di Jakarta. Bayangin, satu-satunya pelabuhan yang membawa truk-truk muatan logistik dari Sumbawa ke Flores, fasilitasnya minim, cuma punya satu dermaga, satu keberangkatan kapal dalam sehari. Belum lagi antrean masuk ke kapal yang enggak banget, suka-suka petugas pelabuhannya. Ditambah dengan biaya menyeberang yang nggak murah. Kami berlima plus mobil kena 1,35 juta. Contoh yang sangat-sangat nyata tentang terjadinya kesenjangan sosial akibat pembangunan infrastruktur yang nggak merata di negeri ini.

Oke skip. Penyeberangan dari Sape Sumbawa ke Labuan Bajo Flores yang memakan waktu sekitar 6 jam lagi-lagi kami habiskan dengan tidur menggelar sleeping bag di atas dek kapal. Setelah beberapa jam berlayar, kapal mulai melintasi pinggiran gugusan Pulau Komodo dan kawan-kawan. Terlihat bukit-bukit gersang Pulau Komodo dan Rinca berdiri gagah di bawah langit biru cerah. Ssetelah 2 hari perjalanan akhirnya aroma liburan mulai terasa, yay. Sekedar bocoran indahnya gugusan Pulau Komodo untuk kami sebelum benar-benar ke sana. Saat ini kami cuma lewat, karena setelah kapal bersandar kami akan kembali melanjutkan perjalanan ke Ende yang masih jauh di timur. Iya, tujuan pertama kami adalah Kelimutu, sang danau legendaris 50 km dari Ende.

Kapal merapat di Labuan Bajo sekitar pukul 4 sore. Kemudian ketika melanjutkan perjalanan, kami temukan bahwa ternyata jalanan di Flores lebih ekstrem dari Sumbawa. Jalanan utama lintas pulau Flores nggak sebagus yang kami bayangkan. Jalannya sangat sempit untuk ukuran jalan utama. Sempit, menanjak, dan berkelok-kelok nggak keruan. Setelah lima jam kami serasa dikocok dalam mobil, sekitar pukul 9 malam akhirnya kami sampai di Ruteng, kota kecil di tengah-tengah pulau Flores. Satu-satunya kota yang kami temui setelah menerobos jalanan berbukit-bukit dan hutan selepas dari Bajo. Sempat kami berpikir untuk nekat melanjutkan perjalanan, namun sayangnya kondisi si mobil matic yang overheat gara-gara dipaksa ngebut di tanjakan selama berjam-jam akhirnya memaksa kami berubah pikiran dan bermalam di Ruteng. Well, esoknya kami bersyukur mengambil keputusan untuk menginap di Ruteng, karena ternyata jalanan paling ekstrem sudah menunggu di Timur Ruteng.

Saturday, January 16, 2016
23:24 WITA. Kami sedang berada di atas kapal ferry Lombok-Sumbawa. Ini kapal ferry ketiga yang kami naiki hari ini, setelah ferry Jawa-Bali dan kemudian Bali-Lombok. Masih ada satu jam lagi sebelum kapal berlabuh di Pelabuhan Pototano, Sumbawa. Tika dan Friska menggelar sleeping bag di atas dek kapal dan kemudian tewas di bawah bintang-bintang dan bulan purnama. Rezky dan Om Candra sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Mereka partner jalan gue kali ini, manusia-manusia yang baru saling bertatap muka untuk pertama kalinya pagi tadi.

Meet-up di Terminal Ubung tadi pagi, kami berempat, gue, Friska, Tika, dan Rezky, berencana overland jauh ke timur hingga Pulau Flores. Rencana awalnya kami berniat bus jumping dengan rute Denpasar-Mataram-Bima-Sape-Labuan Bajo-Ende. Tapi entah gimana ceritanya ternyata Tika dan Friska dapat tebengan dari Om Candra, manusia yang nggak sengaja kami temukan di Terminal Ubung. Si Om berencana mengantarkan mobil milik bosnya ke Kupang sendirian. Buta peta, buta arah, dan butuh teman di perjalanan, butuh gantian nyetir. Akhirnya berkat sepik-sepik mereka, jadilah kami berempat hitchhiking nebeng si Om. Nggak tanggung-tanggung, setelah sedikit rembukan akhirnya kami putuskan untuk nebeng sampai Ende. Menurut Google Maps jarak dari Denpasar ke Ende di Flores itu 1093 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 3 hari! Gue pernah beberapa kali hitchhiking nyetop truk, mobil barang, bahkan motor, tapi baru kali ini ngerasain hitchhiking sampai sejauh itu, haha.

Dan, well, satu hari sudah terlewati dari perkiraan 3 hari overland ke Ende, dan sejauh ini masih fine-fine aja. Entah bagaimana nanti kedepannya. Masih ada 10 hari lagi kami harus bersama dan siapa bisa jamin kami bakal cocok dengan karakter masing-masing. Manusia memang makhluk sosial, tapi kalau bareng terus setiap saat dari bangun pagi sampai mau tidur lagi, pasti bakal muncul juga rasa jenuh. Well we'll see.

By the way sore tadi temen-temen kost gue ngevideo call, nanyain gue ngilang kemana. Gue memang pergi nggak pamit sama mereka, kabur begitu saja. Faktanya emang gue lagi males pamer-pamer mau jalan, dan nggak ada yang tau gue mau pergi kemana. Mereka tanya kapan balik, lagi pada pesta rambutan, nyuruh gue cepet-cepet pulang. Ngebayangin masih 11 hari lagi nggak ketemu mereka, seketika setengah hati gue pengen balik pulang, haha. Walaupun seringnya nyebelin gimanapun juga gue akui they DO care. Belum 24 jam gue ngilang mereka udah nyariin. Well, sometimes some people just love to pretend to care but in fact youre not worth even for 1 minute of their precious time. Some people just love to tell you they care but failed to understand that caring is about what they do, not what they say. If you're not worth a minute of their time, then they're not worth to stick around on your life time. That's the basic rule.

Okay skip that. Anyway sebenernya gue nyadar posting ini rada gaje, almost pointless. Tapi gara-gara seseorang sukses bikin gue janji buat nulis next trip gue di blog ini akhirnya mau nggak mau gue bakal sering posting tulisan gaje selama trip kali ini. Well, a promise is a promise. So see ya.
Sunday, December 27, 2015


It seems i'm on a strange yet familiar situation right now. Late night at a small bus station, people is gazing curiously. Should be in hurry to catch time to meet some people 193kms away from here, but still, i'm sitting here blogging.

Tahun 2015 tinggal 5 hari, dan dalam 365 hari terakhir gue baru posting 3 kali di blog ini. Krik.. Ketika kerjaan kamu sehari2 menulis menulis dan menulis laporan, makalah, slideshow, dan kawan-kawannya, bisa dipastikan selera ngeblog kamu bakal menguap.

And it takes night like this for my bloging mood to come.

By the way, sometimes a tought slip pass through my mind. I wonder how can people live in this dull bored world. Crap TV shows, joke political news, showing-off lifestyle, people just love being smart-ass even on things they dont really know. Some say "anyone who judges you by the kind of car you drive or the shoes you wear isn't someone worth impressing", but hey, what can you do if you live on that kind of society? After all, dull is dull. Bank loan to effort your brand new car is silly, especially when there's only Rp 4 millions are written on your payroll. But that's the kind of society i live on. The silly one.

And then, word " friend" in dull world means break promise easily, pretend to care but not care enough, being nice in front of you but talks about you behind the door, etc etc etc.

Ah sudahlah. Sebenernya gue cuman mau posting tentang betapa ngaconya perjalanan gue kali ini. Selama ini, tiap ngetrip gue selalu main cantik. All out nyusun itinerary yang high precision, koleksi puluhan kontak penginapan dan transportasi, menghitung budget sedetail mungkin, dan yang pasti paling anti ngetrip di musim hujan karena pemandangan dengan langit mendung atau berawan tanpa warna biru nggak sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Tapi kali ini gue bener-bener skip itu semua. Overland sampai 11 hari kedepan tanpa rencana, tanpa bayangan gimana-gimananya nanti, tanpa kebayang budget berapa, bener-bener tanpa persiapan apa-apa.

And the crazy thing is the idea just came out last night, with some strangers i just know last night, and now here i am, waiting for next bus to start the journey.

My domestic friends would call it crazy but fortunately i've had enough listen them talking for now. Believe it or not, sometimes strangers are better than friends on understanding, keeping promises, and accept you the way you are.

Well then, the bus is waiting. See ya.
Saturday, December 26, 2015

Dari sekian banyak blog yang gue baca tentang Gili Labak, nggak ada satupun yang bilang tempat ini jelek. Well, apa bagusnya sih Gili Labak? Okay, pasirnya putih dan halus, lautnya punya gradasi turquoise dan biru, dan pantainya cukup landai untuk bermain air. Tapi nggak ada yang "wow". Disana gue lihat tumpukan sampah dimana-mana, semak-semak yang rusak karena dijadikan camping ground, populasi terumbu yang rusak. Belum lagi dua puluh (iya, dua puluh!)  kapal  berjejer-jejer melempar jangkar yang merusak terumbu dan memenuhi pulau sekecil itu dengan pengunjung sebanyak mungkin. Itu belum termasuk "snorkel set" yang hanya life vest dan masker, kapal penangkap ikan tua yang tanpa tangga, tanpa layar, tanpa atap, dan diisi penumpang sepenuh mungkin sampai overload. Semacam masyarakatnya belum siap untuk menjadi tuan rumah dari sebuah tempat wisata.  

Seinget gue, jaman-jamannya travelling belum seramai sekarang, gili labak itu destinasinya orang-orang setengah gila yang nggak puas dengan destinasi-destinasi mainstream yang gampang dicapai. Seinget gue dulu nyari kapal sewaan untuk menyeberang ke sana rada susah dan mahal. Well, thanks to facebook, instagram, path, dan sosial media lainnya yang bikin trend upload profile picture pas lagi travelling itu jadi wajib. Jadi makin banyak orang yang tetiba jadi "backpacker", yang membuat obyek-objek wisata alternatif jadi makin terekspose. Alhasil makin banyak yang tau, dan ujung-ujungnya akses transportasi lebih gampang dan budget jadi lebih ramah di kantong.

By the way, Gili Labak itu sebuah pulau kecil di selatan Madura. Saking kecilnya, dijamin kalian bakal kesulitan menemukannya di Google Maps.

Tuesday, August 4, 2015

Belakangan ini gue lagi doyan bikin planet. Iya bikin planet, kegiatan buang-buang waktu yang sekarang lagi naik daun. Makin kesini yang namanya fotografi memang makin complicated. Kalau jaman kamera SLR analog dulu sih viewfinder dengan refleksi cermin dari SLR memang harga mati untuk mengetahui hasil foto secara instan. Tapi kalo sekarang, nenteng kamera DSLR, ngintip viewfinder sambil ngerasa keren, dan jepret pake "programmed auto" sama dengan alay. Jaman sekarang sudah ada teknologi yang bernama Crystal Bright LED dengan resolusi High Definition terpasang pada tiap-tiap kamera DSLR dan para alay masih percaya bahwa ngintip viewfinder bisa menghasilkan gambar yang lebih bagus. Maksud gue, Single Lens Reflect alias SLR itu teknologi 30 tahun yang lalu, sekarang sudah ada teknologi mirrorless yang menggantikan cermin untuk viewfinder dengan layar LED sehingga kamera bisa lebih ramping, jadi meng-alay dengan viewfinder ketika memotret panorama atau objek tunggal yang nggak bergerak itu bukan lagi keren, tapi lucu.

Baiklah gue ngelantur, mari kembali ke topik. Makin maju teknologi, fotografi pun semakin beragam. Nggak melulu bergantung kepada DSLR dan lensa, sekarang ada yang namanya Phone Photography, Drone Photography, dan teknik-teknik fotografi dengan software semacam HDR, The Return of Black and White, dan banyak lagi, sampai yang rada nyeleneh macem bikin planet tadi. Gue sih bukan fotografer atau maniak fotografi, tapi nggak ada salahnya nyoba-nyoba.
Tuesday, January 20, 2015

Okay, judulnya rada kurang. Yang bener itu "Anak Krakatau", karena Gunung Krakataunya sendiri sudah meletus dan hilang sejak 1883. Tapi disini gue sebut Krakatau saja biar lebih simpel.

Biasanya, secara umum ada dua tipe backpacker. Backpacker aliran pantai, dan satu lagi backpacker aliran gunung.  Biasanya kalo sudah jatuh cinta sama pantai, cenderung malas naik gunung. Dan sebaliknya, buat backpacker aliran gunung, pantai itu dimana-mana kelihatan sama saja. Gue sendiri sih termasuk aliran pantai, yang nganggep tiap-tiap pantai itu punya nuansa yang berbeda-beda, walaupun karakternya sama.

Nah kalau orang-orang denger nama Krakatau, yang dibayangkan pasti gunung tinggi yang berada di antara Pulau Jawa dan Sumatera. Tapi kalo para backpacker denger nama itu, dua-duanya, baik aliran gunung ataupun pantai bakal sepakat: Krakatau itu bukan gunung, tapi pantai. 
Loh kok bisa?
Saturday, November 22, 2014

Itu dia puncak yang harus kami taklukkan malam ini. Kelihatan deket? Nyatanya enggak. Untuk standar anak rumahan seperti gue, mungkin ini salah satu tantangan fisik paling menantang yang pernah pernah gue hadapi. Sebenernya, walau bagaimanapun, kalo dilihat dengan mata sih rasanya nggak ada yang salah dengan jaraknya, atau kondisi jalannya. Perkiraan saya, paling cuma 4 atau 5 kilometer. Dengan kondisi normal sih jarak segitu nggak bisa dibilang jauh-jauh amat.  Tapi beda cerita kalo dijalani pada tengah malam gelap dengan suhu udara yang dingin mengigit, dengan kondisi jalan yang terus menanjak dengan curam diantara dua tebing, serta tiupan angin yang keras dan berpijak pada batu-batu lepas yang siap membenamkan kaki kita sedalam 15cm.


Thursday, August 29, 2013

Beberapa hari setelah lebaran kemaren saya akhirnya naik juga ke Rinjani. Agak nggak percaya juga sih bisa secepat ini dapet kesempatan ke sana. Sebenernya waktu ke Lombok beberapa bulan yang lalu saya sudah sempat mikir, suatu hari bakal menyisihkan waktu buat menaklukan puncak Rinjani, yang waktu itu cuman bisa saya lihat dari kejauhan. Tapi nggak secepat ini. Eh ternyata kemarin dapet ajakan untuk naik, yasudah sekalian saja menuntaskan keinginan tersebut.

Wednesday, August 28, 2013

Kalau ngomongin penggunaan istilah '3 Gili' di Lombok, orang-orang pasti langsung teringat sama Gili Trawangan yang tersohor itu. Iya, Gili Trawangan, bersama dua tetangganya Gili Meno dan Gili Ayer, saat ini sudah menjadi ikon baru pariwisata Indonesia Timur sebagai 'The New Kuta', tempatnya orang bebas berjoget dan mabok di jalan raya, party tiap malam, dan nyimeng tanpa harus sembunyi-sembunyi. Kuta is so yesterday, untuk orang-orang itu.
Buat saya sih, Gili Trawangan is so last year malah :p Kali ini saya mau cerita tentang tiga Gili (pulau) yang lain di Lombok. Iya, ada tiga gili lain yang menjadi tujuan alternatif para backpacker yang jenuh sama sumpeknya ketenangan palsu di tiga gili sebelumnya. Meskipun di Gili Trawangan dkk tidak diperbolehkan ada kendaraan bermotor, namun tetap saja suasananya masih kurang begitu nyaman karena banyaknya bangunan hotel, resort dan kafe yang memenuhi setiap meter persegi pulau tersebut. Dan itu nggak cukup tenang untuk kami. We want more!

Dan akhirnya saya temukan ketenangan itu di tiga buah pulau privat yang bernama Gili Nanggu, Gili Sudak, dan Gili Kedis. Berbeda dengan tiga gili sebelumnya, tiga gili yang ini adalah pulau privat, yang berarti dimiliki oleh satu pemilik dan tidak ada penduduk yang menetap di sana. Jadi aman dan nyaman terlindungi dari yang namanya party, dugem, dan modernisasi lainnya.


How to Get There?

Saturday, June 1, 2013


Buat yang berencana eksplore Lombok dari ujung ke ujung en butuh itinerary, ini dia perbekalan saya sebelum berangkat kemarin. Monggo dicontek..

ITIN LOMBOK

Day 1
Pagi  - 11:00  Go to Mataram - Cakranegara, cari penginapan, sewa motor/mobil
Pagi  - 15:00  Gili Nanggu dkk via Sekotong, Pelabuhan Tawun
16:00 - 18:00  Pantai Mekaki dan sekitarnya
18:00 - Malam Balik ke Mataram

Day 2
09:00 - 12:00  Taman Narmada, Pura Lingsar, Taman Mayura
12:00 - 13:00  Check out hotel
13:00 - 15:00  Pura Batu Bolong, Makam Batu Layar
16:00 - 17:30  Sunset di Senggigi
18:00 - malam Balik ke Mataram, booking taksi buat besok

Day 3
07:00 - 08:00  Berangkat ke Bangsal naik taksi
09:00 - 10:30  Nyebrang ke Gili Trawangan, cari penginapan n rental sepeda
10:30 - sore    Ikut public snorkling ke gili-gili lain (public cuma ada jam segitu, kalo telat harus sewa privat boat!)
16:00 - 17:00   Balik ke penginapan, bilas
17:00 - malam Mengelilingi pulau pake sepada, jalan-jalan malam

Day 4
08:00 - 09:00   Nyebrang kembali ke Lombok
09:00 - 15:00   Dari Bangsal dijemput supir langsung ke Sendang Gila n Tiu Kelep
15:00 - 17:00   Balik ke Mataram via Senggigi, sunset di Bukit Malimbu/Pantai Nipah
18:00 - malam Balik ke Mataram

Day 5
Seharian: suku sasak-kuta-pntai mawun-mawi-segara beach-tanjung aan

Day 6
Seharian: eksplore Lombok Timur, Tj Ringgit, Tangsi/Pink, Kaliantan, Teluk Ekas, Pantai Surga

Day 7
Cari oleh-oleh di sekitaran Cakranegara, pulang




Penginapan Dll
Mataram:
Wisma Nusantara 2 (Jl Beo no 10-12 Cakranegara, (0370) 634698, Fan 90rb - AC 125rb)
Hotel Ayu Jaya (Jl Subak 1 Cakranegara, 087864361363, Fan 80rb AC 120rb)
Oka Homestay (Jl Repatmaja Cakranegara, (0370) 622406, 80rb, sedia sewa motor)
Arca & Arca 2 Hotel (Jl Garuda 4 Cakranegara (0370) 634798, Fan 150rb AC 200rb)
atau sekitar Cakranegara banyak bgt homestay

Sengigi:
Sonya Homestay (Jl Raya Senggigi no 54, (0370) 693447
Sekitar situ banyak homestay

Kuta:
Home Stay Mandalika 081936731720 (Agus)
Sekitar Kuta banyak homestay

Lombok Timur:
Wisma Karina (Jalan Pejanggik No. 67, Kota Selong. 60rb-125rb)
Erina Wisma Selong (Jl Pahlawan 164, Kota Selong, +62.376.21297)

Gili Trawangan:
penginapan coral voice; dengan mawi 087864457778
atau yg lain banyak bgt


Rental motor:
NAYAKA ARARYA RESWARA 081615450202
Di belakang Hotel Lombok Plaza jg ada

Rental mobil:
LTO Tour 081237812222, 087865211333
Mahardika Travel: sms 081 907 1111 89 telpon 0370-6673444 (office)
Metta 081915946007

Kalo butuh peta lokasi-lokasinya, tuh diklik aja gambar di atas. Itu peta wisata Lombok yang sudah saya lengkapi selengkap-lengkapnya. Yang difont biru en digarisbawahi biru itu tempat-tempat yang wajib dikunjungi.

Untuk FRnya nanti saya bahas satu-satu di posting-posting berikutnya. Seperti biasa, ujung-ujungnya nggak persis sesuai itin sih, tapi rada-rada kena laah.

Okay then, selamat menjelajah! ;)

Tuesday, May 28, 2013


Entah sudah berapa lama saya tinggal di Bali, tapi malah baru tahu tentang spot snorkeling yang satu ini. Iya sih memang, Pulau Menjangan ini baru mulai booming menjadi salah satu tujuan utama bagi para pecinta bawah laut. Sebelumnya sih saya cuma mengenal pulau yang berada di utara Pulau Bali ini sebagai tempat peribadatan umat Hindu di Bali. Masyarakat di sini biasanya cuma sekedar menyeberang ke pulau ini untuk mengunjungi pura yang ada di sana. Siapa sangka ternyata di bawah laut yang biasa mereka lewati  terdapat salah satu pemandangan bawah laut terindah di Indonesia.

Akhir bulan April kemarin akhirnya saya berkesempatan untuk mengintip sedikit keindahan bawah laut pulau itu. Kali ini saya nemu partner di forum yang kebetulan pengen ke sana. Mereka saja bela-belain datang dari Jakarta cuma untuk pergi ke pulau ini, masa iya saya yang tinggal di Bali malah nggak pernah ke sana. Jadilah kami janjian, kopdar, dan kemudian berangkat bareng.
Wednesday, May 22, 2013



Hari ketiga di Makassar kami habiskan untuk island hopping di kepulauan di dekat kota.

Ini yang menurut saya sangat menarik dari Kota Makassar. Di dekat pusat kota ada kepulauan! Kok bisa? Iya, kota ini memang berada di pinggir laut. Dan di laut di sekitar situ terdapat kepulauan yang bernama Spermonde, dengan 11 pulau kecil yang bisa dikunjungi.

Untuk island hopping pun caranya sangat mudah. kita tinggal menyeberang jalan dari depan Benteng Fort Rotterdam. Ada dermaga kecil di sana, yang penuh dengan kapal nelayan yang bisa disewa. Di perairan sekitar situ terdapat banyak pulau kecil yang bisa dikunjungi. Banyak yang padat penduduknya, namun ada juga pulau-pulau kosong yang masih alami. Pulau Samalona dan Pulau Kayangan misalnya. Kedua pulau tersebut hanya memilik luas 3-5 hektar, tapi penduduknya padat banget. Untuk pulau kosongnya, ada Pulau Kodinareng Keke, yang ukurannya hanya 10 menit mengelilingi pulau dengan berjalan kaki.
Saturday, May 18, 2013

 Pasirnya yang kayak tepung


Hoaahmm.. Penyakit males ngeblog gue saya kambuh lagi. Padahal posting tentang Makassar kemaren aja belom selesai. Belum lagi koneksi semarpret congex yang klaimnya unlimited ternyata sekarang sudah dibatasi pake fup (Free Usage Policy) alias batas pemakaian normal. Itu artinya untuk paket standar kita cuma bisa internetan dengan agak nyaman sampai 2GB/bulan. Setelah itu, siap-siap aja nahan diri buat nggak misuh-misuh, karena buka Google aja sering nggak konek. Kalo lagi promo aja berkoar-koar, i hate slow lah, ini itu lah. Tapi kalo ada perubahan yang merugikan konsumen, serasa disembunyikan banget. Apa sih susahnya kasih sms notifikasi kalau ada perubahan aturan paket? Sms-sms promo ngiklan yang rada spam aja bisa, masa untuk notifikasi yang penting nggak bisa. Huh.

Skip it. Langsung aja deh, berhubung di posting sebelumnya saya sudah terlanjur ngomong mau upload foto-foto di Bira, jadi biar nggak dibilang janji-janji palsu saya upload aja foto-foto ini walaupun dengan susah payah gara-gara koneksi yang nggak memadai. Intinya, ini aja nih yang saya dapat selama setengah hari di Tanjung Bira kemaren.

Sekitar jam setengah 6 pagi saya sudah mangkal di warung di tepi pantai Bira. Bira yang Tanjung Bira di Sulawesi Selatan loh ya, bukan Pulau Bira di Kepulauan Seribu. Niatnya sih mau mantengin sunrise, tapi ternyata langit lumayan mendung. Akhirnya saya cuma ngopi-ngopi sambil ngobrol basa-basi sama pemilik warung dan nelayan-nelayan di sana, dilanjut jepret-jepret foto seadanya, kemudian balik kandang untuk tidur lagi.


sunrisenya gagal


Bangun-bangun ngelihat keluar jendela, ternyata hujan! Hadeeh, waktu yang cuma setengah hari dipotong lagi buat nunggu hujan reda. Ya sudahlah. Yang penting, begitu hujan reda sekitar pukul setengah sembilan pagi kami segera keluar dari penginapan dan, byurr, langsung nyebur, hehe. Maklum sejak semalam kami sudah nggak sabar untuk mencicipi air pantai ini :D Sebenarnya cuaca nggak begitu bagus sih. Masih rada mendung, dan pasirnya juga masih basah setelah terguyur hujan tadi pagi. Tapi hal itu sama sekali nggak mengurangi indahnya pemandangan di pantai ini. Bibir pantainya yang sangat-sangat landai membuat lautnya jadi nggak berombak. Bahkan hampir nggak ada riak-riak air yang besar. Sejauh mata memandang cuma ada air laut yang tenang dan jernih, pasir pantai yang berwarna cokelat muda mendekai putih, dan dasar laut yang berwarna turquoise yang terlihat jelas. 


 TSnya pose dulu, biar ga dibilang hoax :p


Pantainya landai, perfect buat main air

Di pinggir pantai banyak terdapat kapal-kapal nelayan dan speedboat, serta banana boat yang bisa disewa. Sementara di sepanjang pantai berdiri warung-warung semi permanen tempat warga lokal berjualan. Untungnya hari itu bukan hari libur, jadi suasana di pantai ini sangat sepi, hanya ada beberapa pengunjung lain selain kami.


Suasana Pantai Bira


Setelah puas mencicipi pantai, kami segera mencari kapal nelayan untuk disewa. Rencananya kami akan sedikit berlayar, ke pinggiran Pulau Liukang untuk snorkling. Katanya sih spot terbaik untuk snorkling di daerah ini ada di sana. Oiya, di sekitar Tanjung Bira ini ada beberapa pulau yang bisa dikunjungi, seperti Pulau Liukang dan pulau saudara ente, alias Pulau Kambing :)) Untuk menyebrang ke pulau-pulau itu biasanya harus menyewa kapal nelayan atau speedboat. Kapal nelayan jelas pilihan yang bijak, karena selain murah, kapal nelayan juga bisa memuat sampai 8 orang. Perjalanannya juga nggak terlalu jauh, sekitar 20 menit untuk sampai di Pulau Liukang. Setelah tawar menawar dengan nelayan di sana menggunakan trik jual mahal dan sok-sokan nggak jadi nyeberang, akhirnya kami dapat harga 200ribu untuk satu kapal pulang-pergi ke Pulau Liukang. Kami sewa kapal dari Bpk Bilkih, pemilik kapal nelayan yang namanya Salamatta. Kontaknya 081253592352. Jadi kalau suatu saat anda-anda sekalian butuh kapal di Bira, atau penginapan, hubungi saja si bapak ini. Bukan promosi yaa, ini cuma ngiklan #eh.

Singkat cerita, kami menghabiskan waktu sekitar 2,5 jam snorkling di pinggir Pulau Liukang. Bawah lautnya bagus, lumayan worthed untuk jadi tempat kubangan berlama-lama. Bahkan ada satu dua spot yang bagus banget, yang terumbu karangnya besar-besar dan hidup, berwarna-warni. Sekelas Karimunjawa lah..


Untuk Pulau Liukangnya sendiri kami nggak mampir, karena nggak kelihatan terlalu menarik. Dan kami juga nggak punya cukup banyak waktu untuk dihabiskan di sana. Sayangnya selama berlayar dan snorkling saya nggak berani mengeluarkan kamera, gara-gara laju kapalnya terlalu ngebut sehingga menyebabkan ombak sampai pecah berterbangan masuk ke kapal.

Kembali dari snorkling, kami sempatkan sejenak tiduran di pantai. Kami ambil posisi di sebuah spot yang terlindung di balik tanjung-tanjung kecil, sehingga nggak terlihat dari pantai. Serasa punya pantai pribadi :p Makin siang, pemandangan di pantai ini makin bagus. Lautnya makin terlihat biru jernih, dan langitnya pun membiru tajam membentang sejauh mata memandang.



Sayangnya nggak seberapa lama, kami sudah harus kembali ke penginapan.Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Rencananya satu jam lagi jadwal kami pulang ke Makassar. Sebenernya masih pengen lebih lama lagi, tapi kami rada kesian sama si supir plat kuning. Sepagian tadi sih akhirnya si spoir ikut kami mandi-mandi en snorkling. Sekalian nunggu kami balik ke Makassar katanya. Kami sih oke-oke aja, malah seneng, jadi nggak repot-repot naik pete-pete ke Bulukumba dulu. Akhirnya kami putuskan setengah dua siang balik ke Makassar.

Well, sebenarnya masih banyak spot-spot lain yang bisa dikunjungi di daerah Tanjung Bira ini. Ada Pantai Bara, Pantai Bira Timur, dan sentra pembuatan Perahu Phinisi. Tapi karena kami tahu diri, cuma punya waktu efektif setengah hari untuk menyicip Tanjung Bira ini, jadi kami ikhlaskan saja spot-spot tadi. Cukup memandangi pantai-pantai itu dari jauh saja. Next time lah ya.

Pantai Bira Timur dari kejauhan

Monday, May 6, 2013

Pernah denger Tanjung Bira? Pernah lah yaa. Sebuah tanjung di ujung selatan Sulawesi,  yang terkenal dengan pasir pantainya yang selembut tepung. Sekitar 6 jam perjalanan darat dari Makassar. Waktu trip ke Makassar kemarin saya sempat mampir untuk sekedar ngecek apakah pasirnya bener-bener selembut itu.

Well, kalo ngomongin transportasi dari Makassar ke Tanjung Bira, bisa dibilang susah-susah gampang. Sebenarnya nggak susah mendapatkan transportasi umum ke arah Bira. Yang susah itu ngatur waktunya. Apalagi kalau flashpacking, alias trip yang nggak punya banyak waktu seperti saya. Rencananya kami berangkat sesore mungkin dari Makassar, jadi sampai di Bira tengah malam. Besok paginya eksplore daerah sana sebentar, kemudian siangnya langsung kembali ke Makassar lagi.

Secara umum sih ada 3 opsi transportasi untuk menuju ke Tanjung Bira.
Pertama, dengan menggunakan kendaraan pribadi, atau mobil sewaan. Yang ini paling praktis, tentunya. Selain lebih nyaman, waktu perjalanannya juga fleksibel, bisa berangkat kapan saja. Tarifnya berkisar antara 300-500ribu per mobil, tanpa bensin. Untuk rutenya gampang banget, tinggal mengikuti jalan poros sampai ke Bulukumba, kemudian dilanjutkan dengan mengikuti jalan ke arah Bira. Hanya saja hati-hati kalau mau jalan malam, karena jalanan yang masih sepi dan rawan kriminalitas. Waktu paling tepat sih sekitar jam 3 pagi berangkat dari Makassar, karena lebih aman, nggak buang waktu, dan masih cukup pagi ketika sampai di Bira. Pilihan ini paling cocok untuk traveler yang punya rombongan banyak dan waktu yang mepet. Kalo naik motor sih nggak recomended ya, karena jaraknya yang jauh sekitar 200km dari Makassar, kondisi jalan yang nggak enak buat biker, dan juga pom bensin yang jarang-jarang.

Opsi kedua, bisa naik Bus tujuan Selayar. Ini juga lumayan praktis, karena bus ini berangkat dari Makassar dan menyberang ke Selayar lewat Pelabuhan Bira. Jadi bisa langsung turun di Bira. Waktu tempuhnya pun on time, karena memang bus harus mengejar kapal ferry ke Selayar. Jadi pasti tepat waktu. Sayangnya bus menuju Selayar punya jam operasional yang kurang bersahabat, yaitu cuma 1 kali sehari, dan berangkat pukul 10 pagi dari Terminal Malengkeri Makassar. Dengan jarak tempuh sekitar 5-6 jam, bisa dipastikan bakal buang waktu siang hari di jalan. Tarif busnya sendiri sekitar 70-100ribu. Untuk kalian yang punya banyak waktu sih pilihan ini yang paling mudah, murah, dan nyaman.

Opsi ketiga, naik angkutan umum plat kuning dari Makassar ke Bulukumba, dilanjutkan dengan pete-pete dari Bulukumba ke Bira. Angkutan umum ini sebenarnya mobil biasa yang dijadikan angkutan umum. Biasanya Xenia atau Avanza, dengan plat kuning. Jadi semacam travel tapi nggak pakai tiket gitu. Mobil-mobil plat kuning ini banyak mangkal di pinggir jalan sekitar Terminal Malengkeri, dari pagi sampai sore. Opsi ini paling cocok untuk solo traveler atau mereka yang rombongannya cuma 2 atau 3 orang, karena lebih murah daripada rental mobil sendiri. Sayangnya untuk plat kuning ini, jadwal berangkatnya rada goyang, karena akan ngetem menunggu penumpang sampai mobil penuh. Atau bakal sering berhenti di jalan, mencari penumpang. Dan lebih parah lagi, kalau penumpangnya dikit, bisa-bisa batal berangkat. Jadi kalau mau pilih opsi ini musti pinter-pinter berhitung dan ngatur waktu. Karena plat kuning ini biasanya cuma mengantar sampai Bulukumba, sedangkan pete-pete dari Bulukumba ke Bira diatas jam 4 sore sudah jarang. Estimasi perjalanan ke Bulukumba sendiri memakan waktu 5 jam. Efektifnya sih kita standby sepagi mungkin di Terminal Malengkeri, agar bisa ikut plat kuning pertama yang berangkat. Atau kalau nggak punya banyak waktu dan pengen jalan malam, bisa juga datang sekitar pukul 5 sore ke Terminal Malengkeri, dan pastikan kita naik plat kuning yang sopirnya asal Bira, jadi waktu sopirnya pulang ke rumah, bisa sekalian nebeng sampai Bira. Kalau nggak dapat plat kuning yang sopirnya asal Bira, bisa juga kita nego ke supir untuk mengantar sampai ke Bira, seperti yang saya lakukan kemarin. Untuk tarifnya, penduduk lokal biasanya cuma bayar 35-50ribu sampai Bulukumba. Tapi untuk wisatawan dapat harga 60 ribu sampai Bulukumba masih termasuk standar lah. Tergantung skill nawar, karena memang nggak ada tarif yang fix.

Sore itu, pulang dari rammang-rammang pukul 15:30, kami baru sampai di Terminal Malengkeri sekitar pukul 17:30, karena jalanan lumayan macet. Begitu sampai di depan terminal, kami langsung diserbu oleh para supir plat kuning yang menanyakan tujuan kami. Iya, di depan terminal banyak plat kuning yang berjejer menunggu penumpang. Bukan hanya tujuan Bulukumba, tapi juga daerah-daerah lain. Dengan cepat kami bilang,
"Mau ke Bira, ada supir yg rumahnya Bira gak?"
Ternyata nggak ada, sepertinya kami kesorean. Untungnya ada salah satu supir plat kuning yang bersedia mengantar sampai ke Bira, walau dengan tambahan ongkos yang lumayan. Yah, daripada nggak ada kepastian, akhirnya kami terima tawaran itu, 100 ribu per orang, dari Makassar sampai Pantai Tanjung Bira, dengan pertimbangan hari sudah malam. Itung-itung biaya effort si supir yang tengah malam harus pulang kembali ke Bulukumba setelah mengantarkan kami sampai ke Bira.

Untungnya kami nggak harus menunggu lama karena mobil sudah penuh. Sekitar pukul 17:45 mobil pun berangkat.

Perjalanan kami dari Makassar sampai di Pantai Tanjung Bira memakan waktu 6 jam. Pukul setengah duabelas malam, mobil kami memasuki kawasan Pantai Tanjung Bira. Awalnya kami agak kuatir nggak dapat penginapan, karena memang kami belum booking terlebih dahulu. Tapi ternyata di kawasan pantai itu dipenuhi dengan penginapan.

Kami bermalam di Rutepar Guesthouse (085343643373). Tarif per malam penginapan ini adalah 200ribu untuk kamar fan, dan 320ribu untuk kamar AC. Sebenarnya di sana masih banyak penginapan lain yang lebih murah, sekitar 100-150rb semalam. Tapi karena letak guesthouse yang strategis dan privat (cuma ada 4 kamar yg berdiri sendiri-sendiri di guesthouse ini), dan jaraknya yang cuma 50 meter dari pantai, serta malam itu kami dapat harga bagus (200rb utk kamar AC) karena datang tengah malam, akhirnya kami pilih guesthouse tersebut.

And you know what, supir plat kuning yang mengantarkan kami sampai ke Bira tadi nggak berani pulang sendirian ke Bulukumba, karena sudah terlalu malam -___- Akhirnya si supir tadi bermalam juga di Bira.

Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, suasana di sana sudah mulai sepi. Saya masih menemani si supir ngobrol-ngobrol di depan kamar. Asri, itu nama si supir. Umurnya lebih muda dari saya, sekitar awal 20an, jadi lumayan bisa nyambung ngobrolnya. Kalau suatu saat kalian berniat pergi ke Bira dan butuh kendaraan, bisa kontak si Asri ini, nomornya 085387589694.

Bosen ngobrol-ngobrol, akhirnya kami keliling-keliling daerah sana. Ngintip-ngintip kehidupan malam di sana, hehe. Ternyata di salah satu sudut bukit kecil di atas pantai terdapat beberapa bar dan diskotik juga. Ecek-ecek sih, tapi lumayan buat yang mau nyicip dugem ala daerah pelosok :)) Kami sendiri nggak masuk ke diskotiknya sih, karena memang nggak suka hal-hal semacam itu.

Sekitar pukul 2 dini hari kami kembali ke penginapan. Sebenernya mata ini sama sekali nggak ngantuk, karena lumayan excited sama suasana malam harinya, dengan bintang-bintang yang kelihatan banyak banget, suara ombak yang berderu di kejauhan, serta aroma angin laut yang khas. Tapi karena nanti pagi-pagi sekali kami harus mengejar sunrise di pantai, akhirnya kami putuskan untuk tidur.

Cerita tentang Bira-nya bersambung ya, foto-fotonya di next post..

Friday, April 26, 2013
Siapa yang pernah dengar Rammang-Rammang? Bahkan supir angkot daerah sana pun nggak tahu. Apa itu taman batu karst? Apa itu potensi heritage dunia? Itu cuma tumpukan kapur yang sebentar lagi hilang, dieksploitasi menjadi bahan baku oleh pabrik semen.
Welcome to Indonesia!

Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah Bugis. Maklum newbie, hehe. Sebenarnya tujuan utama saya jelas, mengintip daerah bawah laut kepulauan di sekitar Kota Makassar. Dan kalau bisa sampai ke Tanjung Bira. Denger-denger sih lumayan banyak spot yang worthed untuk dipakai mandi-mandi. Snorkling gear sudah standby di dalam ransel, tinggal menunggu aba-aba untuk nyebur :D

11 April 2013, saya berangkat ke Makassar via Surabaya, sendirian. Nantinya sih bakal keliling-keliling berdua sama Kiki, teman yang berangkat dari Jakarta. Rencananya kami bertemu di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Dan kami cuma modal nekat, karena sama-sama baru pertama kali ke Makassar. Cuma berbekal itinerary kemarin, budget yang sangat-sangat mepet, dan sedikit kegilaan akan turquoise-nya lautan dangkal, putihnya pasir pantai, dan warna-warni terumbu bawah laut.

Bahkan sesaat sebelum landing saja, pemandangan laut lepas dan kepulauan kecilnya sudah memanggil-manggil. Indahnyaa..






Hehehe, stop. Sebenernya di sini saya bukan mau bercerita tentang laut. Tapi tentang Rammang-Rammang, sebuah dusun di perbatasan Maros - Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Sekitar 40 km di utara Kota Makassar. Lantas ada apa dengan dusun ini? Di dusun ini terdapat "taman" batu karst yang sangat luas. Tebing-tebing karst (kapur) berjejer membentang membentuk sebuah landscape unik yang jarang ditemui di tempat lain. Tebing-tebing karst ini diperkirakan terbentuk beberapa juta tahun yang lalu oleh aktivitas lempeng bumi yang bergeser.

Dan yang bikin spesial, konon katanya daerah ini adalah kawasan karst terbesar ketiga di dunia, setelah Kawasan Karst China Selatan dan Ha Long Bay Vietnam. Bedanya, kalau dua yang di luar negeri itu sudah jadi National Park dan jadi UNESCO World Heritage, kawasan karst Rammang-Rammang ini malah teronggok di tengah sawah, terlupakan oleh tuan rumahnya sendiri. Masa iya terlupakan? Baca deh FR saya, nanti kalian bakal ngerti.

Sekitar pukul setengah 11 pagi, kami ketemuan di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Tujuan pertama kami adalah Rammang-Rammang, karena memang letaknya berlawanan arah dengan Kota Makassar. Posisi bandara ada di tengah-tengah antara Kota Makassar dengan Rammang-Rammang. Kalau dari bandara ke kota kira-kira 20 km ke selatan, sementara dari bandara ke Rammang-Rammang sekitar 20 km ke utara. Jadi daripada bolak-balik ke kota dulu, lebih praktis kalau dari bandara langsung ke Rammang-Rammang.

Keluar bandara kami diantar ojek sampai jalan poros. Sebenarnya ada damri atau shuttle bus gratis dari bandara ke jalan poros/jalan besar, tapi karena nggak ingin membuang waktu menunggu bus kami pilih naik ojek saja. Sampai di jalan besar, kami naik pete-pete (angkot) jurusan Kota-Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Dari jalan besar ke Rammang-Rammang cukup naik pete-pete sekali saja, sekitar 30 menit sampai 1 jam. Dan jangan bilang ke sopir pete-pete, mau turun di Rammang-Rammang! Kenapa? Karena supirnya kadang nggak ngerti Rammang-Rammang itu di mana. Jadi?

Sekitar setengah jam dari bandara, pete-pete kami melewati daerah Maros. Di situ saya bilang pada supir pete-pete, "Turun di Rammang-Rammang ya pak".
Dan tau jawabnya? Si supir malah balik bertanya, "Rammang-Rammang itu dimana ya?".
Hah. Saya dan Kiki saling berpandangan. Nah loh, turun di mana dong?

Untungnya saya ingat pernah baca blog orang, turunnya di pertigaan pabrik semen Bosowa. Akhirnya saya bilang, "pertigaan semen Bosowa pak".
Dan si supir pete-pete langsung tau. "Ooh, iya mas", jawabnya.

Dari sini saya sudah rada heran, masa iya supir angkot di sini aja nggak tau Rammang-Rammang, karst terbesar ketiga di dunia?   

Sekitar pukul 11 lewat kami sampai juga di pertigaan pabrik semen Bosowa. Dari kejauhan sudah terlihat tebing-tebing karst yang berdiri megah. Berjajar rapi dari kiri ke kanan, menampilkan pemandangan yang nggak biasa.



Dari pertigaan ke dusun Rammang-Rammang masih berjarak 1,5 km lagi. Nggak jauh sih sebenernya kalau ditempuh dengan jalan kaki. Tapi lagi-lagi kami pilih ojek untuk menghemat waktu. Maklum, judulnya kan flashpacking, hehe. Kami putuskan untuk naik ojek langsung ke pinggir sungai, melewati taman batu yang membentang di sisi jalan. Iya, rencananya kami akan langsung menyusuri sungai dengan perahu dulu, baru nanti pulangnya mampir ke taman batu. Di pinggir sungai kami menyewa perahu unttuk mengantarkan kami menyusuri sungai.

Sebenarnya siang itu nggak ada warga yang mangkal menyewakan perahu. Semua warga sibuk bertanam di sawah. Tapi kami nggak menyerah begitu saja. Di saat-saat seperti inilah gunanya bergaul sama tukang ojek :p akhirnya tukang ojek yang mengantar kami jadi kesana-kemari keliling nyariin warga yang punya perahu untuk kami :D

Jadi kalo kalian-kalian ada rencana mau ke Rammang-Rammang, nggak ada salahnya untuk kontak ojek yang saya pakai, buat transport atau sewa perahu. Ini kontaknya 0853-9923-9516. Tarif perahunya standar Rp 100ribu.

Sambil nunggu perahu datang, kami ketemuan sama Ancha, momod forum sebelah, Backpacker Indonesia, yang biasa ngehost para backpacker di Rammang-Rammang. Sebenernya saya bukan anggota BPI sih, tapi siapa sih yang nggak mau dihostin, wkwk.

Bertiga kami naik perahu yang datang menjemput. Perahu kami pun berjalan perlahan menyusuri sungai. Menembus pelosok daerah itu, bersampan di antara tebing-tebing karst, dengan semak-semak nipah dan bakau berjejer menutupi pinggiran sungai, rasanya menyenangkan!

 

Akhirnya sampai juga kami di ujung sungai, di spot yang bagus untuk menikmati pemandangan. Spot ini tersembunyi  di antara tebing-tebing karst yang tinggi. Di sana kami berfoto-foto, menikmati suasana sunyi yang nyaman. dengan udara yang sejuk, pepohonan yang menghijau dan hampir nggak ada manusia selain kami, rasanya damai bangett.

Sekitar setengah jam kami berkeliling tempat itu, melintasi setapak-setapak rumput, melompati genangan-genangan air. Sayangnya langitnya nggak cukup bagus untuk foto-foto. Jadi kami foto seadanya aja. Puas berkeliling, kami kembali ke perahu untuk selanjutnya mengunjungi taman karst yang tadi kami lewati.



Lokasi taman karstnya sendiri nggak begitu jauh dari sungai. Taman karst ini terletak di antara sawah-sawah penduduk sekitar, jadi untuk mencapai taman karst itu kami harus melintasi pematang-pematang, melompati becek-becek genangan air dan tumpukan jerami.



 



Sayangnya sebelum sempat menjelajah lebih jauh, kami sudah harus kembali ke Kota Makassar. Jam sudah menunjukkan pukul 14:30, dan menurut itin sudah saatnya kami kembali. Sebelum meninggalkan dusun Rammang-Rammang, kami sempatkan mampir di sebuah warung makan di pertigaan pabrik semen. Di sana kami nyicip-nyicip salah satu masakan khas Makassar, yaitu Pallubasa. Oya, di depan warung itu kami juga bertemu Mba Ade, seorang solo traveler yang kebetulan juga pulang dari Rammang-Rammang. Berempat kami makan di warung itu sambil ngobrol panjang lebar. Nantinya sih Mba Ade bakal gabung jadi rombongan ke Pulau Samalona, tapi itu cerita nanti :D

Pukul 15:30 kami bubaran. Saya dan Kiki menuju Kota Makassar untuk langsung mengejar mobil ke Tanjung Bira, Ancha pulang ke rumah, dan Mba Ade mengejar bus ke Toraja. Iya, akhirnya kami putuskan untuk menggunakan itin versi Tanjung Bira saja. Sembari memandangi bukit-bukit karst yang menjauh, saya janji pada diri sendiri. Suatu saat saya bakal balik lagi, pasti.

Anyway, beginilah negara kita, potensi seperti Rammang-Rammang ini sama sekali nggak dingat. Siapa yang pernah dengar Rammang-Rammang? Bahkan supir angkot daerah sendiri pun nggak tau. Apa itu karst? Apa itu potensi heritage dunia? Itu cuma tumpukan kapur yang sebentar lagi hilang diolah menjadi bahan baku semen. Mungkin untuk negara kita, Rammang-Rammang cuma tumpukan batu kapur biasa, yang berpotensi jadi bahan dasar semen di pabrik semen Bosowa. Tempat ini memang bukan (atau tepatnya belum) menjadi tempat wisata resmi. Cuma dari mulut ke mulut saja. Dan saat ini memang justru anak-anak BPI yang gencar-gencarnya mempromosikan tempat ini melalui forum-forum domestik maupun mancanegara. Dengan harapan semoga saja suatu hari UNESCO atau siapapun, melirik potensi tempat ini. Bukannya durhaka atau gimana, tapi mau berharap sama pemerintah sendiri rasanya pesimis. Bahkan gosipnya pemerintah daerah sana sendiri sudah memberi lampu hijau pada pabrik semen untuk mengeksploitasi kapur di daerah sana sebagai bahan baku semen.

Fyuhh. Rada nyesek rasanya kalau suatu hari beli semen, yang ternyata dibuat dengan cara menghancurkan daerah karst terbesar ketiga di dunia yang penuh potensi berharga.
Saturday, April 20, 2013


Loh, 3 hari 2 malam kok dibilang Flashpack. Nggak salah tuh? Bukannya standar ya?
Hehe, yah kalo ngomongin travelling biasa, 3D2N rasanya cukup banget lah ya. Tapi beda cerita kalo travellingnya ke Makassar, terutama dengan tujuan Tana Toraja atau Tanjung Bira plus pulau-pulau kecil di sekitar kota dan city explore serta icip-icip makanan khasnya. Dengan 3D2N itu bakal padat banget. Kenapa? I'll tell u later :D  

By the way, nggak kerasa bulan April sudah setengah jalan. Padahal saya masih punya 3 target pribadi yang belum kesampaian untuk bulan ini: explore Lombok timur, Pulau Menjangan-nya Bali (bukan Menjangan yang di Karimunjawa ya),  dan Kepulauan di daerah Makassar.

Dan untuk target yang saya sebut terakhir, sebenarnya masih nggak ada bayangan sama sekali. Setau saya sih di daerah sana cuma ada Tana Toraja yang sudah populer. Lainnya, masih samar-samar. Pernah denger nama Tanjung Bira dan Selayar sih, dan kepulauan entah-apa-namanya yang katanya bagus. Tapi gara-gara bisikan racun seorang teman yang pernah ke sana, akhirnya saya masukkan Makassar sebagai salah satu list must-visit bulan ini :D

Makin saya googling sana-sini, baca-baca di forum sebelah, saya makin excited, haha. Makin banyak nemu nama-nama tempat yang wajib dikunjungi di sekitaran Kota Makassar. Bantimurung, Leang-Leang, Rammang-Rammang, Malino. Makin galau deh, harus kemana dulu. Setelah cukup banyak baca-baca, saya beranikan diri untuk hunting tiket. Akhirnya dapat tiket murah di weekday, yaitu tanggal 11 April. Sebenarnya sih sekitaran tanggal segitu saya sudah punya jadwal ke target satunya, yaitu explore Lombok timur. Tapi gara-gara racun dari teman saya tadi masih ngefek, akhirnya saya bela-belain membatalkan plan ke Lombok demi bisa secepatnya menyicip laut Makassar! Dan kebetulan juga ada teman, Kiki namanya, yang rencana ke Makassar juga sekitaran tanggal segitu. Lumayan lah, jadi nggak perlu jalan sendiri di tempat asing.

Okay, tiket sudah di tangan. Teman sudah ada. Sisanya tinggal melakukan hal yang paling menyebalkan ketika memulai travelling: menyusun itin! Apalagi dengan banyaknya list spot-spot yang harus dikunjungi hanya dalam 3 hari, pastinya butuh itinerary yang bener-bener akurat. Dan yang bikin seru (bikin pusing sebenernya), ada dua spot utama yang jaraknya saling berjauhan, yaitu Tana Toraja dan Tanjung Bira. Tana Toraja berjarak 8 jam perjalanan dari Kota Makassar ke utara, sementara Tanjung Bira berjarak 6 jam ke selatan dari kota. Itu artinya untuk bolak-balik Makassar-Toraja kami membuang waktu 16 jam di jalan. Kalau ke Tanjung Bira membutuhkan 12 jam di jalan. Padahal kami cuma punya 3 hari dipotong waktu tidur. Itu artinya kami harus memilih salah satu antara Toraja atau Tanjung Bira. Pilihan yang sulit :-/

Toraja, atau Bira. Toraja, atau Bira. Berhari-hari saya dan Kiki membahas pilihan ini. Berhari-hari pula kami berubah-ubah keputusan, hehe. Akhirnya, mau nggak mau saya terpaksa bikin dua versi itinerary. Versi Toraja, dan satunya lagi versi Tanjung Bira. Itin mana yang dipakai, on the spot saja lah keputusannya.

Setelah riset sana-sini, akhirnya jadi juga 2 itin tersebut.


Itinerary Makassar versi Tanjung Bira

Day 1
11:00 Meeting point at Bandara Sultan Hasanuddin.
11:30 Keluar Bandara, ke Rammang-Rammang dan Bantimurung (searah dengan Bandara)
12:30 Explore Rammang-Rammang, lanjut ke Bantimurung (kalo sempat)
15:30 Ke Kota Makassar, langsung ke Terminal Malengkeri utk cari plat kuning ke Bira
18:00 Perjalanan ke Bira
00:00 Sampai di Bira, cari penginapan, istirahat.


Day 2
05:00 Sunrise di Tanjung Bira, ke Pantai Bara, Pantai Bira Timur.
07:30 Explore pulau-pulau di Bira, snorkeling
12:00 Balik ke Makassar naik plat kuning
18:00 Sampai Makassar, cari penginapan
19:00 Night city explore, Pantai Losari, kembali ke Penginapan

Day 3
07:00 Nyebrang ke Pulau Samalona, Kodingareng Keke (Pulau kosong) 
13:00 Balik ke penginapan, bersih-bersih, mandi, checkout.
13:30 Ke Fort Rotterdam, Bantimurung (kalau pas day 1 nggak sempat)
18:30 Dari Bantimurung ke Bandara
19:30 Sampai di Bandara, pulang ke tempat masing-masing




Detail transport:

Day 1
Bandara - Jalan Poros (3km):
Damri (Rp 15ribu) atau Ojek (Rp 15ribu) atau Shuttle Bus (gratis)

Jalan Poros depan Bandara - Rammang-Rammang (20 km):
Angkot/pete-pete arah Pangkep (Rp 6000, 1 jam)

Rammang-Rammang - Bantimurung:
Ojek (tentatif) atau Angkot/pete-pete arah Pangkep (Rp 6000, 30 menit)

Rammang-rammang/Bantimurung - Kota Makassar (40 km):
Angkot/pete-pete arah Daya (Rp 6000, 1 jam)
Di Jalan Poros depan Bandara pindah angkot/pete-pete arah Kota atau Unhas (Rp 3000, 30menit)
Di Jl.Veteran atau Jl. Patterani pindah angkot/pete-pete ke arah Malengkeri (Rp 3000, 30 menit)

Terminal Malengkeri - Tanjung Bira (200 km):
Naik plat kuning ke Bulukumba (5 jam, tarif tentatif tergantung skill nawar. Orang lokal Rp 35rb-50rb)
Di terminal Bulukumba naik angkot/pete-pete ke arah Bira
atau
Naik plat kuning arah Bulukumba, pilih yang sopirnya asal Bira. Jadi bisa sekalian nebeng sampai Bira waktu sopirnya pulang)


Day 2
Tanjung Bira:
Sewa kapal nelayan ke Pulau (Rp 250rb)


Tanjung Bira - Makassar (200km):
Naik pete-pete ke Bulukumba (1jam)
Di Bulukumba cari plat kuning ke Makassar (5 jam, tarif tentatif tergantung skill nawar. Orang lokal Rp 35rb-50rb)
atau
Bus Selayar-Makassar (bus lewat Pelabuhan Bira pukul 10:00 pagi)

Dalam Kota Makassar (10km):
Rekomend naik ojek saja, soalnya ga tau jalur pete-pete :-p
Ojek dari Terminal Malengkeri ke Karebosi/Pantai Losari Rp 20rb-25rb


Day 3
Makassar - Pulau Samalona-Kodingareng Keke-Kayangan
Sewa kapal nelayan (Rp300rb-700rb tergantung pulau apa saja yg dikunjungi)

Makassar - Bantimurung/Bandara:
Tinggal kebalikan dari transport di day 1






Detail Penginapan di Bira:
Bira Beach Hotel: (0413) 2702034, (0413) 2589057
Wisma Bahari Indah: 085242549899
Penginapan Harapan Maju: 085255994640
Nusantara Cottage: 085255011345
Anda Bungalow’s:  (0413) 82125
Penginapan Reskiku: 081934407848
Penginapan Tanjung Bira: 085824635570, 081934407848
Penginapan Pasir Putih Bira: 08114201028
Kalubimbi Cottage: 085656456853


PS: Untuk kontak n tarif transport dan penginapan saya selama di sana, baca di next post yaa 



Nah kalau yang ini versi Toraja-nya.



Itinerary Makassar versi Toraja

Day 1
09:00 Booking motor di Toraja n bus ke Toraja
11:00 Meeting point at Bandara Sultan Hasanuddin.
11:30 Keluar Bandara, ke Rammang-Rammang dan Bantimurung (searah dengan Bandara)
12:30 Explore Rammang-Rammang, lanjut ke Bantimurun
17:30 Ke Kota Makassar, langsung ke pool Bus Litha utk bayar tiket bus
19:30 Keliling kota, night city explore
20:30 Balik ke pool Bus Litha, mandi, repacking
21:30 Naik Bus ke Toraja (bermalam di bus)


Day 2
06:00 Sampai di Rantepao (Toraja)
07:00 Cari sewa motor di Lapangan Bakti
08:30 Keliling Toraja (Lemo, Londa, Kete Kesu, Rante Karassik)
18:00 Balikin motor, balik ke pool bus, mandi, repacking
21:00 Naik bus, balik ke Makassar (bermalam di bus)

Day 3
06:00 Sampai di Makassar
08:00 Benteng Fort Rotterdam (kalo belum)
10:00 Pulau Samalona, Kodingareng Keke
17:30 Sunset di Losari
18:30 Naik bus Ke Bandara





Detail Transport:

Kota - Toraja (270km):
Bus Litha, jam 22:00. Pool: Jl Urip Sumoharjo KM 7 Makassar, Jl Gn Merapi 135 Makassar (130rb super eksekutif, 8 jam)

Rental Sepeda Motor di Kota Makassar (kalo butuh):
YASHA RENTAL 0411-5231 222, 0852 2202 2289
Prima Rental 0411-5246917, 082349775555
Bus Makassar - Toraja:
Bus Litha Makassar 0411-442263 (Jalan Urip Sumoharjo KM 7, Makassar) Jl Gng Merapi 135, Makassar Tlp +62 411 324847 , 311055
Jadwal: 08.00 AC Bisnis, 10.00 AC Super Eksekutif, 13.00 AC, 20.00 non AC, 22.00 AC Super Eksekutif

Bus Bintang Prima 0411-4772888 (Jalan Perintis Kemerdekaan Ruko Tello No. 22)

Bis Executive Alam Indah (0411) 586717

Manggala Trans +62411557788, +628114136377 Ruko BPS, Jl. Perintis Kemerdekaan KM. 18 No. 10, Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan.
Bus Metro Permai , 0411-582734 / 0411584015
Bus Charisma Transport, telepon 0411580808

Bus Liman telepon 0411 - 458405

Bus Tikulembang ,0411 – 5013031 atau 0411- 4722668

Bus Setuju , telepon 0411 -4722689

Bus Alam Indah,telepon 0411-586717

Bus Batutomonga telepon 085242373500

Bus Pelangi telepon 0411 – 5016878


Toraja - Makassar:
Bus Litha Rantepao 0423-21204 Jl Pahlawan, Rantepao Jadwal sama ky Makassar - Toraja

Bus Bintang Prima Rantepao 0423-21142 Jl. A Yani No. 100 Rantepao



Sewa Motor di Toraja:

Sewa motor Lebonna 0423-23520 (Jalan Monginsidi 102 Rantepao)



Begitulah, itu itin maksimal untuk flashpacking di Makassar selama 3D2N versi saya. Dikutip dari berbagai sumber sih, Insya Allah akurat :D Sekedar catatan, kalau mau pakai itin versi Toraja bakal sangat melelahkan, karena selama 2 malam tidurnya di bus. Jadi kebutuhan untuk istirahat, mandi, shalat, ngecharge hp dan kamera, dll juga perlu dipertimbangkan.

Well, cukup sekian dulu. Di posting berikutnya nanti saya ceritakan FR selama saya di sana. See ya!
Wednesday, April 17, 2013
rei@2015